Menaker: Digitalisasi Bikin Banyak Sarjana Teknik tapi Jadi Manajer Keuangan

Konten Media Partner
22 November 2022 17:16
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Menaker RI, Ida Fauziyah, saat memberikan pembekalan kepada calon wisudawan UGM di Grha Sabha Permana, Selasa (22/11). Foto: Dok. UGM
zoom-in-whitePerbesar
Menaker RI, Ida Fauziyah, saat memberikan pembekalan kepada calon wisudawan UGM di Grha Sabha Permana, Selasa (22/11). Foto: Dok. UGM
ADVERTISEMENT
Menteri Ketenagakerjaan RI, Ida Fauziyah, mengatakan bahwa digitalisasi telah menyebabkan perubahan yang sangat besar di dalam dunia kerja. Salah satu fenomena yang terjadi di dunia kerja karena digitalisasi adalah adanya ketidakcocokan (mismatch) antara pendidikan seseorang dengan profesinya.
ADVERTISEMENT
Mismatch di pasar kerja ini terjadi baik secara vertikal maupun horizontal. Mismatch vertikal terjadi ketika seseorang bekerja tidak sesuai dengan level pendidikannya, misalnya lulusan sarjana namun mengerjakan pekerjaan yang bisa dikerjakan lulusan SMA.
Sementara mismatch horizontal terjadi karena adanya ketidakcocokan antara latar belakang pendidikan dengan pekerjaan yang ditekuni.
“Seperti lulusan sarjana teknik mesin tapi bekerja sebagai manajer keuangan,” kata Ida Fauziyah saat memberikan pembekalan calon wisudawan-wisudawati UGM di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM, Selasa (22/11).
Fenomena mismatch ini sebenarnya tidak tidak terlalu jadi masalah selama orang tersebut tetap mau bekerja dan ada proses reskilling dan upskilling. Yang jadi masalah adalah ketika para sarjana tidak mau melakukan reskilling dan upskilling, tapi lebih senang menganggur karena tidak menemukan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya.
ADVERTISEMENT
“Kalau ini terjadi maka lulusan perguruan tinggi akan jadi penyumbang pengangguran di Indonesia,” lanjutnya.
Selain masalah mismatch di pasar kerja, Ida juga menyampaikan bahwa saat ini Indonesia masih kekurangan talenta digital. Data Data World Digital Competitiveness 2021 mencatat daya saing digital di Indonesia berada di peringkat 53 dari 64 negara.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak perusahaan di Indonesia yang sulit mencari karyawan dengan kemampuan digital yang memadai,” ungkapnya.
Menaker RI, Ida Fauziyah foto bersama calon wisudawan UGM di Grha Sabha Permana (GSP), Selasa (22/11). Foto: Dok. UGM
zoom-in-whitePerbesar
Menaker RI, Ida Fauziyah foto bersama calon wisudawan UGM di Grha Sabha Permana (GSP), Selasa (22/11). Foto: Dok. UGM
Di tengah ledakan adopsi teknologi, daya saing digital Indonesia masih rendah dan tidak sedikit perusahaan yang kesulitan mencari karyawan dengan kemampuan digital tinggi.
Lebih lanjut, Ida menyampaikan bahwa digitalisasi telah membawa perubahan terhadap jenis pekerjaan dan skill yang dibutuhkan di pasar kerja. Tumbuhnya jenis pekerjaan baru membutuhkan kompetensi baru yang harus dikuasai tenaga kerja agar tidak tertinggal dalam persaingan global. Tenaga kerja dituntut tidak hanya menguasai penguasaan teknologi, namun memiliki soft skill yang memadai.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, di era kemajuan teknologi saat ini soft skill sangat dibutuhkan. Sebab, hard skill bisa dipenuhi dengan teknologi, tetapi soft skill tidak bisa dipenuhi teknologi, namun dari manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, dibutuhkan pemikiran yang kreatif, inovatif, analitis, kritis, fleksibel dan kewirausahaan dari generasi muda saat ini agar bisa berdaya saing memasuki dunia kerja di era digital.
“Hal-hal ini harus menjadi highlight dalam mempersiapkan diri memasuki dunia kerja di tengah kemajuan teknologi dan informasi,” tuturnya.
Meskipun tantangan dunia kerja di Indonesia sangat kompleks, Ida berpesan kepada calon wisudawan UGM untuk tidak takut terhadap digitalisasi. Sebab, kebutuhan di pasar kerja pada era digital lebih membutuhkan soft skill seperti pemikiran analitis, inovatif, kreatif, kepemimpinan dan pemberi pengaruh sosial dan lainnya. Karenanya tenaga kerja muda diharapkan dapat menguasai soft skill yang dibutuhkan di era digital saat ini.
ADVERTISEMENT
Dia berharap tenaga kerja muda bisa berpartisipasi secara aktif dalam komunitas atau jejaring keterampilan kontemporer. Misalnya, komunitas desain komunikasi visual, content creator, vlogger, youtuber, seni dan lainnya.
“Jangan pernah berhenti belajar, jangan mudah menyerah terhadap persaingan di pasar kerja. Terus bangun komunikasi dan profesionalitas di tempat kerja dan membangun keterampilan diri,” ucapnya.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020