Bisnis
·
13 Agustus 2020 14:40

Mengenal Tembakau Siluk Terbaik Hasil Budidaya Petani Selopamioro, Bantul

Konten ini diproduksi oleh Pandangan Jogja
Mengenal Tembakau Siluk Terbaik Hasil Budidaya Petani Selopamioro, Bantul (131543)
Lahan pertanian tembakau siluk di Selopamioro, Bantul, DIY. Foto: Widi Erha Pradana.
Kurang lebih sebulan lagi tembakau yang ditanam Puji Hardono, 70 tahun, di lahan seluas 1.000 meter di Padukuhan Karangdadap II, Desa Selopamioro, Imogiri, Bantul siap dipanen. Sudah sejak tahun 1970an Puji mulai menanam tembakau, meneruskan pekerjaan yang sudah puluhan tahun ditekuni orangtua serta kakek neneknya.
ADVERTISEMENT
Puji adalah salah satu petani anggota Kelompok Tani Kalidadap II yang sejak 2009 bersama pemerintah setempat bahu membahu mencari tembakau siluk dengan kualitas kualitas terbaik.
Puji menerangkan, awalnya, petani menanam tembakau dari berbagai daerah, termasuk tembakau temanggung yang sangat terkenal. Karena itu, setiap petani menghasilkan jenis dan kualitas tembakau yang berbeda sehingga tidak ada satu jenis andalan yang khas.
Dengan sabar, para petani memilih dan memilah bunga-bunga tembakau sebanyak lima atau enam batang pohon tembakau dari tiap 200 tanaman yang dinilai bagus. Bunga itu kemudian dijadikan benih lalu disemai untuk menjadi bibit. Dari 200 bibit itu, para anggota kelompok kemudian melakukan penyortiran menjadi 100, 50, 25, 10, hingga 1 batang pohon terbaik.
ADVERTISEMENT
“1 pohon itu yang kemudian dinamai kedu sili, itu adalah tembakau siluk yang kualitasnya terbaik,” ujar Puji yang diiyakan oleh Keman Rimanto, Ketua Kelompok Tani Kalidadap II, saat ditemui beberapa waktu lalu di sawahnya.
Empat Tahun Pengembangan Varietas
Mengenal Tembakau Siluk Terbaik Hasil Budidaya Petani Selopamioro, Bantul (131544)
Lahan pertanian tembakau siluk di Selopamioro, Bantul, DIY. Foto: Widi Erha Pradana.
Dari 2009 mulai memilah dan mencoba bunga tembakau terbaik itu baru empat tahun kemudian mereka yakin telah menemukan varietas terbaik yang mereka namakan sebagai tembakau kedu sili.
Pengembangan dan perbanyakan area tanam hingga sekarang membuat kedu sili menjelma sebagai tembakau unggulan di Yogyakarta. Tapi namanya justru kurang dikenal, yang popular malah tembakau siluk, merujuk pada nama dusun setempat. Padahal saat ini jumlah petani tembakau di daerah Siluk, yang juga merupakan salah satu padukuhan di Desa Selopamioro semakin jarang.
ADVERTISEMENT
“Tapi enggak masalah, karena orang-orang juga sudah tahu, tembakau siluk yang paling bagus ya di sini,” terang Keman Rimanto.
Kedu sili sempat diajukan patennya ke Kementerian Pertanian beberapa tahun silam. Namun karena ada isu rokok haram, sampai sekarang kedu sili belum memiliki paten. Dari pemerintah kabupaten, tembakau ini juga belum memiliki sertifikat, meski sudah diakui sebagai tembakau dengan kualitas terbaik.
“Tapi kalau di Desa Selopamioro ini, sudah diakui tembakau siluk terbaik ya kedu sili ini,” ujar Keman.
Gondo, Rupo, Roso
Mengenal Tembakau Siluk Terbaik Hasil Budidaya Petani Selopamioro, Bantul (131545)
Proses pengeringan tembakau silau dengan mengandalkan panasnya sinar matahari. Foto: Widi Erha Pradana.
Gondo, rupo, dan roso adalah indikator kualitas tembakau kedu sili. Gondo mengacu pada aroma tembakau. Tembakau kedu sili dengan kualitas terbaik memiliki aroma yang harum dan agak manis.
ADVERTISEMENT
“Kalau rupo itu warna, yang paling bagus itu cerah warnanya, agak kekuningan,” jelas Keman.
Sementara roso atau rasa yang terbaik adalah yang mantap. Mantap di sini maksudnya halus di tenggorokan tapi bisa dirasakan ke otak.
“Jadi halus dia, enggak nyegrak, tapi di sini (kepala) sedud gitu,” lanjutnya.
Pengaruh Pupuk dan Tanah
Mengenal Tembakau Siluk Terbaik Hasil Budidaya Petani Selopamioro, Bantul (131546)
Kurang lebih sebulan lagi tembakau yang ditanam Puji Hardono, 70 tahun, di lahan seluas 1.000 meter di Padukuhan Karangdadap II, Desa Selopamioro, Imogiri, Bantul siap dipanen. Foto: Widi Erha Pradana.
Gondo, rupo, dan roso juga sangat dipengaruhi bagaimana dan di mana tembakau dirawat dan ditanam. Tembakau yang terlalu banyak diberi pupuk urea, maka rasanya akan menusuk di tenggorokan, namun di kepala tetap terasa efeknya. Jika menggunakan pupuk ZA, rasanya tetap enak, tapi di tenggorokan terasa lebih halus.
Karakter tanah sangat memengaruhi gondo, rupo, dan roso kedu sili, misalnya, jika tanah yang ditanami adalah tanah berhumus yang berwarna hitam, maka akan menghasilkan kedu sili dengan rasa halus dan mantap di otak. Jika tanahnya adalah tanah merah atau tanah lempung, rasanya kurang mantap. Sementara jika tanah yang ditanami adalah tanah putih atau padas, maka rasa tembakau yang dihasilkan kurang terasa di otak dan di tenggorokan sangat halus.
ADVERTISEMENT
Tapi apapun jenis tembakau yang dihasilkan sebenarnya memiliki pasarnya masing-masing. Misalnya karakter konsumen dari Gunungkidul cocoknya dengan tembakau yang paling kuat. Berbeda dengan karakter masyarakat dari Kulon Progo yang jauh lebih suka tembakau dengan rasa yang sedang dan tidak terlalu kuat.
“Maka dari itu, ada bagusnya malah tanahnya bervariasi. Jadi petani tahu, ini mau saya jual ke Kulon Progo misalnya,” lanjut Keman.
Saat ini tembakau siluk memang tidak dijual ke pabrik-pabrik rokok. Pasar utama kedu sili adalah perokok-perokok lintingan. Tapi dari situ menurut Keman petani justru punya daya tawar yang lebih besar dalam menentukan harga jual tembakau. Berbeda ketika mereka menyetorkan ke pabrik, dimana petani mau tidak mau harus mengikuti harga yang ditentukan oleh pabrik.
ADVERTISEMENT
Menurut Keman, sampai sekarang tembakau masih menjadi komoditas utama yang paling menguntungkan bagi petani setempat. Apalagi tren nglinthing dewe (melinting sendiri) di kalangan anak muda mulai tinggi mengingat harga rokok kemasan yang semakin mahal. Beberapa kali juga ada tengkulak yang memesan jenis tembakau kedu sili tertentu khusus anak-anak muda. Dan responnya, banyak yang suka karakter rasa tembakau ini.
Harga tembakau juga cenderung stabil ketimbang komoditas pertanian lainnya. Seanjlok-anjloknya harga tembakau, masih lebih lumayan dibandingkan komoditas lain seperti bawang atau cabai. Apalagi perawatan tembakau sebenarnya tidak lebih sulit dari komoditas pertanian lain.
“Serendah-rendahnya harga tembakau itu Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu. Itu hitungannya sudah enggak laku,” ujar Keman. (Widi Erha Pradana / YK-1)
ADVERTISEMENT