Mencoba Cita Rasa Nusantara di Resto Hotel Bersejarah Jogja

Kandelir kristal berpendar di bawah langit-langit tinggi, mengiringi alunan musik klasik saat tamu menikmati hidangan dalam Opening Dinner ROSO Restaurant Yogyakarta, Minggu malam (16/8). Sehari setelahnya, restoran yang membawa cita rasa Nusantara ini resmi dibuka untuk umum di Grand Hotel De Djokja, Yogyakarta, pada Senin (17/8).
ROSO Restaurant Yogyakartat merupakan tempat kedua setelah Bali. Restoran ini mempertemukan beragam masakan Indonesia dalam satu pengalaman bersantap, dari Jawa, Sumatera Utara hingga Bali. Konsep tersebut terangkum dalam tema The Finest Expression of Indonesian Taste.
Menurut Andreas Kahl, General Manager Grand Hotel De Djokja, kehadiran ROSO Restaurant Yogyakarta menjadi bagian dari langkah hotel menghadirkan pengalaman heritage luxury yang memadukan sejarah bangunan dengan kekayaan budaya Indonesia.
“Kami percaya bahwa warisan kuliner Indonesia memiliki kualitas dan kedalaman yang layak ditempatkan sejajar dengan destinasi gastronomi terbaik di dunia. Melalui ROSO, kami mengundang para tamu untuk merasakan Indonesia dengan cara yang lebih mendalam, personal, dan berkesan,” kata Andreas.
Konsep tersebut terlihat dalam Seven-Courses Journey, rangkaian hidangan yang membawa tamu menjelajahi sejumlah wilayah Indonesia dalam satu meja. Pada malam pembukaan, sajian dibuka dengan amuse-bouche Pusparagam Tempe, terdiri dari lemper tempe, koin tempe, dan cone tempe.
Hidangan berlanjut ke Salmon Naniura, mengangkat resep khas Sumatera Utara dengan bumbu andaliman. Rangkaian kemudian bergerak ke Rujak Tuna dari Nusa Tenggara Timur, disusul Soto Lenthok dari Jawa Tengah. Di antara keduanya, disajikan pula interlude berupa jeruk Bali dan sitrus kalamansi sebagai penyegar sebelum masuk ke hidangan utama.
Hidangan utama dibuka dengan Lobster Base Genep dari Bali, kemudian Ingkung by ROSO — olahan ayam yang lazim disajikan dalam acara hajatan di Jawa — dan Sampi Menyat-Nyat, hidangan asal Bali yang menggunakan US Prime Beef Short Ribs dengan bumbu manis. Rangkaian menu ditutup dengan Manuk Nom dari Yogyakarta.
Rangkaian menu tersebut merupakan kolaborasi Chef Ketut Gede Arya Prima Udayana dan Chef Komang Kardana dari ROSO Bali bersama Chef Kolibin selaku Head Chef ROSO Yogyakarta.
Bagi Philip Walasary, Director of Food & Beverage Grand Hotel De Djokja, konsep tersebut berangkat dari keinginan menghadirkan makanan tradisional Indonesia dalam pengalaman bersantap yang lebih baik, tanpa menghilangkan karakter aslinya. Karakter tersebut salah satunya dijaga melalui penggunaan rempah.
“Kami mencoba sekali untuk tidak tone down rempah-rempah yang kuat yang diajarkan oleh para pendahulu kami di dapur-dapur kami di masa lalu di rumah. Itu hanya untuk menerima pengakuan internasional,” ujarnya.
Pengalaman bersantap di ROSO kemudian berpadu dengan sejarah tempat restoran ini berada. Grand Hotel De Djokja telah berdiri sejak 1911 dan pernah menjadi markas Tentara Keamanan Rakyat di bawah Jenderal Sudirman pada Desember 1945 hingga Maret 1946.
“Bangunan ini didirikan pada 1911, tempat ini pernah dijadikan markas besar tentara Indonesia, dan Jenderal Sudirman secara aktif memimpin perjuangan kemerdekaan dari hotel ini sejak Desember 1945 hingga Maret 1946,” kata Andreas.
ROSO Restaurant Yogyakarta menempati lobi asli bangunan yang baru selesai dipugar setelah proses restorasi selama tiga tahun. Kini, di dalam bangunan yang telah berdiri lebih dari satu abad itu, ROSO Restaurant Yogyakarta menghadirkan perjalanan kuliner yang mempertemukan beragam daerah Indonesia dalam satu meja, sebuah pengalaman untuk mengenal Nusantara melalui rasa.
