Kumparan Logo
Konten Media Partner

Kenaikan BBM Bikin Penduduk Miskin DIY Makin Banyak Meski Ekonomi Tumbuh

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Soman Wisnu Darma. Foto: Widi RH Pradana
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Soman Wisnu Darma. Foto: Widi RH Pradana

Jumlah penduduk miskin di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) naik menjadi 463,63 ribu jiwa per September 2022, lebih tinggi dibandingkan Maret 2022 dengan 454,76 ribu jiwa. Padahal, perekonomian DIY mengalami pertumbuhan sebesar 5,82 persen dibandingkan tahun 2021.

Kepala Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Soman Wisnu Darma, mengatakan bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan jumlah penduduk miskin di DIY malah bertambah meski perekonomiannya tumbuh.

Penyebab pertama adalah adanya kenaikan harga BBM pada September 2022, baik Pertalite, Solar, maupun Pertamax. Dimana harga Pertalite naik sampai 30,72 persen, solar 32,04 persen, dan Pertamax 16,00 persen. Kenaikan harga BBM yang cukup signifikan ini otomatis menyebabkan semua harga barang menjadi naik.

Akibatnya, inflasi di DIY juga naik cukup tinggi hingga di angka 6,81 persen pada September 2022.

“Jadi pertumbuhan ekonomi itu langsung tergerus oleh kenaikan inflasi yang lebih tinggi,” kata Soman Wisnu Darma saat ditemui di kantornya, Kamis (19/1).

Para pemulung di TPST Piyungan. Foto: Arif UT

Kenaikan harga BBM ini tidak hanya dirasakan di DIY, tapi hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Hal itu terbukti dari 34 provinsi, hanya delapan provinsi yang angka kemiskinannya menurun, itu pun penurunannya sangat tipis.

Selain kenaikan inflasi, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di DIY juga mengalami kenaikan. Pada Agustus 2022, TPT di DIY mencapai angka 4,06 persen, lebih tinggi dibandingkan Februari 2022 yang persentasenya sebesar 3,73 persen.

kumparan post embed

Jumlah pengangguran ini menurut dia paling banyak tersebar di wilayah pedesaan. Biasanya mereka adalah pekerja serabutan dan buruh tani yang tak punya pendapatan tetap.

“Kalau inflasi naik, tingkat pengangguran naik, pasti angka kemiskinan juga akan naik,” lanjutnya.

Kondisi ini diperparah oleh tingkat pola pangan harapan yang masih kurang bagus. Pola pangan harapan sendiri merupakan keragaman makanan yang dikonsumsi oleh penduduk. Rendahnya pola pangan harapan ini akan mempengaruhi jumlah kalori yang dikonsumsi oleh masyarakat. Itu mengapa garis kemiskinan makanan masih mendominasi kemiskinan yang ada di DIY dengan komposisi mencapai 72,25 persen.

“Memang ada pertumbuhan ekonomi, tapi dengan kenaikan BBM, inflasi, pengangguran meningkat, pasti kemiskinan naik,” kata Soman Wisnu Darma.