Kisah Kasih Menuju Pernikahan di Tanggal Cantik

email: pandanganjogja@gmail.com
Tulisan dari Pandangan Jogja Com tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Erwinda Yolidya Puspitaningrum dan Rizky Suryo Prayogo sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan hari pernikahan mereka. Sudah sejak dua tahun silam keduanya berpacaran. Erwinda masih ingat betul tanggal mereka jadian, 13 Januari 2018.
Pada 9 Maret 2019 lalu, keduanya tunangan, dan pada 22 Februari 2020 besok, keduanya akan mengikrarkan janji suci dalam sebuah pernikahan. Hari bersejarah di sebuah tanggal yang cantik, 22-02-2020.
“Menentukan tanggal nikah ini sebenarnya sudah mulai sayup-sayup terdengar sejak persiapan tunangan. Memang rencananya tahun depannya, yaitu tahun 2020,” ujar Erwinda seolah tidak sabar menanti hari bahagia itu.
Erwinda adalah perempuan asal Malang, sedangkan Rizky asli Jogja. Keduanya diperkenalkan oleh teman baik Erwinda yang ternyata satu komunitas lari dengan Rizky. McD Jombor adalah tempat bersejarah bagi keduanya, di tempat itulah untuk pertama kali mereka bertemu.
“Bisa menikah di tanggal cantik tentu senang sekali ya. Bahagianya pokoknya enggak karuan. Ini deg-degan berat nunggu tanggal 22,” kata Erwinda terbahak.
Seperti Erwinda dan Rizky, Desy Anggraeni Siswanti dan Agus Surono juga tengah disibukkan dengan persiapan pernikahan. Desy dan Agus akan melangsungkan pernikahan pada 20 Februari 2020 mendatang, tanggal yang tidak kalah cantik: 20-02-2020.
Desy dan Agus sama-sama orang Jogja, keduanya bertemu pertama kali pada 2015 silam. Saat itu, kakak Desy membuka usaha toko besi di dekat rumah Agus yang ternyata memiliki usaha bengkel motor.
“Awal ketemunya waktu saya minta tolong ke dia untuk memperbaiki motor saya,” ujar Desy mengenang awal mula keduanya bertemu.
Dari pertemuan pertama itu, hubungan keduanya terus berlanjut, hingga akhirnya memutuskan untuk jadian pada 2 November 2016 dan disusul tunangan pada 10 Juni 2019.
Awalnya, Desy dan Agus merencanakan untuk menikah pada 2 November 2019, tapi sang calon suami mengalami kecelakaan tiga bulan sebelum hari bahagia itu yang membuat tangan kirinya mengalami patah tulang.
“Jadi mau tidak mau kita undur sampai calon suami benar-benar sembuh,” lanjut Desy.
Biar Gampang Diingat
Bagi Erwinda dan Desy, tak perlu berbagai filosofi dalam memilih tanggal cantik untuk menikah. Erwinda memilih menikah pada 22 Februari terutama karena jatuh di hari Sabtu. Tamu undangan keduanya banyak dari luar kota sehingga melangsungkan pernikahan di akhir pekan akan memudahkan tamu-tamu undangan.
“Selain itu yang terpenting agar tanggal pernikahan selalu mudah diingat. Bisa saja soalnya lupa tanggal pernikahan seiring dengan lamanya waktu nikah, hehe,” ujar Erwinda sembari tertawa kecil.
Tak jauh beda, selain karena insiden kecelakaan yang menimpa calon suaminya, Desy memilih tanggal 20 Februari karena baginya tanggal itu merupakan tanggal cantik.
“Karena mudah diingat mas,” ujarnya.
Repotnya Menyiapkan Pernikahan
Salah satu kerepotan yang dialami Erwinda dan Rizky adalah mendapatkan vendor yang cocok. Mereka harus berebut, cepat-cepatan untuk mendapatkan vendor yang sesuai sebab banyak pasangan lain yang ingin menikah di tanggal cantik.
Kadang ada vendor yang secara kualitas sudah cocok, namun harganya kurang bersahabat. Ada yang secara harga bersahabat, namun kualitas tidak meyakinkan.
“Jadi kalau sudah nemu yang cocok, langsung lock tanggal. Rasanya dag dig dug emang waktu cari vendor, takut sudah ada yang makai, padahal sudah cocok sama hasil dan harganya,” kata Erwinda.
Kesibukan Erwinda dan Rizky sudah dimulai sejak akhir tahun kemarin. Mereka beruntung, karena konsep acara sudah jelas dan disepakati oleh kedua keluarga, sehingga mereka tinggal eksekusi saja. Mereka memilih menggunakan perpaduan konsep modern dan adat Jawa, sehingga ada dua upacara yang harus dilakukan, yakni akad nikah dan ngunduh mantu.
Acara akad nikah dilakukan secara modern, Erwinda dan keluarganya menjadi penanggung jawab acara tersebut. Sementara agenda ngunduh mantu dipegang oleh pihak calon suami dan keluarganya menggunakan konsep adat Jawa. Agenda ini cukup menguras tenaga dan pikiran, banyak rapat-rapat kepanitiaan untuk membahas hal-hal detail sesuai dengan runtutannya.
“Saat ini aku sibuk menunggu hasil dari vendor sih. Kayak undangan, suvenir, baju untuk bridesmaids dan keluarga. Untuk venue dan konsumsi Alhamdulillah sudah selesai dari awal tahun,” lanjut Erwinda.
Jarak yang cukup jauh juga sempat membuat Erwinda dan Rizky kewalahan untuk menentukan acara pernikahannya. Terlebih orangtua Erwinda tinggal di Kalimantan, padahal untuk musyawarah tentang acara pernikahan tidak cukup hanya sekali.
“Wah ini dulu paling seru. Menyatukan jadwalnya. Dan enggak cuman dibahas sekali gitu. Paling-paling (susah) lah ini,” lanjutnya.
Komunikasi yang intens adalah kunci utama Erwinda dan Rizky dalam mempersiapkan acara pernikahannya. Keduanya menjadi perantara masing-masing keluarga besar.
“Kepala harus dingin. Pokoknya kalau lagi panas, jangan mengambil keputusan. Rentan banget soalnya,” tambahnya.
Tanggal 20 Lebih Mudah
Desy dan Agus bisa dikatakan lebih beruntung, sebab, meski memilih tanggal cantik, yakni 20-02-2020 namun harinya bertepatan di hari kerja, hari Kamis, bukan di akhir pekan. Sehingga mereka tidak perlu berebut vendor dengan pasangan lain seperti yang dialami Erwinda dan Rizky.
Terlebih pihak keluarga juga banyak memberikan bantuan, sehingga semua kerepotan mempersiapkan pernikahan tidak hanya ditanggung oleh mereka berdua.
“Saat ini baru bikin suvenir dan undangannya. Dan alhamdulillah bisa semua. Saya dijanjikan untuk jadi tanggal 15 Februari,” ujar Desy.
Baik dari keluarga Desy maupun Agus juga tidak ada yang memakai hitungan Jawa, sehingga mereka lebih leluasa dalam menentukan tanggal pernikahan. Kerepotan terbesar mereka justru ketika memilih cincin untuk mas kawin.
Ukuran jari calon suami yang besar membuat emas yang digunakan minimal ukuran 7 gram, sebaliknya, ukuran jari Desy terlampau kecil sehingga harus menggunakan ukuran 4 gram. Cukup sulit mencari cincin yang sesuai dengan ukuran jari mereka.
“Akhrinya kita pakai yang perak. Karena kalau buat (pakai emas) membutuhkan waktu dua bulan dan harganya terlalu mahal,” kata Desy.
Ketika ditanya soal biaya yang mereka keluarkan untuk acara pernikahan, Erwinda malu-malu menjawabnya. Dia hanya menyebutkan, jumlahnya relatif sama dengan pernikahan-pernikahan pada umumnya.
“Medium lah. Soalnya ya enggak low juga, enggak minimalis banget, tapi ya enggak sampai yang dikatakan mewah,” kata Erwinda.
Sementara Desy lebih terbuka soal anggaran. Untuk acara resepsi, termasuk sewa gedung, dia menyiapkan anggaran kurang lebih Rp 40 juta. Biaya lain seperti KUA Rp 600 ribu, biaya riasan dan baju sekitar Rp 5 juta, suvenir Rp 1,7 juta, undangan sekitar Rp 3,5 juta, serta biaya seserahan dan lain-lain sekitar Rp 10 juta.
“Ijabnya di rumah, pagi. Kalau resepsinya malam di restoran Pringsewu di Jalan Magelang. Alhamdulillahnya Pringsewu bisa dipakai tanggal 20,” ujar Desy. (Widi Erha Pradana / YK-1)
