Periode November sampai Januari Jadi Musim Paceklik untuk Penjual Buah
·waktu baca 3 menit

Musim penghujan seperti sekarang, menjadi musim paceklik bagi para penjual buah, khususnya penjual buah di Pasar Induk Buah Koperasi Gemah Ripah, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pasalnya, di musim hujan seperti ini, nyaris tidak ada buah yang sedang panen.
Manajer Koperasi Gemah Ripah, Bambang Rahardjo, mengatakan setidaknya dalam setahun penjual buah di sana mengalami masa paceklik selama dua hingga tiga bulan, dari November sampai Januari. Sebab, dalam bulan-bulan itu memang nyaris tak ada buah yang sedang musim.
“Istilahnya paceklik bagi pedagang buah, ini sudah jalan sekitar 1,5 bulan,” ujar Bambang Rahardjo.
Secara otomatis, situasi ini juga menurunkan pendapatan pedagang, meski tidak terlalu signifikan. Paling tidak, penurunan yang dialami antara 25 sampai 30 persen. Penurunan itu terutama dialami oleh penjual-penjual yang memang menjual buah musiman. Sedangkan pedagang yang menjual buah tanpa musim seperti nanas, tidak terlalu terpengaruh.
“Karena kan di bulan-bulan ini tidak ada buah yang sedang musim,” lanjutnya.
Meski demikian, bukan berarti pada tiga bulan tersebut tidak ada buah sama sekali. Dengan teknologi yang makin canggih, masa berbuah jadi bisa direkayasa, sehingga bisa tetap berbuah meskipun tidak pada musimnya.
“Jadi meskipun tidak musim ya tetap masih ada, cuman sedikit,” ujarnya.
Setelah musim paceklik berakhir, satu per satu buah mulai panen. Seperti jeruk, mangga, jambu, buah naga, apel, duku, manggis, dan seterusnya secara berturut-turut sepanjang tahun.
Keuntungan paling besar, biasanya didapatkan oleh pedagang ketika musim jeruk. Pasalnya, meski sedang panen raya, harganya relatif stabil dan permintaannya tetap banyak.
“Karena semua orang kan suka jeruk, enggak ada yang enggak suka,” kata Bambang.
Adapun penyuplai utama buah-buahan ke Pasar Induk Buah Koperasi Gemah Ripah Gamping adalah Jawa Timur, mulai dari Lumajang, Jember, Malang, Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, dan sebagainya. Selain secara kapasitas besar, rasa buah-buahan dari Jawa Timur juga dinilai lebih enak ketimbang dari daerah lain.
Bambang mencontohkan buah jeruk. Jeruk dari Jawa Timur, menurut dia memiliki rasa yang cocok dengan lidah orang Jawa. Sebab, selain manis, jeruk dari Jawa Timur juga memiliki rasa sedikit asam yang disukai mayoritas orang Jawa.
“Jadi istilahnya disebut jeruk jawa,” kata dia.
Meski begitu, sejumlah provinsi lain juga turut menyuplai buah-buahan ke Pasar Induk Buah Gamping. Misalnya Jawa Barat dengan mangga indramayunya, Jawa Tengah dengan nanas pemalangnya, hingga ke luar Jawa, seperti Medan dengan jeruknya, Palembang dengan dukunya, bahkan ada juga sejumlah buah dari Kalimantan seperti jeruk, mangga, dan sebagainya.
“Jadi dari mana-mana. Memang, yang paling besar selama ini dari sekitar Jawa Timur,” kata Bambang Rahardjo. (Widi Erha Pradana / YK-1)
