Jugil Adiningrat Terpilih sebagai Ketum Keluarga Madura Yogya, Ini Visinya
·waktu baca 4 menit

Jugil Adiningrat terpilih sebagai Ketua Umum (Ketum) Keluarga Madura Yogyakarta (KMY) dalam musyawarah pemilihan pengurus di Hotel Ros In Yogyakarta, Sabtu (20/8). Yogi terpilih sebagai ketum KMY menggantikan ketum periode sebelumnya, Achmad Fadli Fauzi.
Dalam pidatonya sebagai Jugil mengatakan Yogyakarta adalah kota yang sangat khusus bagi keluarga Madura sebab kota ini bukan hanya kota yang menjanjikan ekonomi tapi juga kehidupan budaya dan menjadi manusia seutuhnya.
"Di Yogya ini semua perantauan kumpul jadi satu dan karena ini kota pelajar, kota budaya, jadi ya pintar-pintar, dan semua bisa ikut pintar. Yogya benar-benar memberi arti bagi kita sebagai manusia, bukan hanya sebagai makhluk ekonomi tapi sebagai manusia seutuhnya, ayem tentrem dan berbudaya," papar Jugil.
Salah satu kebanggaan orang Madura di Yogya adalah Menko Polhukam Mahfud MD yang menurut Jugil musti menjadi cambuk bagi semua orang Madura untuk berkontribusi lebih banyak bagi negeri ini, khususnya bagi kota Yogyakarta tercinta.
Di Yogya juga banyak orang-orang Madura yang menjadi dosen, tak hanya di universitas-universitas negeri tapi juga universitas swasta.
Di bidang budaya, Madura punya tradisi pembuatan keris yang kuat yang bisa dikolaborasikan dengan tradisi budaya keris di Yogya yang juga kuat. Khusus Sumenep sebagai Kota Keris dan Bantul sebagai Kota Warangka Keris, menurut Ketum, bisa dikolaborasikan lebih erat lagi agar tercipta budaya keris yang lebih kuat dan juga ekonomi kreatif yang maju.
"Dengan banyaknya orang Madura di Yogya, kami rasa penting bagi kita semua untuk berkontribusi lebih banyak bagi kota Yogya tercinta ini," kata Jugil, yang punya latar belakang sebagai pecinta dan kolektor keris ini.
Yang sederhana kalau ada bencana, menurut Jugil, Keluarga Madura Yogya bisa bareng-bareng melangkah, menyalurkan bantuan apa yang bisa. Dengan jejaring sesama perantauan atau jejaring profesional di tempat-tempat kerja, KMY bisa bersama-sama satu langkah bagaimana meringankan beban saudara-saudara kita yang terkena bencana.
"Gunung Merapi itu kan mau tidak mau, rutin, akan selalu menuntut kita untuk waspada. Itu memberi rejeki berupa pasir yang bisa saya gunakan untuk membangun rumah, gedung, jalan, tapi juga sewaktu-waktu meminta kita semua untuk bersatu padu saling membantu, bukan memikirkan diri sendiri seperti saat kita nyari duit. Duit ini nggih emang bikin pusing. Makanya obatnya memang amal sholeh."
"Saya kira amal sholeh di Yogya, itu yang saya ingin kita orang Madura, bisa bareng-bareng mengerjakannya. Kalau sendiri berat, bareng-bareng jadi ringan," papar Jugil.
Akan Gandeng LBH, Izin Usaha Makin Gampang
Sementara ke dalam organisasi KMY, sebagai ketua terpilih, Jugil mengatakan ke depan mereka akan memperkuat mesin organisasi sehingga bisa lebih mewadahi kepentingan orang-orang Madura yang tinggal di Yogyakarta.
Salah satunya adalah dengan menggandeng lembaga bantuan hukum (LBH) untuk mengadvokasi kepentingan-kepentingan warga Madura yang ada di Yogya.
“Ketika butuh pendampingan secara hukum atau ada hal yang harus diadvokasi, maka akan didampingi oleh LBH khusus Madura tersebut,” kata Jugil yang sehari-hari berprofesi sebagai seorang pengusaha konstruksi ini.
LBH ini menurut Jugil sangat dibutuhkan oleh masyarakat Madura di Yogyakarta, terutama para niagawan. Seringkali, ketika akan membuka usaha mereka dihadapkan pada masalah-masalah perizinan yang rumit. Di sisi lain, tak semua dari mereka memiliki pengetahuan yang cukup mengenai regulasi dan aturan perizinan pendirian usaha di Yogyakarta.
“Dengan adanya LBH ini kan bisa membantu proses perizinan itu,” lanjutnya.
Menurut Jugil, selain niagawan, ada dua elemen utama lain dari masyarakat Madura yang ada di Yogyakarta, di antaranya cendekiawan dan mahasiswa atau pelajar. Nantinya, jika elemen-elemen tersebut membutuhkan pendampingan hukum juga bisa didampingi oleh LBH tersebut.
Selain itu, pengurus baru nantinya juga akan membaca ulang apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh orang-orang Madura yang ada di Yogyakarta. Dengan begitu nantinya dapat ditentukan rencana-rencana strategis baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang. Dengan begitu, Jugil berharap KMY bisa benar-benar memperkuat dan mewadahi kepentingan seluruh elemen warga Madura yang ada di Yogyakarta.
Sebab selama ini elemen-elemen masyarakat Madura tersebut belum diorganisir secara maksimal, padahal sebenarnya mereka memiliki potensi yang sangat besar.
“Jika potensi tiga elemen itu bisa dikoordinir dengan masif dan melahirkan sebuah agenda bersama, tentunya itu akan lebih keren,” ujarnya.
Di sektor niagawan misalnya, KMY sedang mempersiapkan pemberdayaan tentang segmen-segmen wiraswasta yang ada. Seperti toko kelontong, penjual sate, kontraktor, pedagang barang antik, pangkas rambut, hingga tukang gigi. Setiap elemen itu menurutnya akan dikoordinasikan untuk menentukan agenda strategis yang akan dikerjakan oleh organisasi.
KMY menurut dia juga akan mulai membuka pintu dan jemput bola untuk berkomunikasi dengan stakeholder-stakeholder yang ada di DIY.
“Kita akan melakukan audiensi di setiap kabupaten dan kota, kita akan membuka komunikasi tentang posisi tiga elemen tadi, ada cendekiawan, niagawan, dan mahasiswa,” kata Jugil Adiningrat.
