Kumparan Logo
Konten Media Partner

Mahasiswa Belajar Fikih Hijau lewat Aksi Tanam 1.500 Mangrove di Bantul

Pandangan Jogjaverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mahasiswa Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menanam 1.500 pohon mangrove di kawasan Pantai Baros, Bantul, Sabtu, (20/6). Foto: Dok.Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menanam 1.500 pohon mangrove di kawasan Pantai Baros, Bantul, Sabtu, (20/6). Foto: Dok.Istimewa

Mahasiswa Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menanam 1.500 pohon mangrove di kawasan Pantai Baros, Bantul, Sabtu, (20/6). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Project Fikih Hijau, implementasi Mata Kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang mendorong mahasiswa belajar agama melalui aksi sosial dan pelestarian lingkungan.

Penanaman melibatkan mahasiswa dari empat program studi: Psikologi, Manajemen, Akuntansi, dan Administrasi Publik. Ini menjadi salah satu kegiatan lapangan terbesar dalam kerangka pembelajaran AIK di UNISA Yogyakarta.

Dosen pengampu sekaligus penggagas Project Fikih Hijau, Nurdin Zuhdi, menyebut pendekatan ini lahir dari kegelisahan terhadap model pendidikan agama yang selama ini lebih menekankan aspek kognitif dibanding dampak sosial.

instagram embed

Ia menegaskan bahwa nilai-nilai keislaman seharusnya hadir sebagai energi perubahan nyata.

"Pembelajaran AIK jangan hanya berhenti secara teoritis di ruang-ruang kelas saja. AIK harus dibawa keluar kelas dalam bentuk gerakan praksis aplikatif. AIK harus berdampak," ujar Nurdin dalam keterangannya, Rabu (24/6).

Secara konseptual, program ini berangkat dari reinterpretasi teologi Al-Ma'un dalam tradisi Muhammadiyah. Nurdin memperluas tafsir tersebut agar relevan dengan tantangan lingkungan hidup masa kini.

"Al-Ma'un jangan hanya dimaknai secara sempit bahwa pendusta agama adalah mereka yang menghardik anak yatim dan enggan menganjurkan memberi makan fakir miskin. Salah satu pendusta agama di era kekinian adalah aktor-aktor perusak lingkungan," tegasnya.

Pohon mangrove yang ditanam di kawasan Pantai Baros, Bantul. Foto: Dok.Istimewa

Pemilihan mangrove sebagai fokus kegiatan memiliki dasar ekologis yang kuat. Selain berfungsi menahan abrasi pantai, mangrove berperan dalam penyerapan karbon, menjaga keanekaragaman hayati, dan menopang kehidupan ekonomi masyarakat pesisir.

Project Fikih Hijau sendiri, kata dia, bukan merupakan program ad hoc. Program ini merupakan hasil penelitian hibah kompetitif multiyears yang didanai Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM).

Gagasannya kemudian diadopsi dalam Pedoman Pengembangan Kurikulum AIK di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (PTMA) yang diterbitkan Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan PP Muhammadiyah pada 2025.

Mahasiswa Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menanam 1.500 pohon mangrove di kawasan Pantai Baros, Bantul, Sabtu, (20/6). Foto: Dok.Istimewa

Masuknya konsep ini ke dalam pedoman nasional menandai pergeseran arah pengembangan AIK, dari orientasi kesalehan individual menuju kesalehan sosial dan ekologis.

Nurdin berharap model ini dapat direplikasi di seluruh PTMA yang jumlahnya mencapai lebih dari 170 perguruan tinggi di Indonesia. Jika tiap PTMA menjalankan Project Fikih Hijau setiap semester, ia memperkirakan dampaknya bisa mencapai jutaan pohon yang tertanam secara nasional.

"Ini bukan hanya gerakan akademik, tetapi juga gerakan peradaban yang menunjukkan bahwa PTMA hadir untuk menjaga keberlanjutan bumi," pungkasnya.