Kumparan Logo
Konten Media Partner

Kiandra Ramadhipa, Deru Mesin Sejak dalam Kandungan

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Muhammad Kiandra Ramadhipa, pebalap asal Bantul yang menjuarai European Talent Cup (ETC) 2025 di Sirkuit Catalunya, Barcelona. Foto: Gigih Imanadi Darma
zoom-in-whitePerbesar
Muhammad Kiandra Ramadhipa, pebalap asal Bantul yang menjuarai European Talent Cup (ETC) 2025 di Sirkuit Catalunya, Barcelona. Foto: Gigih Imanadi Darma

Janin dalam kandungan dapat terpengaruh oleh hal-hal di sekitarnya, sebagaimana kecintaan seorang anak pada dunia balap yang terbentuk lantaran sering mendengar raungan mesin motor dan mobil sejak masih di rahim sang ibu. Setidaknya, demikian dugaan Muhammad Yoki Arafat, pria yang sehari-hari membuka bengkel di rumah saat istrinya tengah mengandung. Janin itu kelak tumbuh sebagai Muhammad Kiandra Ramadhipa, pembalap muda yang awal November lalu berhasil menjuarai European Talent Cup 2025 di Barcelona meski harus start dari posisi ke-24.

“(Waktu) hamilnya ibunya dulu itu, saya kan ngebengkel di rumah. Terus waktu mau lahiran, saya bawa naik mobil yang ceper yang suaranya keras. Terus habis itu, waktu lahir umur berapa hari, saya tinggal kerja. Waktu (saya) pulang, (Rama) langsung rewel, nangis. Saya sambil betulin mobil, lah diam (berhenti tangisannya),” kata Yoki saat ditemui Pandangan Jogja, Kamis (4/12).

Rama menjuarai seri keenam European Talent Cup (ETC) 2025 di Sirkuit Catalunya, Barcelona. Selisihnya hanya 0,007 detik dari pembalap tuan rumah, Carlos Cano. Memulai balapan dari urutan ke-24 tentu bukan hal yang menguntungkan. Seberapa besar probabilitas untuk dapat menyusul 23 pembalap lain yang beruntung bisa start lebih depan? Namun, Muhammad Kiandra Ramadhipa berhasil melampaui ketidakmungkinan itu. Dengan finis di urutan pertama, ia menjadikan sesuatu yang tampak mustahil menjadi muskil—sulit, tetapi bukannya tidak mungkin sama sekali.

Muhammad Yoki Arafat, ayah Muhammad Kiandra Ramadhipa. Foto: Gigih Imanadi Darma

Kemenangan itu diperoleh Rama usai mengalami salah satu titik terendah sepanjang karier balap. Pada babak kualifikasi, ia berbuat kesalahan yang membuatnya terkena penalti dan terdepak ke posisi start paling belakang. Padahal, ia seharusnya bisa mulai di posisi depan.

“Di kualifikasinya, saya melakukan kesalahan slowing down yang tidak diperbolehkan karena mengganggu pembalap lain. Saya mendapatkan penalti, dan tim sedikit kurang senang karena kesalahan saya,” tutur pembalap berusia 16 tahun itu saat ditemui Pandangan Jogja, Kamis (4/12). Meski sempat merasa terpuruk, Rama tak membiarkan fokusnya lenyap. Berbagai upaya dilakukannya untuk menenangkan diri: berkomunikasi dengan keluarga, salat, serta menjaga kebugaran fisik sebelum race di Catalunya, yang diakuinya sebagai balapan terbaik sepanjang hidup.

“Saya sangat senang dengan race itu, karena saya menyalip banyak pembalap dan juga harus me-manage fisik saya, mengontrol pikiran saya. Alhamdulillah, saya bisa memenangkan balapannya di garis finis.”

Muhammad Kiandra Ramadhipa mengangkat trofi dan bendera Indonesia di podium European Talent Cup (ETC) 2025 di Sirkuit Catalunya, Barcelona. Foto: Istimewa

Kemenangan di Catalunya bukan yang pertama bagi Rama sepanjang berkompetisi di European Talent Cup tahun ini. Pada seri ketiga ETC 2025 Juli lalu, siswa kelas 10 SMK Diponegoro Depok, Sleman itu juga finis pertama di sirkuit Magny-Cours, Prancis.

Rama akrab dengan dunia otomotif sejak dini karena Yoki merupakan seorang mekanik. Ayahnya itu, juga kakaknya, dulu merupakan pembalap meski tak profesional. Yoki mengingat momen pertama putranya masuk ke dunia balap saat berusia 4 tahun 2 bulan.

“Karena Rama kan ulang tahun itu di Desember, sekitar Januari atau Februari itu dia mulai latihan. Kemudian di bulan-bulan empat (April), bulan lima (Mei) itu sudah mulai ada kejuaraan. Dimulai umur 4 tahun, kita mulai waktu itu (dengan) motocross sebelum turun ke road race seperti sekarang ini,” kisahnya. Ia sendiri yang melatih Rama secara serius, mulai dari belajar mengendarai motocross di depan rumah hingga meningkat ke motor Mini GP dan Underbone. Diakui Rama, sang ayah selalu tegas dalam melatih dan memberi arahan, bahkan tak segan memarahinya jika ia berbuat kesalahan.

“Kalau sekarang latihannya lebih keras. Sepedaan, gym, lari, dan juga latihan motocross. Kadang-kadang juga latihan motor biasa. Itu satu minggu mungkin liburnya dua hari atau hanya hari Minggu. Kalau sepedaan biasanya minimal 2 jam. Biasanya mulainya kalau sepedaan pagi banget, dari rumah jam 5. Terus habis itu siang latihan motor, mungkin dari jam 1 sampai jam 5 atau jam 4,” tutur pembalap yang mengidolakan Fabio Quartararo dan Mark West itu.

Kala Pandemi Nyaris Menyetop Laju Sang Pembalap

Muhammad Kiandra Ramadhipa setelah menjadi yang pertama melewati garis finis di European Talent Cup (ETC) 2025 di Sirkuit Catalunya, Barcelona. Foto: Istimewa

Gairah Rama di dunia balap sempat terbendung kala pandemi merebak pada 2020 silam. Menghadapi situasi tak menentu ini, Yoki memutar otak: bagaimana caranya agar semangat Rama tak padam, sementara lockdown membuat sirkuit-sirkuit berhenti beroperasi dan seluruh latihan tak lagi berjalan? Ia pun mengambil keputusan besar—sebuah keputusan yang awalnya hanya menjadi bahan tertawaan: membawa keluarganya pindah ke Jakarta.

“Saya melihat di sana ada Sirkuit Sentul. Nah, Sirkuit Sentul waktu itu memang satu-satunya sirkuit yang tetap buka dengan protokol khusus. Menurut saya waktu itu, ini satu-satunya jalan untuk latihan tanpa ada gangguan apa pun, karena kita memang waktu itu juga nggak bisa berkegiatan apa-apa. Kan semua lockdown, semua nggak bisa ngapa-ngapain,” papar Yoki. Di sisi lain, ia juga merasa perlu mendekat ke ekosistem balap yang memang terpusat di Ibu Kota.

“Waktu itu banyak orang yang menertawakan, banyak orang yang mengatakan aneh, bahkan keluarga juga bertanya-tanya, apa sih yang kalian kejar? Cuma ya balik lagi, komitmen yang sudah saya bangun dengan anak saya ini nggak mungkin saya ubah. Kalau bahasa orang kita, namanya menyelam kalau nggak dapat mutiara ya buat apa? Orang kalau menyelam cuma dapat ikan, ngapain menyelam, kan bisa mancing.”

Muhammad Kiandra Ramadhipa tergabung dalam tim Hnda Asia Dream Racing. Foto: Instagram/mk.ramadhipa212

Keputusan Yoki merantau saat pandemi ternyata membawa Rama pada takdirnya: dikontrak profesional oleh Astra Honda Racing Team dan mulai melaju di kejuaraan dunia pada 2022, hingga kini berkompetisi di ETC bersama Honda Asia Dream Racing Junior Team.

“Ketika saya dan Rama mengambil keputusan bahwa di 2022 kita masuk ke tim itu, salah satu tim Honda di bawah naungan Astra, dari situlah pintu gerbang Rama bisa sampai sekarang,” pungkas Yoki.