Kumparan Logo
Konten Media Partner

1.000 Siswa SMA di DIY Latihan Tanggap Bencana, Peringati 20 Tahun Gempa Yogya

Pandangan Jogjaverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Puncak pelatihan tanggap bencana gempa bumi yang diselenggarakan InJourney Destination Management dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dan Disdikpora DIY lewat Sekretariat Bersama Satuan Pendidikan Aman Bencana (Sekber SPAB), Jumat (22/5).
zoom-in-whitePerbesar
Puncak pelatihan tanggap bencana gempa bumi yang diselenggarakan InJourney Destination Management dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dan Disdikpora DIY lewat Sekretariat Bersama Satuan Pendidikan Aman Bencana (Sekber SPAB), Jumat (22/5).

Sebanyak 1.000 siswa SMA di Sleman, Bantul, Kota Yogyakarta, dan Gunungkidul mengikuti pelatihan tanggap bencana gempa bumi selama Januari hingga Mei 2026. Pelatihan ini terutama diselenggarakan di sekolah-sekolah rawan gempa bumi yang dilewati Sesar Opak.

Digelar lewat program InJourney Community Care, pelatihan yang menjadi bagian dari peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta itu mencapai puncaknya melalui simulasi dan pelatihan bencana di SMA Negeri 1 Kalasan yang digelar Jumat (22/5).

Program ini merupakan kerja sama InJourney Destination Management dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dan Disdikpora DIY lewat Sekretariat Bersama Satuan Pendidikan Aman Bencana (Sekber SPAB).

Para siswa SMA Negeri 1 Kalasan saat mengikuti pelatihan tanggap bencana gempa bumi, Jumat (22/5).

Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan, Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo, serta Direktur Operasi InJourney Destination Management, Indung Purwita Jati, hadir langsung membuka kegiatan tersebut.

Materi yang diberikan selama pelatihan meliputi pemahaman risiko gempa bumi, teknik penyelamatan, prosedur evakuasi, hingga simulasi penanganan darurat. Pelatihan tersebut ditujukan untuk membangun kesiapsiagaan generasi muda menghadapi potensi bencana.

instagram embed

Lilik mengatakan, peringatan dua dekade Gempa Yogyakarta tidak hanya menjadi ruang mengenang bencana masa lalu, tetapi juga momentum memperkuat kesiapan masyarakat menghadapi ancaman bencana di masa mendatang.

"Kita ingin membangun budaya kesiapsiagaan yang hidup di tengah masyarakat. Pengurangan risiko bencana tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi semua pihak," ujarnya.

Para siswa SMA Negeri 1 Kalasan saat mengikuti pelatihan tanggap bencana gempa bumi, Jumat (22/5).

Sementara itu, Indung menyebut keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat tangguh bencana.

"Kami ingin mendorong lahirnya masyarakat yang semakin tangguh, khususnya generasi muda, agar memiliki pemahaman yang baik mengenai kesiapsiagaan dan mampu menjadi bagian dari upaya pengurangan risiko bencana di lingkungan sekitarnya," kata Indung.