FKY 2026 Catat 53 Ribu Pengunjung, Perputaran Ekonomi Capai Rp1 Miliar

Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026 mencatat lebih dari 53 ribu pengunjung selama tujuh hari penyelenggaraan di Lapangan Beran, Sleman. Dari jumlah kunjungan tersebut, transaksi penjualan selama festival tercatat lebih dari Rp1 miliar. FKY 2026 resmi ditutup pada Sabtu (19/9).
Capaian transaksi tersebut menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang berlangsung selama festival. Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Sleman menyebut peningkatan kunjungan FKY diharapkan memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM lokal. Di sisi lain, FKY juga melibatkan 1.767 seniman dan tim produksi serta berbagai komunitas dalam rangkaian programnya.
Keterlibatan seniman dan komunitas tersebar dalam berbagai program selama tujuh hari. Pada pertunjukan kolosal pembukaan, misalnya, terdapat 502 penari dan 122 anggota tim produksi dari seluruh kabupaten/kota di DIY. Peserta terbanyak berasal dari Bantul sebanyak 170 orang, Gunungkidul 157 orang, dan Sleman 139 orang. Peserta lainnya berasal dari Kulon Progo 64 orang, Kota Yogyakarta 61 orang, serta perwakilan tingkat DIY 33 orang.
Di luar pertunjukan kolosal, sebanyak 1.143 penampil mengisi program FKY lainnya. Festival juga melibatkan komunitas di luar sektor kebudayaan, seperti komunitas lari Silent Miles, komunitas jalan kaki Tamasya Karsa, dan sejumlah komunitas sepeda. Total peserta dari berbagai komunitas tersebut mencapai lebih dari 400 orang.
FKY Dorong Festival Minim Sampah dan Inklusif
Selain memperluas pelibatan seniman dan komunitas, FKY 2026 membawa perubahan pada pengelolaan festival, termasuk dalam aspek lingkungan dan akses bagi pengunjung.
Dalam pengelolaan sampah, panitia mencatat 1.230 kilogram sampah dikelola selama festival. Sebanyak 229 kilogram di antaranya dipilah menjadi sampah organik dan anorganik untuk diproses lebih lanjut. Pengelolaan tersebut dilakukan bersama Sedekah Sampah dan TacTic Plastic.
Konsep minim sampah juga diterapkan pada infrastruktur artistik. Sembilan seniman kolaborator menggunakan material seperti kayu, bambu, cat, dan bahan lain yang mudah didaur ulang untuk sejumlah elemen artistik. Panitia mencatat sekitar 90 persen elemen artistik di area FKY menggunakan pendekatan tersebut.
Dari sisi akses pengunjung, FKY menyediakan permainan anak, ruang baca, workshop bahasa isyarat, sesi mendongeng, serta penampilan anak. Festival juga melarang merokok dan menggunakan vape di seluruh area, dengan menyediakan titik khusus bagi pengunjung yang merokok.
Rangkaian Tema Pentalogi Berlanjut hingga 2027
FKY 2026 merupakan bagian dari rangkaian tema pentalogi yang dimulai pada 2023. Setelah mengangkat Pangan pada 2023, Benda pada 2024, dan Adat Istiadat pada 2025, FKY tahun ini mengangkat Bahasa dengan tajuk “Aksara”. Rangkaian tersebut akan berlanjut dengan tema berikutnya pada 2027.
Setelah tahun sebelumnya digelar di Gunungkidul, FKY 2026 berlangsung di Kabupaten Sleman pada 13–19 September 2026. Selama penyelenggaraan, festival menghadirkan berbagai program seni dan budaya serta kolaborasi dengan komunitas, pemerintah kabupaten/kota, dan lembaga lintas sektor.
Penutupan FKY 2026 ditandai dengan pencabutan bilah bambu di gerbang utama oleh Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X bersama Bupati Sleman Harda Kiswaya dan Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi. Bilah bambu tersebut kemudian diserahkan kepada FJ Kunting dan diarak menuju Panggung Taling sebelum dilanjutkan dengan penampilan Kiai Kanjeng.
