Kumparan Logo
Konten Media Partner

Begini Telemedisin ala Desa di Bantul Bekerja Efektif Tangani COVID-19

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin (pakai batik tenga) dan Bupati Bantul Abdul Halim Muslih (sebelah kiri Menkes) meninjau vaksinasi COvid-19 di Puskesmas Bambanglipuro beberapa waktu lalu. Foto: Dok. Puskesmas Bambanglipuro
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin (pakai batik tenga) dan Bupati Bantul Abdul Halim Muslih (sebelah kiri Menkes) meninjau vaksinasi COvid-19 di Puskesmas Bambanglipuro beberapa waktu lalu. Foto: Dok. Puskesmas Bambanglipuro

Ada tiga desa yang memiliki layanan telemedisin dan telekonsultasi di Bambanglipuro, di antaranya Kalurahan Sumbermulyo, Sidomulyo, dan Mulyodadi.

Melalui siaran pers tertulisnya, Abraham mengatakan bahwa telemedisin dan telekonsultasi ala desa ini terbukti efektif dalam mencegah transmisi lokal COVID-19, meskipun belum secanggih telemedisin digital karena hanya memanfaatkan layanan pesan digital WhatsApp.

“Telemedisin ala desa terbukti efektif mencegah terjadinya transmisi lokal Omicron dan mengurangi keterisian tempat tidur pasien COVID-19 di rumah sakit,” kata Abraham Wirotomo dalam keterangan tertulis, Senin (14/2).

Foto: Dok. Puspesmas Bambanglipuro

Kepala Puskesmas Bambaglipuro, dr. Tarsisius Glory, ketika dihubungi, mengatakan bahwa aplikasi WhatsApp dipilih selain karena murah, juga untuk memudahkan pengguna.

Mengingat layanan telemedisin dan telekonsultasi tersebut digunakan di desa, dimana masih banyak masyarakat yang pemahaman akan teknologinya masih terbatas. Di sisi lain, WhatsApp dinilai sudah sangat memasyarakat dan hampir seluruh masyarakat bisa menggunakannya.

“Kalau pakai aplikasi khusus kan selain mahal juga lebih sulit untuk digunakan, kalau dengan WhatsApp saja sudah cukup, ngapain mempersulit diri pakai aplikasi baru,” kata dr. Glory, kemarin.

Dia menjelaskan, layanan ini telemedisin dan telekonsultasi ini sebenarnya sudah dikembangkan sejak awal tahun kemarin, ketika varian Delta merebak begitu hebat. Prinsip kerjanya, jika ada masyarakat yang bergejala COVID-19 atau baru saja melakukan kontak erat dengan pasien COVID-19, mereka diminta untuk menghubungi petugas puskesmas melalui nomor khusus.

Setiap desa hanya ada dua petugas, namun mereka memiliki grup-grup yang bernama petugas bina dusun (gasbinsun) di 45 padukuhan. Setelah pasien menghubungi melalui kontak tersebut, nanti dia akan diarahkan oleh petugas tentang apa yang harus dia lakukan sesuai dengan gejala atau kondisi yang dia alami. Misalnya dia perlu melakukan tes swab antigen atau PCR, apakah cukup isolasi mandiri atau perlu dirawat di shelter, atau bahkan harus dirujuk ke rumah sakit.

Jika ternyata pasien membutuhkan obat, maka nanti petugas yang di dalamnya terdapat dokter akan mengirimkan obat ke rumah pasien.

“Swab baik antigen maupun PCR, obat, serta segala jenis pendampingan dari petugas semuanya gratis, masyarakat tidak perlu membayar biaya apapun,” ujarnya.

Para pasien juga akan dimasukkan ke dalam sebuah grup yang di dalamnya juga terdapat petugas kesehatan, termasuk dokter. Sehingga pasien bisa langsung melaporkan dan konsultasi tentang perkembangan kondisinya di grup tersebut, dan dia baru akan keluar ketika sudah benar-benar sembuh.

Layanan telemedisin dan telekonsultasi ini menurut dr Glory sangat membantu dalam upaya pemantauan dan penanganan pasien COVID-19, serta proses distribusi obat ke pasien. Tanpa biaya yang besar dan tenaga yang banyak, pandemi bisa tetap ditangani dengan optimal.

“Yang penting mau atau tidak, serta semua pihak harus kompak, karena modal utamanya adalah gotong royong,” kata dr Glory.

Petugas vaksinasi di Puskesmas Bambanglipuro. Foto: Dok. Puskesmas Bambanglipuro

Penyuluh Kesehatan Puskesmas Bambanglipuro yang juga bertanggung jawab di Kalurahan Mulyodadi, mengatakan layanan ini memang sangat membantu para petugas, apalagi saat ini sebagian besar pasien COVID-19 sudah bisa melakukan isolasi mandiri.

Ketika melakukan isolasi mandiri, maka satu-satunya lembaga kesehatan yang bisa diandalkan adalah puskesmas, mengingat merekalah yang paling dekat dengan tempat tinggal masyarakat.

Dengan adanya pemantauan ini, meski tidak langsung mengecek pasien dengan peralatan yang lengkap, minimal anamnesis perkembangan kondisi pasien sudah terekam oleh puskesmas. Anamnesis dari pasien itu juga bisa menjadi dasar para dokter untuk menentukan apa langkah berikutnya yang harus dijalani pasien.

“Sangat membantu untuk melakukan langkah-langkah lanjutan dalam penanganan pasien,” ujar Anang.

Satu-satunya kendala yang cukup dirasakan menurutnya saat ini adalah tidak meratanya pemahaman teknologi di tengah masyarakat. Meski sudah disederhanakan hanya menggunakan WhatsApp, namun ada sejumlah pasien yang sudah lanjut usia dan tidak bisa mengoperasikan gawai.

Namun masalah itu bisa diatasi dengan cara bekerja sama dengan dukuh, kader, ataupun keluarga pasien untuk melaporkan kondisi pasien secara real time setiap hari. Selain itu, ada juga beberapa titik yang kondisi sinyalnya tidak bagus sehingga seringkali menghambat komunikasi petugas dengan pasien.

“Saat ini pasien terus meningkat lagi, tapi masih terkendali. Jika situasinya semakin memburuk, maka kami akan melibatkan lintas sektor seperti dari babinsa, babinkamtibmas, dan sebagainya,” ujarnya.