Kumparan Logo
Konten Media Partner

Menonton Moissani Ardita Putra, Dalang Cilik Kelas 1 SD Memainkan Aji Narantaka

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Moissani saat mendalang di Festival Dalang Cilik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pekan lalu. Foto: Widi Erha Pradana
zoom-in-whitePerbesar
Moissani saat mendalang di Festival Dalang Cilik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pekan lalu. Foto: Widi Erha Pradana

Gamelan mulai ditabuh. Kedua tangan mungil Moissani Abyan Ardita Putra mencabut dua gunungan dari debog pisang yang ada di depannya. Dia angkat tinggi-tinggi dua gunungan itu, lalu diputarnya sehingga tampak bayangan yang dramatis pada kelir putih yang disorot lampu berwarna kuning. Kini, panggung itu sepenuhnya menjadi milik dalang berusia 7 tahun itu.

Dicabutnya dua gunungan di tengah kelir menandakan pertunjukan telah dimulai. Moissani mulai menyanyikan suluk, kidung-kidung berbahasa Jawa dengan suaranya yang kecil. Tangan kirinya memukul kotak beberapa kali menggunakan cempala. Tangan kanannya mengangkat dan memainkan wayang Gatotkaca, meliuk-liukkan di udara sebelum akhirnya dia tancapkan pada debog. Moissani mulai memainkan salah satu lakon favoritnya: Aji Narantaka, sebuah lakon yang berisi kesaktian ilmu Gatotkaca.

“Lakonnya bagus, gagah,” kata Moissani singkat selepas pentas di Laboratorium Karawitan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNY, Rabu (9/6).

Moissani adalah peserta paling muda dalam Festival Dalang Cilik yang diadakan oleh UNY. Dia masih duduk di bangku kelas 1 SD, tapi pengalamannya mendalang cukup membanggakan. Sebelumnya, dia pernah menjadi juara dua mendalang ketika mewakili TK-nya dalam lomba dalang cilik se-Kabupaten Bantul. Terakhir, sebelum pandemi dia juga sempat tampil dalam Ngayogjazz 2019.

Suaranya yang tadinya kecil dan lembut ketika menyanyikan suluk, tetiba menjadi besar dan garang ketika dia memainkan dialog antara Gatotkaca dan Dursala. Peperangan di antara keduanya pecah, diiringi dengan tabuhan gamelan yang temponya semakin cepat.

Di saat bersamaan, ketika bibirnya sibuk mengucapkan dialog antara Gatotkaca dan Dursala, kedua tangannya juga sibuk meliuk-liukkan wayang yang sebenarnya terlalu berat untuk tangan sekecil itu. Bahkan, kakinya juga sibuk memainkan kepyak untuk menggambarkan betapa keras hantaman setiap tokoh wayang kepada musuhnya.

“Paling susah antawacana,” lanjutnya.

Moissani. Foto: Widi Erha Pradana

Antawacana merupakan teknik vokal dalang dalam memerankan setiap tokoh wayang. Sebagai dalang, Moissani dituntut untuk dapat membeda-bedakan suara setiap tokoh wayang berdasarkan karakternya masing-masing.

Dari suara yang lemah lembut seperti suara Dewi Kunti, sampai suara yang menggelegar seperti suara Gatotkaca. Dari yang suaranya cempreng seperti suara Petruk, sampai yang suaranya besar dan berwibawa seperti suara Yudhistira. Sehingga, Moissani juga mesti memahami karakter setiap wayang dulu sebelum dia menentukan seperti apa suara yang tepat untuk tokoh tertentu. Dan untuk anak seusianya, dengan pita suara yang belum tumbuh sepenuhnya, wajar jika antawacana menjadi hal yang sulit baginya.

Dan jangan lupa, Moissani juga mesti sudah hafal di luar kepala seperti apa lakon atau cerita yang dia mainkan.

“Tadi lancar, deg-degan sedikit,” kata Moissani.

Debut dan Kado Ulang Tahun Paling Indah

Raden Nurwaskita Cahyo Darmawan. Foto: Widi Erha Pradana

Tak semua dalang cilik yang tampil di Festival Dalang Cilik UNY sudah sering pentas sebelumnya. Penampilan di panggung siang itu menjadi debut bagi Raden Nurwaskita Cahyo Darmawan, 10 tahun. Dalang cilik yang masih berusia 10 tahun itu, membawakan lakon dengan judul Gatotkaca Lahir.

“Itu yang paling gampang,” kata Cahyo selepas pentas dengan lugu.

Seperti judulnya, Gatotkaca Lahir menceritakan lahirnya seorang ksatria gagah bernama Raden Gatotkaca, putra Raden Bimasena. Meski baru belajar mendalang secara formal pada 2019, tapi penampilan Cahyo sudah seperti dalang-dalang kondang. Air mukanya tenang, ketika menyanyikan suluk suaranya lembut dan merdu, namun ketika memperagakan pertempuran antara Sekiputantra melawan Gatotkaca.

“Tadi susah mainin wayangnya, soalnya berat,” kata penggemar almarhum dalang kondang, Ki Seno Nugroho itu.

Beberapa kali memang terlihat bagaimana Cahyo kesulitan mengangkat wayang-wayang, terutama yang berukuran besar seperti Sekiputantra. Dia juga kerap kesulitan untuk menancapkan wayang ke debog pisang di depannya.

Tapi secara keseluruhan, Cahyo berhasil menuntaskan penampilannya dalam waktu 25 menit. Tepuk tangan langsung memenuhi ruangan ketika Cahyo menancapkan kembali dua gunungan di tengah selir, pertanda pertunjukan telah usai. Turun dari panggung, Cahyo langsung mendapatkan pelukan hangat dari ayah dan ibunya .

“Baru kemarin Cahyo ulang tahun yang ke-10, jadi ini juga jadi kado ulang tahun untuk dia,” kata ayah Cahyo, Surtihadi, 50 tahun, dengan bangga dan penuh haru.

Antusiasme dan Kualitas Terus Meningkat

Raden Nurwaskita saat mendalang. Foto: Widi Erha Pradana.

Total, ada 32 peserta yang mengikuti Festival Dalang Cilik UNY, terdiri atas dua kategori, SD dan SMP. Ketua panitia Festival Dalang Cilik UNY, Sukisno, mengatakan bahwa festival ini telah digelar secara rutin setiap tahun, kecuali tahun kemarin karena adanya pandemi. Tahun ini, Festival Dalang Cilik sudah digelar untuk yang ke-10 kali.

Dari tahun ke tahun, peserta yang mayoritas berasal dari DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, selalu meningkat.

“Setiap kami buka pendaftaran, hari pertama kuotanya sudah penuh, bahkan banyak yang mengantre kalau ada yang mengundurkan diri,” kata Sukisno.

Secara kualitas, dari tahun ke tahun kualitas peserta juga semakin baik. Menurutnya, meningkatnya kualitas ini tidak lepas dari semakin banyaknya referensi anak-anak zaman sekarang dalam belajar mendalang. Saat ini, sangat banyak video-video pementasan wayang yang diunggah di YouTube, dan itu semakin memperkaya referensi anak-anak untuk belajar.

Harmonisasi yang telah diciptakan para dalang cilik tersebut lebih seimbang dan indah. Dengan begitu, karakterisasi setiap tokoh wayang yang dimainkan bisa muncul dengan apik. Inilah yang pada tahun-tahun sebelumnya kurang dicapai oleh para peserta Festival Dalang Cilik UNY.

“Sekarang kelas 1 atau 2 SD sudah bisa mengharmonikan beberapa unsur, ini sebuah peningkatan bagi saya,” ujarnya.

Dalang memang menjadi salah satu profesi paling sulit yang ada di dunia seni. Sebab, dalam waktu bersamaan, seorang dalang mesti bisa memecah dirinya untuk melakukan banyak sekali kegiatan. Jika tidak bisa fokus, maka seorang dalang tidak akan bisa menyajikan penampilan yang harmoni dan indah untuk dinikmati.

“Tangannya bermain wayang, kakinya njejak keprak, mulutnya antawacan, dialog, kemudian telinganya mendengarkan iringan gamelan, itu sangat sulit,” ujarnya.

Tingginya antusiasme peserta festival ini merupakan angin segar bagi dunia kesenian tradisional, khususnya wayang kulit. Sukisno berharap, hal dalang-dalang cilik ini bisa ngurubke dan ngirabke kebudayaannya sendiri.

“Sehingga tidak ada kekhawatiran lagi kalau wayang kulit ini akan punah,” kata Sukisno.

Penyerahan hadiah pada para pemenang. Foto: Istimewa

Pada Senin (14/6) panitia mengumumkan 6 dalang cilik terbaik, di antaranya, untuk tingkat SD Juara 1 diraih oleh Satrio Ndaru Purwo Kusumo (Sesaji Raja Suya) dari SD Gayam 1 Sukoharjo, Juara II diraih oleh Sadu Pramesi (Senapati Agung) dari SD Gayam 1 Sukoharjo dan juara III diraih oleh Daneswara Satya Swandaru (Wiratha Parwa) dari SD Kanisius Wonosari.

Pemenang untuk tingkat SMP Juara 1 diraih oleh Abimanyu Katon Wenang (Shinta Ilang) dari SMP 1 Sukoharjo, Juara II diraih oleh Agung (Pandawa Darma) dari SMP 3 Sukoharo serta Juara III diraih Nanda Galih Prasetya (Kikis Tunggarana) dari SMP 1 Brigin Ngawi.

Selain para juara, panitia juga memberi apresiasi kepada dalang cilik perempuan yang ikut berkompetisi yaitu Sadu Pramesi dari Sukoharjo dan merupakan satu- satunya dalang perempuan dalam acara ini peserta yang baru menginjak kelas 1 SD yaitu Moissani Abyan Ardita Putra dari Bantul.

Baca Juga:

kumparan post embed
kumparan post embed