Kumparan Logo
Konten Media Partner

Baru 2 Bulan, Fight Club Yogya Ditonton 1.500 Orang, WNA Belanda Ikut Tanding

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dua fighter bertanding di Fight Club Yogyakarta. Foto: Fight Club Yogyakarta
zoom-in-whitePerbesar
Dua fighter bertanding di Fight Club Yogyakarta. Foto: Fight Club Yogyakarta

Fight Club Yogyakarta, event street boxing yang dibuat sejumlah pemuda di Jogja untuk memerangi klitih sudah menarik banyak perhatian masyarakat.

Event yang digelar tiap Jumat malam di Pasar Hewan dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY) ini bisa ditonton hingga 1.500 orang.

Sedangkan jumlah peserta yang bertarung tiap Jumat malam mencapai 60 orang. Namun yang mendaftar menjadi peserta sudah mencapai ratusan orang sehingga mereka mesti mengantre untuk bisa bertarung di Fight Club Yogyakarta.

Bahkan, pada Jumat (26/7) kemarin, ada salah satu Warga Negara Asing (WNA) dari Belanda yang ikut bertarung di Fight Club Yogya.

“Saya akan bertarung dengan salah satu teman saya. Saya rasa ini (fight club) akan menjadi lebih besar, yang tentu saja sekarang sudah besar. Dalam dua bulan sudah memiliki 14 ribu followers di Instagram, bagaimana jika dalam setahun? Saya melihat banyak potensi di sini,” ucap Peserta Asal Belanda, Furkan, Jumat (26/7).

kumparan post embed
instagram embed

Selain Furkan, ada WNA lain juga yang malam itu datang ke Fight Club Yogya, namun hanya untuk menonton. Mereka adalah Joel dan Kelly, WNA asal Australia yang mengaku sangat terkesan dengan fight club tersebut.

“Di Australia kami benar-benar tidak memiliki sesuatu seperti ini. Jika ada pertarungan, itu semua di dalam ruangan dan dengan peraturan yang sangat ketat,” kata Joel.

Humas Fight Club Yogyakarta, Kocok, mengaku tak menyangka jika sampai ada WNA yang ikut mendaftar jadi peserta Fight Club Yogya.

“Ini adalah hal yang tidak kami duga, tiba-tiba ada bule,” ujarnya.

Dua fighter sedang bertanding di Fight Club Yogyakarta. Foto: Fight Club Yogyakarta

Orang-orang yang hadir untuk menonton maupun bertanding memang cukup banyak yang berasal dari luar kota. Namun, mayoritas menurutnya memang masih berasal dari wilayah DIY, terutama wilayah Kota Yogya dan Bantul.

“Secara demografi, peserta dari seluruh Jogja. Waktu itu orang Gunungkidul datang rombongan, secara mayoritas memang Bantul dan Kota Yogyakarta. Sudah sampai kota lain juga, Lumajang, Bali, Jakarta, dan Solo,” ujar Kocok.