Memahami Cara Kerja Tuhan di Kontes Robot Indonesia

Konten Media Partner
18 Oktober 2021 13:18 WIB
·
waktu baca 8 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Satu gerakan tubuh manusia, angkat tanganmu misalnya, membutuhkan ratusan perintah bagi robot agar bisa melakukannya. Lalu bagaimana Tuhan menciptakan manusia dan alam seisinya?
Tim Rosemary Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sedang sibuk memastikan robotnya menari sesuai perintah pada Sabtu (16/10) lalu di UNY. Foto: Danang Bakti K
Sepasang penari berselendang kuning itu dikitari muka-muka cemas. Muka-muka dengan butiran keringat di kening mereka. Muka-muka dengan tatapan mata tajam yang menyiratkan sebuah kekhawatiran. Sebuah pemandangan yang sangat berbeda dengan pertunjukan Sendratari Ramayana di Candi Prambanan, atau pertunjukan tari di manapun.
ADVERTISEMENT
Bukan pertunjukan tari biasa, memang. Ini adalah pertunjukan tari yang ditampilkan dalam Kontes Robot Indonesia (KRI) 2021. Sepasang penari di panggung adalah robot. Dan orang-orang di sekitarnya, sebenarnya bukan benar-benar penonton yang datang untuk menikmati pertunjukan. Mereka adalah orang-orang yang bertugas untuk memastikan sepasang penari itu tampil optimal.
Mereka adalah para mahasiswa yang tergabung dalam Tim Rosemary, salah satu tim yang berada di bawah Tim Robot Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), yang fokus mengembangkan robot penari.
Jalan panjang sudah mereka tempuh dalam KRI 2021, hingga hari itu mereka mesti menghadapi lawan berat di babak final. Mereka mesti menghadapi tim robot tari dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), serta tetangganya sendiri, Universitas Gadjah Mada (UGM).
ADVERTISEMENT
Satu, dua, tiga. Tabuhan gong, kendang, kenong, dan gambang mulai terdengar menjadi alunan musik dengan nuansa Jawa. Musik gamelan itu adalah pengiring tarian gambyong pareanom, sebuah tarian tradisional dari Surakarta, Jawa Tengah. Gambyong pareanom jadi tarian yang ditetapkan panitia KRI 2021, sebagai tarian yang mesti dipentaskan oleh robot-robot peserta.
Bersama dengan terdengarnya musik gamelan, sepasang penari robot itu langsung bergerak. Celaka, yang dikhawatirkan benar-benar terjadi. Gerakan sepasang penari itu tidak selaras satu sama lain. Semua orang panik.
Alfirdaus Zaharda. Foto: Danang Bakti K
Ketua Tim Rosemary, Alfirdaus Zaharda, dan salah seorang rekan timnya langsung mengambil dua penari itu, lalu menekan entah tombol apa. Yang pasti, tak lama setelah itu keduanya kembali menari, menggerakkan tangan dan kepala, serta melangkahkan kaki perlahan, melakukan gerakan-gerakan lembut pada tarian gambyong.
ADVERTISEMENT
Satu menit, dua menit, hingga lima menit, tarian akhirnya selesai, bersamaan dengan berakhirnya musik pengiring. Confetti diledakkan, tepuk tangan bergemuruh.
Puji Gusti, tidak ada lagi permasalahan serius yang dialami kedua penari robot itu hingga selesai. Tapi, Firdaus tampak murung. Tentu saja dia tidak puas karena adanya kendala pada robot mereka.
Apalagi keselarasan gerak kedua robot jadi salah satu penilaian penting dalam perlombaan itu. Karena tidak selaras, dan sempat melakukan pengulangan, pasti banyak poin yang dikurangi oleh juri.
“Sebelumnya enggak pernah terjadi (masalah serupa). Seringkali masalahnya memang enggak pernah kita duga, syndrome final mungkin,” kata Firdaus, Sabtu (16/10).
Tampil secara marathon hingga ke babak final, membuat sepasang penari robot itu kelelahan. Layaknya manusia, kelelahan membuat konsentrasi dan akurasi robot jadi menurun. Walhasil, penampilan jadi kurang optimal dan sesekali melakukan kesalahan.
ADVERTISEMENT
“Manusia saja kan butuh istirahat, robot juga gitu biar performanya tetap optimal,” ujarnya.
Memahami Ciptaan Tuhan dari Sebuah Robot
Dua robot penari Tim Rosemary sedang tampil di hadapan dewan juri secara daring. Foto: Danang Bakti K
Firdaus, juga belasan rekan setimnya kini tinggal menunggu hasil penilaian dari dewan juri. Bagaimanapun hasilnya, paling tidak mereka telah melakukan sebaik-baiknya usaha. Ya, ada banyak orang yang mesti mengurangi jam tidurnya untuk pementasan itu. Ada perjalanan panjang dan melelahkan dalam proses pembuatan robot, sebelum akhirnya bisa dipentaskan dalam kontes.
“Risetnya dari awal kurang lebih setahun, mulai Desember tahun lalu,” kata Firdaus.
Gerakan-gerakan tubuh yang tampak sederhana dan gampang manusia lakukan, ternyata begitu rumit dan sulit dibayangkan prosesnya.
Misalnya gerakan ulap-ulap, yakni gerakan mengangkat tangan hingga ke dahi seperti sedang hormat, paling tidak ada 10 sampai 15 perintah yang mesti diberikan.
ADVERTISEMENT
Tangan yang semula di bawah, mesti diangkat perlahan dengan sudut tertentu sampai akhirnya mencapai ketinggian yang diinginkan secara perlahan.
Tujuannya untuk menciptakan kelembutan dalam gerakan itu. Jika hanya diberikan satu perintah, maka tangan robot akan bergerak sangat cepat sehingga terlihat sangat kaku.
“Dan di tari gambyong pareanom ini ada 100 gerakan lebih, jadi tinggal dikalikan saja ada berapa perintah kalau satu gerakan butuh 10 sampai 15 perintah,” ujarnya.
Kerumitan-kerumitan itu membuat Firdaus menyadari betapa rumitnya manusia yang diciptakan Tuhan. Bagaimana membuat rambut, mata, hidung, telinga, gigi, jantung, hati, usus, nadi, kuku, dan semua bagian tubuh manusia dari yang terlihat maupun tidak, dimana satu sama lain mempengaruhi fungsi masing-masing. Bagaimana membuat seluruh organ itu selaras, bersinergi satu sama lain sehingga membuat manusia bisa berpikir, merasa, serta melakukan berbagai gerakan yang tidak terbatas.
ADVERTISEMENT
“Sedangkan kami bikin robot yang bisa menyelesaikan satu tarian saja rasanya kayak mau gila,” lanjutnya, tertawa.
Dan itu baru manusia. Sementara Tuhan menciptakan semua yang ada di semesta. Kucing, burung, amuba, bunga, pohon, gunung, samudera, bumi, bulan, matahari, galaksi, hingga makhluk-makhluk gaib yang tidak bisa dijangkau oleh logika manusia.
Di tengah ceritanya, adzan Ashar berkumandang lirih. Adzan belum selesai, Firdaus memanggil semua temannya yang masih cemas menunggu pengumuman untuk sembahyang di musala kampus.
“Kami izin shalat dulu, mas,” ujar Firdaus meminta izin.
Christophorus Galang. Foto: Danang Bakti K
Apa yang dirasakan oleh Alfirdaus, dirasakan juga oleh Christophorus Galang, Kapten Tim Alfarobi, tim robot UGM yang khusus mengembangkan robot sepak bola humanoid. Seperti namanya, robot ini dibuat benar-benar menyerupai manusia yang punya kaki untuk menggiring dan menendang bola.
ADVERTISEMENT
Christo, dan timnya juga baru selesai bertanding di laga final. Air mukanya sangat lelah. Rambutnya awut-awutan, dan matanya tampak kurang tidur. Membuat robot yang bisa bermain bola, sama rumitnya dengan membuat robot menari.
Untuk menendang bola ke gawang, ada banyak hal yang mesti diperhitungkan. Di mana posisi bola, di mana posisi gawang, apakah gawang itu gawang lawan atau gawang sendiri, berapa jauh jarak bola dari gawang, hingga akhirnya memutuskan ke mana bola mesti ditendang dan seberapa kuat tendangannya.
“Untuk nendang bola ke gawang, itu programnya ada seribu baris lebih,” kata Christo.
Itu baru menendang bola ke gawang. Belum menggiring bola dengan tubuh tetap seimbang, mengidentifikasi mana kawan dan mana lawan untuk mengoper bola, memahami strategi hingga aturan pertandingan. Tak terbayangkan, bagaimana membuat robot dengan skill seperti Ronaldo atau Messi yang bisa melakukan gerakan-gerakan ajaib bersama bola.
ADVERTISEMENT
“Kalau lihat itu, langsung merasa apa yang kami buat enggak ada apa-apanya,” ujarnya.
Menantikan RoboCup 2050
Tim robot sepak bola UGM sedang menyiapkan robotnya bertanding. Foto: Danang Bakti K
Christophorus yakin akan tiba masanya skill robot-robot sepak bola nantinya bisa menyamai manusia. Mungkin sulit untuk dibayangkan, sesulit manusia membayangkan bisa saling bertatap muka dengan orang di belahan dunia yang lain pada dua atau tiga dekade silam. Nyatanya, sekarang kita bisa dengan mudah melakukannya.
RoboCup, penyelenggara piala dunia sepak bola robot, bahkan menargetkan pada 2050 nanti juara dunia robot bisa mengalahkan juara dunia sepak bola yang diselenggarakan oleh FIFA.
“Melihat teknologi yang sangat pesat, tentu enggak mustahil,” kata Christo yang setelah lulus ingin jadi pembuat robot untuk membantu orang-orang disabilitas.
Bahkan, bagi Christo tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti robot berkembang menjadi makhluk yang punya emosi perasaan, seperti manusia. Mereka bisa marah, sedih, senang, bisa memiliki rasa cinta, sayang, atau kecewa. Film Transformers atau Baymax dalam animasi Big Hero, bisa saja jadi kenyataan.
ADVERTISEMENT
“Sekarang mungkin belum kebayang, tapi sensor kan semakin banyak dan makin sensitif, sekarang juga sudah banyak dikembangkan robot yang bisa berinteraksi sama manusia,” ujarnya.
Menjadi Dokter Robot
Pandu Herlambang. Foto: Danang Bakti K
Meski terbuat dari logam, fiber, atau bahan lain, bukan berarti robot tidak bisa cedera. Tak terhitung berapa kali robot mereka mengalami cedera saat bertanding, maupun berlatih. Seperti halnya manusia, robot juga butuh dokter untuk menyembuhkan cederanya.
Ketua Umum Gadjah Mada Robotic Team, Pandu Herlambang, mengatakan bahwa di dalam tim robot juga terdapat orang-orang yang berperan sebagai dokter spesialis untuk mengatasi penyakit ataupun cedera pada robot.
Ada ahli mekanik, mereka berperan seperti dokter patah tulang yang akan menangani kerusakan pada mekanik robot. Ada ahli elektronik dan kelistrikan, mereka berperan sebagai dokter spesialis penyakit dalam. Misalnya mengatasi kabel yang lecet atau terkelupas, yang sangat berpengaruh terhadap aliran listrik dalam robot tersebut.
ADVERTISEMENT
“Kalau kabel terkelupas misal, itu bikin tegangan drop. Kalau di manusia, itu kayak menghambat peredaran darah, jadi kabel udah kayak urat nadi,” ujar Pandu.
Sedangkan para programer, mereka akan berperan sebagai seorang psikolog atau psikiater. Tanpa program-program yang mereka buat, maka robot tidak akan bisa melakukan pekerjaan seperti yang diinginkan, meskipun mekanik dan kelistrikannya sehat.
“Manusia kan gitu juga, walaupun fisiknya sehat tapi kalau stress atau depresi kan jadi ganggu semua aktivitasnya,” lanjutnya.
Semua elemen itu mesti selaras. Jika ada satu bagian yang tidak optimal, sekecil apapun itu, maka akan berpengaruh pada semuanya.
“Kita sakit gigi saja kan semua tubuh kita ikut ngerasain, robot kayak gitu juga,” ujar Pandu.
Pada Kontes Robot Indonesia (KRI) 2021 yang digelar secara daring pada 15-16 Oktober ini, Tim robot Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sukses menyabet gelar juara umum tingkat nasional.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, pemenang dalam katerogo Kontes Robot Abu Indonesia (KRAI / kemampuan robot dalam memindahkan barang dengan efisien) yakni tim robot ITS dan UNY akan menjadi perwakilan Indonesia pada ajang Internasional ABU Robocon 2021 di China secara daring pada Desember 2021.
ABU Robocon merupakan kompetisi robot internasional tahunan yang diikuti oleh mahasiswa dari negara Asia Pasifik. (Widi Erha Pradana / YK-1)