Kumparan Logo
Konten Media Partner

Baru 2 Pekan Kuliah, Santri Pondok Teknologi di Bantul Masuk Hall of Fame NASA

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Muhammad Nur Ibu Hubab, santri Pondok Teknologi Bantul peraih Hall of Fame NASA. Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi Darma
zoom-in-whitePerbesar
Muhammad Nur Ibu Hubab, santri Pondok Teknologi Bantul peraih Hall of Fame NASA. Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi Darma

Muhammad Nur Ibnu Hubab (20) baru bangun tidur ketika membuka ponselnya pada subuh, 4 September 2026. Sebuah notifikasi dari Bugcrowd muncul. Laporan celah keamanan yang ia kirim sehari sebelumnya dinyatakan valid.

“Bangun tidur, buka HP, dapat notif laporan saya dinyatakan valid,” kata Ibnu saat ditemui Pandangan Jogja di Pondok Teknologi, Bantul, Kamis (8/10).

Laporan tersebut dikirim melalui program pengungkapan kerentanan atau Vulnerability Disclosure Program (VDP) NASA. Setelah temuannya dinyatakan valid, nama pemuda asal Kulon Progo itu tercantum dalam Hall of Fame NASA.

Pencapaian tersebut diraih ketika Ibnu baru sekitar dua pekan menjalani kuliah semester pertama Program Studi Sistem Informasi Universitas Siber Muhammadiyah (SiberMu). Namun, ketertarikannya pada teknologi telah tumbuh jauh sebelum ia memasuki bangku kuliah.

Empat Laporan Pertama Belum Dinyatakan Valid

Ibnu mulai fokus mencari celah keamanan pada sistem yang menjadi target program NASA sekitar Agustus 2026. Ketertarikan itu bermula ketika ia melihat seorang teman sesama bug hunter lebih dulu mendapat laporan valid dari NASA.

Bug hunter adalah sebutan bagi orang yang mencari kerentanan keamanan pada sistem atau aplikasi, kemudian melaporkannya kepada pemilik sistem agar dapat diperiksa dan ditangani.

Ibnu menghubungi temannya untuk bertanya sekaligus meminta sejumlah tips. Setelah itu, ia mulai melakukan pencarian secara mandiri.

Empat laporan pertama yang dikirimnya belum dinyatakan valid. NASA memberikan status informative, yakni laporan yang dinilai belum menunjukkan kerentanan dengan dampak keamanan yang memenuhi kriteria penerimaan program.

Alih-alih berhenti, Ibnu kembali mengeksplorasi sistem dan mempelajari kekurangan dari laporan sebelumnya.

“Empat report itu semuanya dinilai informatif sama NASA. Saya explore lagi, belajar dari kesalahan sebelumnya,” ujarnya.

Pada 3 September 2026 siang, Ibnu mengirim laporan kelima. Keesokan harinya, notifikasi validasi muncul di ponselnya.

“Perasaan saya pas tahu saya dapat valid report di NASA dan nama saya tercantum di Hall of Fame, yang pastinya bersyukur banget, ya. Karena saya yang sebelumnya dari yang informatif, hitungannya bisa terbayarlah, lelahnya itu terbayar,” katanya.

Ibnu kemudian menghubungi teman yang sebelumnya memberikan tips. Ia menyampaikan terima kasih sekaligus mengabarkan bahwa laporan kelimanya telah dinyatakan valid.

Dua Tahun Belajar Teknologi di Pondok

Ibnu dan rekan-rekannya di Pondok Teknologi Bantul. Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi Darma

Sebelum menjadi mahasiswa SiberMu, Ibnu telah menghabiskan sekitar dua tahun untuk belajar teknologi di Pondok Teknologi, Bantul.

Pondok Teknologi merupakan lembaga pendidikan nonformal berbasis asrama yang memadukan pendidikan agama Islam dengan keterampilan teknologi informasi. Di sana, Ibnu menjalani aktivitas sebagai santri sekaligus mentor.

Pada awalnya, ia mendalami web development atau pengembangan situs web. Ia belajar membuat dan mengembangkan aplikasi berbasis web sebelum menemukan ketertarikan lain, yakni menguji keamanan aplikasi.

“Setelah saya sadari, ternyata saya lebih enjoy, lebih menikmati proses pengujian aplikasi dibanding membuat aplikasi. Nah, dari situ saya coba mulai ke cybersecurity,” tuturnya.

Sekitar setahun terakhir, Ibnu mulai serius mendalami keamanan siber, terutama pengujian keamanan aplikasi dan bug hunting.

Pengalaman tersebut menjadi bekalnya sebelum melanjutkan pendidikan formal di Program Studi Sistem Informasi SiberMu. Dengan demikian, ketika namanya masuk Hall of Fame NASA, Ibnu telah memiliki pengalaman belajar teknologi selama sekitar dua tahun dan mendalami keamanan siber selama sekitar satu tahun.

Tercatat di Hall of Fame Sejumlah Lembaga

NASA bukan satu-satunya lembaga yang mencatat kontribusi Ibnu dalam riset keamanan siber. Namanya juga tercantum dalam Hall of Fame Perplexity AI.

Ia turut mendapat Certificate of Appreciation dan pencantuman nama dalam Hall of Fame dari Drexel University. Selain itu, Ibnu mengaku telah memperoleh lebih dari 100 alokasi CVE dari riset keamanan pada ekosistem WordPress.

CVE atau Common Vulnerabilities and Exposures merupakan sistem identifikasi kerentanan keamanan yang diketahui dan dipublikasikan. Alokasi CVE berkaitan dengan penetapan identitas untuk kerentanan yang memenuhi kriteria, sehingga angka tersebut perlu dibedakan dari jumlah laporan yang dikirim atau temuan yang dinyatakan valid oleh suatu program.

Di Indonesia, Ibnu juga mencatat apresiasi dari sejumlah lembaga, antara lain Mahkamah Konstitusi RI, Kementerian Agama, Kementerian Pekerjaan Umum, pemerintah daerah, perguruan tinggi, perusahaan, dan media.

Bentuk apresiasi yang diterimanya beragam, mulai dari sertifikat dan pencantuman nama dalam Hall of Fame hingga swag atau suvenir.

Melaporkan Celah agar Dapat Diperbaiki

Bagi Ibnu, mencari celah keamanan bukan sekadar menemukan kelemahan dalam sebuah sistem. Ia memilih melaporkan temuan kepada pemilik sistem agar kerentanan tersebut dapat diperiksa dan diperbaiki.

Ia membedakan aktivitas bug hunting dengan tindakan mengeksploitasi kerentanan untuk kepentingan pribadi atau merugikan pihak lain.

“Kalau hacker itu terbagi jadi dua, ada hacker baik sama hacker jahat. Kalau hacker jahat tadi, nemu kerentanan sama mereka eksploitasi. Sedangkan kalau hacker baik tadi salah satunya ada bug hunter,” katanya.

Dalam pengujian terhadap sejumlah situs web di Indonesia, Ibnu mengaku pernah menemukan kerentanan yang berpotensi mengekspos data pribadi, seperti nomor telepon, alamat, Nomor Induk Kependudukan (NIK), hingga Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

Menurutnya, paparan data semacam itu berisiko dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab apabila kerentanan tidak segera ditangani.

Namun, proses pencarian celah keamanan tidak selalu menghasilkan temuan yang dapat dilaporkan. Ibnu bisa menghabiskan waktu berjam-jam tanpa menemukan kerentanan yang memenuhi kriteria. Laporan yang telah dikirim pun dapat dinyatakan tidak valid, berstatus informative, atau duplicate apabila temuan serupa sudah lebih dahulu dilaporkan.

“Kesabarannya dilatih banget. Kesabaran, terus mental resilience sama konsistensi,” ujarnya.

Menurut Ibnu, bug hunting membutuhkan rasa ingin tahu, ketekunan mengeksplorasi sistem, kecermatan mengamati detail, konsistensi belajar, serta ketahanan mental menghadapi laporan yang belum diterima.

Pengalaman mengirim lima laporan ke program NASA menjadi salah satu bagian dari proses tersebut. Empat laporan pertamanya berstatus informative. Laporan kelima yang dikirim pada 3 September 2026 akhirnya dinyatakan valid dan mengantarkan namanya masuk Hall of Fame NASA.

instagram embed