Kumparan Logo
Konten Media Partner

Bagaimana Mahasiswa UGM Menjalani Samsara Lewat Sebuah Orkestra

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 9 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Benawa Java Permadi saat memberi sambutan pembuka. Foto: Dok. GMCO
zoom-in-whitePerbesar
Benawa Java Permadi saat memberi sambutan pembuka. Foto: Dok. GMCO

Ketika lagu terakhir, My Way dari Frank Sinatra selesai dimainkan, satu per satu nama dipanggil ke depan panggung.

Sebagai Project Manager Grand Concert Vol. 12, Benawa Java Permadi berdiri di samping Ketua Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO), Medha Safia. Bergantian, keduanya menyerahkan bunga kepada para pemain, penari, paduan suara, dan para kolaborator yang selama berbulan-bulan ikut membangun pertunjukan itu. Penonton bertepuk tangan.

Di tengah prosesi tersebut, Benawa tampak paling sulit menyembunyikan perasaannya. Ia tetap tersenyum, tetapi matanya tampak seperti mata yang belum selesai menangis. Tujuh bulan terakhir belum sepenuhnya meninggalkan wajahnya.

Untuk sesaat, pertunjukan tampak benar-benar selesai. Namun saat tepuk tangan penonton belum benar-benar usai, nada pembuka Hey Jude mulai terdengar.

Foto: Dok. GMCO

Jika My Way sebelumnya terdengar seperti ucapan perpisahan, maka Hey Jude menjadi semacam pelukan terakhir malam itu.

Semua penonton ikut menyanyikan Hey Jude. Ketika lagu bergerak menuju bagian akhirnya, suasana ruangan perlahan mencair. Para penari dari SMA Negeri 3 Yogyakarta saling berpelukan. Anggota Paduan Suara Mahasiswa Cantus Firmus Universitas Sanata Dharma berbaur dengan para pemain orkestra. Di panggung, orang-orang yang selama ini lebih sering bertemu dalam rapat dan latihan kini saling memberi selamat.

Di tengah keramaian itu, Medha bergerak ke sana kemari memeluk teman-temannya satu per satu. Tujuh bulan pekerjaan akhirnya selesai.

kumparan post embed

Bagi sebagian besar penonton yang malam itu memenuhi auditorium, Grand Concert Vol. 12 mungkin tampak seperti sebuah konser mahasiswa yang berhasil digelar dengan baik. Namun bagi orang-orang yang membangunnya, malam itu tampak terasa seperti sesuatu yang lain.

Tema konser mereka adalah Samsara. Dan selama berbulan-bulan terakhir, mereka memang tidak hanya memainkan cerita itu.

Mereka menjalaninya.

119 Orang yang Percaya

Foto: Dok. GMCO

Pada Sabtu, 30 Mei, Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma dipenuhi ratusan penonton yang datang untuk menyaksikan Grand Concert Vol. 12 Gadjah Mada Chamber Orchestra. Selama lebih dari tiga jam, mereka menikmati sebuah pertunjukan yang bercerita tentang kehidupan, kehilangan, pencarian makna, dan penerimaan.

Di balik pertunjukan oleh 73 pemain orkestra, 24 anggota Paduan Suara Mahasiswa Cantus Firmus Universitas Sanata Dharma dan 9 siswa talent Koreografi dari Jubah Macan SMA 3 Yogya, yang berlangsung selama satu malam itu, ada jauh lebih banyak orang daripada yang terlihat di atas panggung.

Ada 119 mahasiswa yang terlibat dalam kepanitiaan konser ini. Mereka datang dari jurusan yang nyaris mustahil dipertemukan dalam satu ruang kuliah yang sama.

Ada mahasiswa Teknik Nuklir, Teknik Fisika, Teknik Kimia, Teknik Geologi, Teknologi Informasi, Elektronika dan Instrumentasi, Kedokteran Gigi, Ilmu Keperawatan, Farmasi, Psikologi, Hubungan Internasional, Arkeologi, Antropologi Budaya, Geografi Lingkungan, hingga Teknologi Veteriner. Mereka mengurus panggung, mencari sponsor, menjual tiket, mengatur konsumsi, menyusun visual, hingga memastikan ada wartawan yang meliput acara mereka.

Foto: Dok. GMCO

Sulit membayangkan apa yang mempertemukan mahasiswa Teknik Nuklir, siswa SMA kelas 10, mahasiswa Arkeologi, dan penyanyi paduan suara dalam satu proyek yang sama.

Jawabannya mungkin adalah sesuatu yang tidak pernah tercantum dalam kurikulum: keinginan untuk membangun sesuatu bersama. Keinginan itu pula yang membuat Benawa menerima peran sebagai project manager Grand Concert tahun ini.

Di atas kertas, ia mungkin bukan sosok yang langsung diasosiasikan dengan sebuah pertunjukan orkestra yang penuh refleksi filosofis. Ia adalah mahasiswa Teknik Sipil. Sehari-harinya lebih akrab dengan perhitungan struktur bangunan daripada diskusi tentang makna hidup.

Namun justru dari sanalah ide besar konser ini lahir.

Di Mana Letak Kebahagiaan?

Benawa Java Permadi saat memberi sambutan pembuka. Foto: Dok. GMCO

Dalam pidatonya sebelum pertunjukan, Benawa bercerita bahwa tema Samsara berangkat dari pertanyaan yang selama beberapa tahun terakhir terus mengikutinya: di mana sebenarnya letak kebahagiaan?

Pertanyaan itu muncul dari pengalaman yang sangat pribadi.

Saat pandemi Covid-19 melanda pada 2020, keluarganya mengalami masa yang tidak mudah. Namun ada satu hal yang membuatnya heran hingga sekarang. Ia justru mengingat masa-masa itu sebagai periode yang cukup membahagiakan.

Bangun pagi. Pergi ke pasar. Membeli sayur. Pulang ke rumah. Memasak bersama keluarga. Aktivitas sederhana yang sebelumnya terasa biasa tiba-tiba memiliki makna yang berbeda.

“Di mana letak kebahagiaan itu?”

Jika kebahagiaan sepenuhnya berasal dari hal-hal di luar diri manusia, pikirnya, maka setiap orang yang memperoleh apa yang diinginkan seharusnya selalu merasa bahagia. Tetapi kenyataannya tidak demikian.

Dari pertanyaan itulah Samsara lahir.

Bersama Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Gadjah Mada Chamber Orchestra yang sekaligus bertindak sebagai Event Creative Director, Medha Safia, dan tim kreatif lainnya, Benawa menyusun sebuah perjalanan batin yang dibagi menjadi enam babak: Innocence, Ignorance, Death, Revelation, Reflection, dan Peace.

Foto: Dok. GMCO

Di atas panggung, perjalanan itu diterjemahkan melalui lagu-lagu yang tampaknya tidak memiliki hubungan satu sama lain. Ada Another Day of Sun dari La La Land. Ada Jagoan dari Sherina. Ada musik dari Genshin Impact dan Final Fantasy X. Ada Lexicon milik Isyana Sarasvati. Ada Annie's Song karya John Denver. Ada My Way. Dan pada akhirnya, Hey Jude dari The Beatles.

Bagi sebagian orang, pilihan lagu itu mungkin terlihat acak. Namun bagi para pembuatnya, setiap lagu adalah satu potongan emosi. Mereka tidak sedang membangun konser berdasarkan genre. Mereka sedang membangun cerita.

“Itulah mengapa Grand Concert GMCO menyebut dirinya orkestra yang bercerita,” kata Medha dalam wawancara beberapa hari sebelum pertunjukan.

Cerita itu ternyata tidak hanya hidup di atas panggung. Ia juga hidup di antara orang-orang yang membuatnya.

Kerinduran dan Kelahiran Kembali

Foto: Dok. GMCO

Samsara lahir dari banyak percakapan tentang kehilangan.

Sebagiannya berasal dari pengalaman pribadi Benawa saat melewati masa pandemi. Sebagian lainnya datang dari pengalaman yang lebih kolektif: ketika mahasiswa-mahasiswa yang tumbuh di Gelanggang harus belajar menerima bahwa ruang yang selama ini mereka anggap rumah perlahan berubah.

Tema itu kemudian menjadi fondasi konser. Sebuah cerita tentang manusia yang kehilangan sesuatu, marah, bingung, mencari makna, lalu perlahan belajar menerima hidup apa adanya.

Dan bagi semua anggota GMCO, cerita itu bukan sekadar cerita. Mereka sedang menjalaninya.

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai unit kegiatan mahasiswa di UGM harus meninggalkan Gelanggang, kawasan yang selama puluhan tahun menjadi rumah bagi organisasi-organisasi mahasiswa. Gelanggang Mahasiswa diganti bangunan baru yang jauh lebih megah, lebih luas yang bernama Gelanggang Inovasi dan Kreatifias (GIK) UGM.

Foto: Dok. GMCO

Bagi orang luar, perpindahan itu mungkin terlihat seperti urusan administratif biasa.

Pindah ruangan.

Pindah sekretariat.

Pindah alamat.

Namun bagi mahasiswa yang tumbuh di dalamnya, Gelanggang bukan sekadar bangunan. Ia adalah ekosistem.

Tempat mahasiswa musik bertemu mahasiswa fotografi. Tempat pemain teater berdiskusi dengan seniman rupa. Tempat ide-ide baru lahir dari obrolan yang bahkan tidak direncanakan. Tempat seseorang datang untuk latihan, tetapi pulang membawa teman baru, gagasan baru, bahkan jalan hidup yang baru.

Bagi Benawa, perubahan itu terasa sangat nyata.

Ia masih mengingat bagaimana anggota GMCO harus memindahkan perlengkapan sekretariat sedikit demi sedikit ke tempat baru. Speaker. Stand musik. Kabel. Peralatan latihan. Barang-barang yang selama bertahun-tahun memenuhi ruang lama harus diangkat dan dipindahkan satu per satu.

“Kami memindahkan barang dari lantai satu ke lantai tiga setiap hari. Sangat capek sebenarnya,” kenangnya.

Namun ketika mengingat masa itu, yang paling membekas tidak hanya rasa lelahnya. “Dari situ kita juga mendapatkan bonding kekeluargaan yang sangat kuat.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi di dalamnya tersimpan sesuatu yang penting. Samsara tidak lahir hanya dari buku, teori, atau diskusi filsafat. Ia lahir dari pengalaman hidup yang benar-benar dialami para pembuatnya.

Ketika Benawa berbicara tentang kehilangan dalam konser, ia tidak sedang membayangkan kehilangan. Ia pernah merasakannya. Ketika ia berbicara tentang menerima kenyataan, ia tidak sedang menjelaskan konsep. Ia sedang menceritakan proses yang pernah dijalani bersama teman-temannya.

“Hidup tidak hanya isinya kebahagiaan. Kesusahan juga menjadi bagian penting dalam hidup kami masing-masing.”

Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) Medha Safia, saat memberi sambutan pembuka. Foto: Dok. GMCO

Ketua UKM GMCO, Medha Safia, merasakan kehilangan itu dengan cara yang berbeda. Yang ia rindukan bukan semata bangunan Gelanggang. Yang ia rindukan adalah kemungkinan-kemungkinan yang lahir di dalamnya. Pertemuan-pertemuan kecil. Orang-orang yang tiba-tiba datang membawa ide. Diskusi yang berakhir menjadi proyek. Kolaborasi yang muncul tanpa direncanakan.

“Merindukan Gelanggang dan sebagai gantinya kami sekarang terpisah-pisah ini,” katanya.

Kalimat itu terdengar seperti keluhan. Padahal sebenarnya ia lebih mirip ungkapan sayang. Karena pada saat yang sama, Medha juga tahu bahwa hidup kampus tidak mungkin berhenti hanya karena sebuah ruang berubah.

Karena itu, ketika menyusun Grand Concert tahun ini, ia dan teman-temannya justru berusaha menciptakan kembali semangat yang selama ini mereka rindukan. Mereka mengajak siapa saja untuk terlibat.

Bukan hanya anggota GMCO.

Bukan hanya mahasiswa yang bisa memainkan musik orkestra.

Panitia konser ini terdiri dari mahasiswa dari puluhan program studi berbeda. Mereka bekerja bersama dalam satu proyek yang sama. Ada yang mengurus sponsor, ada yang mengatur konsumsi, ada yang mendesain visual, ada yang menjual tiket, ada yang mengatur panggung.

Tanpa mereka sadari, konser ini telah berubah menjadi sesuatu yang lebih besar daripada pertunjukan musik. Ia menjadi upaya untuk menciptakan kembali ruang perjumpaan yang mereka rasa mulai hilang.

Direktur Kemahasiswaan UGM, Hempri Suyatna. Foto: Dok. GMCO

Dari sisi kampus, perubahan tersebut dipandang sebagai bagian dari proses yang harus dijalani.

Direktur Kemahasiswaan UGM, Hempri Suyatna, mengaku memahami perasaan kehilangan yang dirasakan mahasiswa. “Sedih saya kira sangat wajar, di saat yang sama, melalui lakon Samsara ini mahasiswa juga telah menunjukkan bagaimana bisa bangkit kembali,” usai pertunjukan.

kumparan post embed

Menurut Hempri, sebuah universitas harus terus berubah untuk menjawab kebutuhan zamannya. “Sebagai institusi yang ingin terus relevan dengan perkembangan zaman, perubahan itu hal biasa. Kita harus menatap masa depan, beradaptasi terhadap perubahan adalah tugas kita semua termasuk mahasiswa.”

Menurutnya, kampus telah menyiapkan fasilitas pengganti yang diharapkan mampu mendukung aktivitas mahasiswa dengan lebih baik. “Siapa yang ingin UKM kita makin jelek? Tidak ada. Pasti ingin makin bagus.”

Pada titik itu, barangkali tidak ada pihak yang benar atau salah. Mahasiswa memiliki alasan untuk merindukan Gelanggang. Kampus memiliki alasan untuk berubah.

Medha Safia. Foto: Dok. GMCO

Karena itulah pidato mahasiswa Sosiologi yang jadi Ketua Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO), Medha Safia, sebelum konser, terasa begitu personal.

Di hadapan para pemain dan panitia dan hadirat penonton, ia tidak berbicara tentang target penonton atau kesuksesan acara. Ia berbicara tentang kolaborasi. Tentang harapan bahwa anak-anak muda masih bisa bekerja bersama di tengah dunia yang semakin kompetitif.

“Kita masih mungkin kok melakukan kolaborasi di tengah-tengah dunia yang penuh semangat kapitalis ini. Kita masih bisa mengedepankan semangat sosial.”

Saat konser mau benar-benar berakhir, Hey Jude dari The Beatles berkumandang. Paul McCartney mengajak kita untuk menerima luka, membuka hati, dan membuat hidup sedikit lebih baik.

Benawa, laki-laki awal 20-an yang begitu gagah itu, matanya selalu tampak berkaca-kaca bahkan saat dia menyaksikan seluruh pertunjukan dari ruang operator di belakang sana. Medha ke sana-kemari memeluk semua temannya, satu per satu.

Seperti cerita yang mereka mainkan malam itu, mereka tampak telah menemukan sesuatu yang selama ini mereka cari.

Bukan kesempurnaan.

Bukan kemenangan.

Melainkan perasaan bahwa mereka tidak menjalaninya sendirian.