Kisah Sekolah Cak Nun-Eross Sheila on 7 Diabadikan dalam Buku 77 Tahun MUHI

Kisah masa sekolah budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun hingga musisi Eross Sheila on 7 dihimpun dalam buku “MUHI untuk Negeri: Sejarah, Alumni, Sumbangsih”. Buku ini merekam perjalanan 77 tahun SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (MUHI), termasuk pengalaman dan kiprah para alumninya di berbagai bidang.
Selain Cak Nun dan Eross, buku tersebut memuat kisah penyanyi Ebiet G Ade, akademisi Fathul Wahid, hingga sutradara Fajar Nugros. Penyusunannya melibatkan wawancara dengan lebih dari 120 narasumber, dengan rentang angkatan alumni dari lulusan 1963 hingga 2025.
Buku terbitan LaksBang Akademika ini merupakan hasil kerja sama Ikatan Alumni SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (IKAMUHI) dan MUHI. Peluncuran awalnya berlangsung dalam peringatan milad ke-77 MUHI di Sportorium UMY, Bantul, Rabu (23/9/2026).
Ketua Umum IKAMUHI, Ida Pujiastuti, mengatakan buku tersebut menghimpun kenangan sekaligus merekam perjalanan sekolah, guru, dan para alumni.
“Melalui lembaran buku ini, kita diajak untuk tidak melupakan akar sejarah dan perjuangan para pendiri serta guru-guru kita terdahulu. Buku ini juga merangkum kisah inspiratif dari beberapa alumni yang telah menorehkan prestasi di berbagai bidang. Ini menjadi bukti nyata bahwa bangku-bangku kelas MUHI berhasil menempa generasi yang unggul dan berdampak bagi masyarakat bangsa dan negara,” tutur Ida, yang juga alumni MUHI 1984.
Wawancarai Lebih dari 120 Narasumber
Buku ini ditulis oleh empat jurnalis, yakni Fernan Rahadi, jurnalis Republika sekaligus alumni MUHI 2003; Arif Koes Hernawan, mantan jurnalis Gatra yang kini menjadi penulis lepas; Latief Noor Rochmans, jurnalis Kedaulatan Rakyat; serta Rahajeng Kartika Anindita Pramesi, jurnalis Beritajatim.
Ketua Tim Penulis, Fernan Rahadi, mengatakan proses penyusunan berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Tim menghubungi narasumber satu per satu, melakukan wawancara, mengumpulkan dokumentasi, dan menyusun tulisan.
“Namun tidak semuanya berjalan mulus, ada nomor telepon yang tak dapat dihubungi, narasumber yang tak bisa ditemui, hingga alumni yang enggan diwawancarai dan dipublikasikan. Dalam pengumpulan foto-foto pun tak kalah tantangannya, perburuan foto berlangsung hingga akhir tenggat naik cetak,” jelas Fernan.
Narasumbernya tidak hanya alumni, tetapi juga kepala sekolah dan guru, mantan kepala sekolah dan mantan guru, pembina kegiatan ekstrakurikuler, pegiat sekolah, serta keluarga sejumlah tokoh yang pernah menjadi bagian dari MUHI.
Alumni tertua yang diwawancarai adalah Siti Hadiroh, lulusan 1963. Ia meninggal dunia saat proses penyusunan buku masih berlangsung.
Pemilihan alumni mempertimbangkan kontribusi, prestasi, dan keterwakilan bidang. Untuk alumni generasi muda, tim penyusun juga menggunakan rekomendasi dan data dari pihak sekolah.
Merekam Sejarah dan Harapan untuk MUHI
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menilai dokumentasi sejarah lembaga pendidikan diperlukan untuk menjaga ingatan kolektif.
“Sejarah sebuah lembaga pendidikan akan kehilangan maknanya jika tidak dirawat dan diwariskan,” kata Haedar.
Menurutnya, buku tersebut menjadi bagian dari upaya IKAMUHI dan MUHI untuk merekam serta mewariskan perjalanan sekolah kepada generasi sekarang dan mendatang.
Kepala Sekolah MUHI, Herynugroho, menyebut buku ini merekam sebagian perjalanan sekolah, termasuk pengalaman dan perjuangan keluarga besar MUHI. Ia berharap kisah-kisah di dalamnya dapat menjadi kenangan sekaligus sumber inspirasi bagi generasi berikutnya.
Sementara itu, Ketua KPK RI periode 2010–2011 sekaligus alumni MUHI 1971, Busyro Muqoddas, berharap buku tersebut turut memperkuat peran alumni dalam mewujudkan MUHI Reborn.
Menurut Busyro, gagasan itu menempatkan MUHI sebagai institusi yang melahirkan calon pemimpin bangsa dan pembelajar yang terus menuntut ilmu dengan menjunjung kemuliaan akhlak.
