Kumparan Logo
Konten Media Partner

UMY Resmikan Dapur Baru Berkonsep Modern untuk Layani Makan Gratis Karyawan

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peresmian Dapur Sentral UMB Boga, Sabtu (10/10). Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti.
zoom-in-whitePerbesar
Peresmian Dapur Sentral UMB Boga, Sabtu (10/10). Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti.

Unit bisnis kuliner dan food and beverage (F&B) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), PT UMB, meresmikan dapur sentral untuk menunjang kebutuhan konsumsi di lingkungan kampus hingga luar kampus. Dapur ini merupakan pengembangan dari dapur lama yang sebelumnya telah beroperasi.

Peresmian dapur ini digelar pada Sabtu (10/10) dan turut dihadiri Pemegang Saham PP Muhammadiyah, Ahmad Dahlan Rais; Ketua PW Muhammadiyah DIY, Ikhwan Ahada; dan Rektor UMY beserta rektor Universitas Muhammadiyah lainnya.

Dapur ini setidaknya akan memproduksi 1.600 porsi makanan yang dibagikan gratis kepada karyawan UMY, makan minum hotel dan kafe, hingga pesanan produksi boga dari pihak eksternal.

Kru Dapur Sentral UMB Boga. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti.

Mengusung konsep modern, dapur ini dilengkapi peralatan memasak berstandar internasional, termasuk salah satu alat masak senilai sekitar Rp300 juta. Fasilitas pengelolaan sampah dengan pendingin udara (AC) juga disiapkan untuk mendukung kebersihan dan higienitas dapur, agar proses pembusukan tidak berlangsung terlalu cepat dan mengurangi risiko datangnya serangga.

“Kenapa pakai AC? Agar pembusukan tidak terlalu cepat, kemudian kita juga menghindari serangga untuk masuk, agar dapur ini tidak terkesan jadi kumuh,” kata Direktur PT UMB Boga, Uang Wari, ditemui Pandangan Jogja di agenda peresmian tersebut, Sabtu (10/10).

Uang menjelaskan, dapur sentral dua lantai tersebut dibangun di atas lahan milik UMY seluas 1.313 meter persegi, dengan luas bangunan sekitar 943 meter persegi. Pembangunannya berlangsung selama tujuh bulan, dilanjutkan dengan pemasangan dan penyiapan peralatan selama satu bulan, menggunakan dana PT UMB.

Salah-satu peralatan yang ada di Dapur Sentra UBM Boga. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti.

Dari sisi operasional, dapur sentral baru UMY memiliki combi oven senilai Rp300-an juta. Corporate Chef PT UMB, Chef Erwan menjelaskan, alat itu dapat digunakan untuk berbagai teknik memasak, mulai dari mengukus, memanggang, hingga memanggang roti.

Combi oven tersebut memiliki 10 tray dengan kapasitas yang disebut dapat mencapai sekitar 700 porsi dalam sekali proses memasak, bergantung pada jenis makanan. Oven itu juga dapat menyimpan hingga 500 resep sehingga proses memasak menu yang sama bisa dilakukan menggunakan pengaturan yang telah tersimpan.

“Jadi, kalau kita pernah buat masakan, nanti akan memori-nya ada di sini. Nanti kalau mau membuat makanan itu lagi biar sama prosesnya, tinggal memberikan informasi di resep ini,” kata Erwan.

Penggunaan peralatan modern diikuti dengan pelatihan bagi tenaga operasional. Sebelum dapur digunakan, PT UMB Boga menyiapkan pelatihan, uji kelayakan, serta pendampingan agar staf memahami prosedur pengoperasian peralatan.

Rektor UMY, Prof Achmad Nurmandi saat peresmian Dapur Sentra UMB Boga. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti.

Rektor UMY, Prof Achmad Nurmandi, mengatakan pembangunan dapur baru berangkat dari kebutuhan untuk meningkatkan standar pengolahan makanan seiring berkembangnya bisnis kuliner kampus.

Menurut Nurmandi, dapur sebelumnya masih menggunakan konsep tradisional sehingga perlu ditingkatkan dari sisi kebersihan, peralatan, penyimpanan bahan, hingga prosedur memasak dan penyajian.

“Selama ini dapurnya kan ada di dalam kampus. Dapur tradisional lah, bukan standar dapur. Sehingga misalnya harus menyediakan 5.000 porsi, bayangkan dengan dapur tradisional, kompornya ‘cetak cetek cetek’ gitu, ya bisa-bisa keracunan,” kata Nurmandi dalam agenda yang sama.

Ia menambahkan, pengembangan dapur sentral juga berkaitan dengan rencana jangka panjang UMY untuk memperkuat bisnis kuliner sekaligus membuka peluang pengembangan pendidikan yang berkaitan dengan bidang tersebut.

Nurmandi menilai, industri kuliner memiliki pasar yang berkelanjutan karena kebutuhan makanan akan selalu ada. Namun, pengembangan bisnis harus disertai pengelolaan profesional dan tata kelola perusahaan yang baik.

“Bisnis jangan tanggung-tanggung. Dikelola profesional, capable,” pungkasnya.