Harga Lapak Buah 4x6 Meter di Pasar Buah Gamping Capai Rp 1-1,5 Miliar
·waktu baca 4 menit

Status semua lapak yang ada di Pasar Induk Buah Gamping berupa hak milik, tidak seperti pasar pada umumnya di mana pedagang biasanya hanya menyewa dan mendapatkan hak guna saja. #publisherstory
Harga satu lapak buah di Pasar Induk Buah Koperasi Gemah Ripah, Gamping, Sleman, sudah setara dengan harga rumah dua lantai di kompleks perumahan yang cukup elit di Jogja. Padahal, ukuran lapak buah tersebut hanya 4x6 meter.
Manajer Koperasi Gemah Ripah, Bambang Rahardjo, mengatakan bahwa saat ini harga lapak di Pasar Induk Buah Gamping sudah mencapai miliaran.
“Saat ini di kisaran Rp 1 miliar sampai Rp 1,5 miliar, sudah dapat rumah itu,” ujar Bambang Rahardjo, Juat (17/12).
Meski sudah menyentuh angka miliaran, namun harga segitu menurut dia sangat layak dengan keberadaan pasar yang strategis, dan jadi salah satu penyuplai buah paling penting, bukan hanya di Yogyakarta, tapi juga sampai ke Jawa Tengah, Jawa Timur, serta Jawa Barat. Karena itu, sebagai tempat bisnis menurut dia sangat menjanjikan.
“Ya dengan penghasilan normal, tak sampai 10 tahun sudah balik modal,” ujar dia.
Saat ini, total ada 168 lapak buah di Pasar Induk Buah Gamping, dengan total lahan hampir 3 hektar. Padahal, awalnya lahan yang dimiliki hanya berupa dua kotak yang masing-masing berukuran 823 meter saja. Seiring berjalannya waktu, areanya terus meluas dengan membeli lahan-lahan yang ada di sebelah utaranya.
“Terakhir kita beli yang paling belakang itu khusus untuk warung makanan, supaya lebih tertata,” lanjutnya.
Status semua lapak yang ada di Pasar Induk Buah Gamping memang berupa hak milik, tidak seperti pasar pada umumnya di mana pedagang biasanya hanya menyewa dan mendapatkan hak guna saja. Jadi, lapak yang ada di sana adalah milik masing-masing pedagang, bukan milik koperasi.
“Dan itu satu-satunya pasar di Indonesia yang punya sertifikat (hak milik), karena pada saat itu saat kita dapat pinjaman kita bagi sama pedagang untuk mengembalikan,” kata Bambang.
Karena yang mengangsur pinjaman adalah pedagang, maka mereka juga yang memegang sertifikat hak milik. Sedangkan koperasi hanya memiliki jalan, toilet, titipan sepeda motor, serta satu blok pasar yang disewakan supaya bisa menggaji karyawan.
Jalan Panjang, dari Lapak Beratap Pohon Tebu Jadi Bernilai Miliaran
Perjalanan Pasar Induk Buah Gamping Koperasi Gemah Ripah bermula pada 1993, ketika para pedagang yang saat itu berada di kawasan yang kini jadi Shopping Center di dekat Taman Pintar, diminta untuk mengosongkan tempat tersebut. Beberapa tempat sempat jadi opsi, seperti di dekat Terminal Giwangan yang kini jadi Pasar Induk Buah dan Sayur Giwangan, sampai ke kawasan yang kini jadi Terminal Jombor di Jalan Magelang.
Namun, pedagang yang saat itu tergabung dalam Paguyuban Gemah Ripah enggan pindah ke tempat tersebut karena dinilai tidak strategis dan lapaknya terlampau sempit. Setelah melalui proses yang panjang, meminta masukkan dan bernegosiasi ke sejumlah pihak, mereka memutuskan untuk pindah ke Gamping. Untuk mempermudah proses pencarian modal pinjaman dan pengelolaan, mereka juga mengubah status paguyuban menjadi koperasi.
Modal awal untuk membeli lahan di Gamping berasal dari pinjaman bank, dimana Bambang dan kakaknya terpaksa menggadaikan sertifikat tanah mereka untuk mendapatkan pinjaman. Dengan jaminan empat sertifikat tanah, mereka mendapat pinjaman modal sebesar Rp 600 juta, dari yang diajukan sebesar Rp 1 miliar.
“Kita gambling, yang penting tujuannya baik. Andaikan pasar ini enggak jadi, pasti diganti sama Allah, kakak saya langsung setuju,” kata Bambang Rahardjo.
Dengan modal yang dimiliki, koperasi membeli lahan seluas 823 meter, yang kini menjadi kawasan pasar paling selatan. Di lahan itu, dibangunlah lapak-lapak untuk para pedagang yang dipindah dari Shopping Center dengan ukuran tiap lapak 4x6 meter.
“Lapaknya belum seperti sekarang, masih dari bambu terus atapnya itu dari pohon tebu,” ujarnya.
Tiga tahun pertama menjadi masa paling sulit bagi para pedagang dan koperasi. Dari yang semula ada sekitar 75 sampai 100 pedagang, perlahan mulai banyak yang meninggalkan lapak karena pasar sangat sepi hingga banyak yang merugi. Tak tanggung-tanggung, kerugiannya mencapai puluhan hingga ratusan juta.
“Bukan cuman susah, nangis kita,” lanjutnya.
Baru sekitar 4 sampai 5 tahun setelah itu, mereka mulai mendapatkan pelanggan. Pasar perlahan mulai berkembang, meski pengurus koperasi masih bekerja sebagai sukarelawan. Baru tiga tahun silam, pengurus koperasi mendapatkan imbalan berupa uang seadanya, yang itupun lebih sering dipakai untuk makan bersama seluruh karyawan pasar.
Dan saat ini, pasar tersebut terus berkembang, bahkan jadi yang paling besar di DIY dan menjadi salah satu pasar buah paling penting di Jawa.
“Jalannya sangat panjang, berliku, dari yang dulu cuman beratap pohon tebu, sekarang harganya sudah mencapai miliaran,” kata Bambang Rahardjo. (Widi Erha Pradana / YK-1)
