Krisis Lagu Anak, Keraton Yogya Akan Luncurkan Tembang Jawa Anak

Konten Media Partner
9 Maret 2022 16:17
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Panghageng KHP Kridhomardowo Keraton Yogyakarta, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro saat mengisi Simposium Internasional Keraton Yogyakarta yang digelar secara daring, Selasa (8/3). Foto: Widi Erha Pradana
zoom-in-whitePerbesar
Panghageng KHP Kridhomardowo Keraton Yogyakarta, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro saat mengisi Simposium Internasional Keraton Yogyakarta yang digelar secara daring, Selasa (8/3). Foto: Widi Erha Pradana
ADVERTISEMENT
Ketiklah ‘Tembang Jawa Anak’ atau 'Tembang Dolanan Anak' dalam kolom pencarian YouTube, maka yang akan keluar tidak akan jauh-jauh dari lagu Padang Bulan, Cublak-Cublak Suweng, Suwe Ora Jamu, Sluku-Sluku Bathok, atau Gundul-Gundul Pacul. Lagu-lagu tersebut, paling baru diciptakan tahun 1980-an, sisanya sudah eksis bahkan ketika nenek buyut kita masih anak-anak.
ADVERTISEMENT
Melihat tak ada lagi lagu-lagu Jawa anak yang dirilis sejak beberapa dekade terakhir, Keraton Yogyakarta berencana untuk merilis lagu-lagu Jawa anak.
Hal itu disampaikan oleh Panghageng KHP Kridhomardowo Keraton Yogyakarta, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro, dalam acara simposium internasional yang digelar secara daring pada Selasa (8/3). Menurutnya, lagu atau tembang Jawa anak-anak itu akan diproduksi oleh Jogja Royal Orchestra, kelompok musik orkestra milik Keraton Yogyakarta.
“Kalau kita cari di ranah virtual itu (lagu Jawa anak) sudah sangat terbatas, ada rekaman mungkin dari 1980-an, jadi sudah hampir 30 tahun yang lalu,” kata KPH Notonegoro.
Saat ini, Jogja Royal Orchestra menurutnya sudah mulai menggarap tembang Jawa untuk anak-anak. Belum pasti berapa banyak lagu yang akan dibuat dan diluncurkan, tapi yang pasti dia menargetkan proyek tersebut selesai dalam waktu dekat.
ADVERTISEMENT
“Kira-kira nanti pada saat peringatan Hari Anak Nasional (23 Juli), moga-moga kita bisa meluncurkan album khusus lagu anak yang direkam oleh Royal Orchestra, lagu anak berbahasa Jawa,” ujarnya.
Ilustrasi seorang anak harus menggunakan Bahasa Jawa Halus untuk berbicara dengan orang tuanya. Foto: Flickr.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang anak harus menggunakan Bahasa Jawa Halus untuk berbicara dengan orang tuanya. Foto: Flickr.com
Selain tak ada lagi tembang Jawa anak-anak baru, lagu-lagu Jawa anak juga semakin ditinggalkan. Padahal, tembag Jawa anak-anak atau yang biasa disebut tembang dolanan anak ini masih sangat populer hingga tahun 1960-an.
Padahal, mengutip jurnal penelitian Nurhidayati dari Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNY dengan judul ‘Pelestarian Budaya Jawa Melalui Lagu Dolanan’, tembang dolanan anak memiliki manfaat untuk membentuk karakter-karakter baik pada diri anak.
Perilaku yang dapat dibentuk melalui lagu tersebut di antaranya rasa bertanggung jawab, jujur, disiplin, rajin bekerja, solidaritas, adil, berani, sportif, mandiri, berdaya juang, kasih sayang, menghargai alam semesta, serta mengajarkan religiusitas.
ADVERTISEMENT
Lagu dolanan anak sebagai salah satu wujud budaya Jawa yang adiluhung dijadikan sarana menyampikan wejangan atau ajaran budi pekerti kepada anak.
“Proses yang berlangsung dalam pembentukkan perilaku tersebut seiring dengan dunia anak bermain, sehingga anak tidak merasa tertekan atau dipaksakan,” tulis Nurhidayati dalam jurnal penelitiannya.
Dari sekitar 117 tembang dolanan anak yang telah diinventarisasi, tembang dolanan anak dapat dibagi ke dalam tiga kelompok. Pertama adalah lagu yang syairnya bermuatan pengetahuan, kedua lagu yang syairnya memuat nilai pendidikan (nasihat, etika, kejujuran, sportivitas, menghargai orang lain, dan sebagainya, serta ketiga adalah lagu anak yang melekat pada gerak permainan yang biasanya dinyanyikan sambil anak bergerak melakukan permainan atau dolanan.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020