Kumparan Logo
Konten Media Partner

Jejak Sejarah Tengkleng Hadir di Meja Makan Hotel Heritage di Jogja

Pandangan Jogjaverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tengkleng kuliner khas Yogyakarta dan Jawa Tengah yang berbahan dasar tulang kambing. Foto: Dok. Istimewa.
zoom-in-whitePerbesar
Tengkleng kuliner khas Yogyakarta dan Jawa Tengah yang berbahan dasar tulang kambing. Foto: Dok. Istimewa.

Tengkleng dikenal sebagai salah satu kuliner khas Yogyakarta dan Jawa Tengah. Hidangan berbahan tulang kambing dengan sedikit daging yang masih menempel ini juga menyimpan cerita tentang cara masyarakat mengolah bahan pangan di tengah keterbatasan.

Dalam kisah yang diangkat Royal Ambarrukmo Yogyakarta, tengkleng dipercaya berawal dari kondisi ketika bagian daging kambing terbaik lebih dulu disajikan untuk kalangan kerajaan dan bangsawan. Sementara itu, masyarakat biasa mendapat bagian tulang yang masih menyisakan sedikit daging.

Tamu menikmati rangkaian hidangan dalam pengalaman bersantap Djejak Nusantara Doea di Royal Ambarrukmo Yogyakarta. Foto: Dok.Istimewa.

Bagian tersebut kemudian diolah dengan rempah menjadi hidangan berkuah dengan cita rasa gurih. Dari bahan yang terbatas, lahirlah sajian yang kemudian berkembang dan menjadi bagian dari identitas kuliner Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Kisah tengkleng itu dihadirkan dalam pengalaman bersantap bertajuk Djejak Nusantara Doea di Royal Garden, Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Jumat (21/8). Program tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia dengan mengangkat cerita dan warisan budaya di balik hidangan yang disajikan.

Sejumlah hidangan Nusantara yang disajikan dalam rangkaian menu Djejak Nusantara Doea. Foto: Dok. Istimewa.

Selain tengkleng, Djejak Nusantara Doea menghadirkan sejumlah hidangan yang merefleksikan pertemuan budaya Nusantara, Peranakan, dan Belanda dalam kuliner Indonesia. Menu yang disajikan antara lain Bistik Lidah Sapi, Selat Solo, Semoor Daging Sengkel dengan kentang, Nasi Liwet Bethak Ayam, Bebek Swart Zuur, Glendok Piyik, dan Sup Brenebon.

Rangkaian sajian tersebut dilengkapi kudapan bergaya Peranakan dan Belanda, seperti Dutch Sausage, Oliebollen, Bitterballen, dan Croquette. Pengalaman bersantap kemudian ditutup dengan Klappertaart sebagai hidangan penutup.

Pemusik tampil mengiringi suasana acara Djejak Nusantara Doea di Royal Ambarrukmo Yogyakarta. Foto: Dok.Istimewa

Melalui Djejak Nusantara Doea, makanan ditempatkan bukan hanya sebagai sajian, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat. Kisah tengkleng menjadi salah satu contoh bagaimana kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan pangan yang tersedia dapat melahirkan tradisi kuliner yang bertahan hingga kini.

Sebagai hotel heritage yang memiliki keterikatan dengan sejarah dan budaya Yogyakarta, Royal Ambarrukmo Yogyakarta menghadirkan pengalaman kuliner yang mempertemukan tamu dengan warisan Nusantara. Melalui program tersebut, cerita di balik hidangan turut menjadi bagian dari pengalaman bersantap.

Melalui kisah tengkleng, makanan tidak hanya dipandang sebagai sajian, tetapi juga sebagai rekam jejak kehidupan masyarakat. Hidangan yang berawal dari keterbatasan tersebut menunjukkan bagaimana kreativitas dan kearifan dalam mengolah bahan pangan yang tersedia dapat melahirkan warisan kuliner yang bertahan hingga kini.