Kumparan Logo
Konten Media Partner

Murah dan Unik! Tarif 1 Malam di Hotel Bisa Buat Live In 4 Hari di Desa Wisata

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wisata alam sungai di Desa Tamanmartani. Foto: Projectlensa Productio
zoom-in-whitePerbesar
Wisata alam sungai di Desa Tamanmartani. Foto: Projectlensa Productio

Musim liburan segera tiba. Bagi yang ingin merasakan sensasi liburan berbeda, desa wisata bisa jadi pilihan tempat berlibur, terutama bagi wisatawan yang sudah bosan dengan pengalaman liburan yang begitu-begitu saja.

Tak hanya bersenang-senang, berwisata di desa wisata juga bisa memberikan pengalaman dan pelajaran baru tentang kehidupan masyarakat di desa. Apalagi bujet yang dibutuhkan untuk berwisata di desa wisata juga relatif murah dan ramah untuk dompet.

Ketua Divisi Pemasaran Paguyuban Wisata Tamanmartani di Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Dobrak Tirani Tegak Nurani, mengatakan bahwa untuk berwisata dan tinggal selama tiga hari di Desa Wisata Tamanmartani, wisatawan cukup mengeluarkan bujet mulai Rp 400 ribu.

“Kalau menginap di hotel Rp 400 ribu paling cuma cukup buat satu malam. Kalau di Tamanmartani itu sudah bisa menginap empat hari tiga malam,” kata Dodo, sapaan akrab Dobrak Tirani kepada Pandangan Jogja @Kumparan, Senin (20/6).

Dobrak Tirani Tegak Nurani. Foto: Dok. Pribadi

Tak hanya bisa menginap, dengan biaya mulai dari Rp 400 ribu wisatawan juga sudah mendapatkan fasilitas lain mulai dari makan sampai konten wisata. Desa Wisata Tamanmartani sendiri saat ini sudah memiliki sekitar 10 padukuhan yang masing-masing menawarkan pengalaman wisata unik nan komplet, mulai dari wisata alam, sejarah, kuliner, tradisi budaya, sampai kerajinan.

Untuk wisata alam, pengunjung bisa menikmati berbagai wahana permainan jelajah sungai di Sungai Opak. Wisatawan juga bisa berkunjung ke kawasan pertanian organik dan peternakan sapi. Di sana pengunjung bisa mengenal berbagai jenis tanaman sembari bermain air.

Jika mau berwisata kuliner, wisatawan akan diajak ke Padukuhan Kebon untuk menikmati dan meracik sendiri jamu tradisional. Ada juga konten wisata sejarah di Taman Raja Balitung yang terdapat petilasan cerita Candi Kedulan dan Trowulan.

Jika mau belajar tentang budaya, wisatawan bisa mengunjungi padukuhan Tamanan. Di sana mereka bisa mengenal dan belajar tentang wayang kulit, nembang macapat, sampai kenduri, dimana wisatawan akan diajak masak dan makan bersama.

“Kami malah menantang ke wisatawan, kamu siapnya berapa hari. Semakin lama live in tentu akan semakin leluasa mengeksplorasi semua konten wisata yang ada di Tamanmartani,” ujarnya.

Tak hanya Desa Wisata Tamanmartani, di DIY terdapat paling tidak 112 desa wisata, salah satunya adalah Desa Wisata Mulo di Wonosari, Gunungkidul. Desa Wisata Mulo juga memiliki berbagai potensi wisata unggulan, mulai dari wisata alam, kuliner, budaya, dan kerajinan.

Desa Wisata Mulo juga menawarkan paket live in selama 4 hari 3 malam dengan biaya Rp 700 ribu.

“Itu sudah termasuk homestay, kegiatan di desa wisata, dan makan sebanyak 12 kali,” kata Ketua Unit Wisata Desa Wisata Mulo di Gunungkidul, Oktiawan Setia Budi.

Oktiawan Setia Budi. Foto: Dok. Pribadi

Ada berbagai konten wisata di Desa Mulo yang bisa dieksplorasi oleh wisatawan, mulai dari susur Gua Ngingrong yang termasuk salah satu wisata minat khusus andalan mereka. Ada juga berbagai sentra kerajinan yang bisa dikunjungi, seperti kerajinan batok kelapa, kulit sapi, batu alam, sampai sentra industri bakpia.

Banyak juga kegiatan budaya yang bisa diikuti oleh wisatawan, mulai dari wayang kulit, sanggar tari, reog, jathilan, kethoprak, sampai karawitan.

“Wisatawan nanti bisa request, ingin mengunjungi apa saja disesuaikan dengan lama dia tinggal di Desa Mulo,” lanjut Oktiawan.

Selain paket live in, Desa Wisata Mulo juga menawarkan paket tur sehari mulai dari tur edukasi taman batu geopark, kerajinan batok kelapa, kuliner bakpia, susur gua, flying fox, dan sewa ATV dengan tarif antara Rp 10 ribu sampai Rp 50 ribu.

Meski tarif paket wisata yang ditawarkan desa wisata sudah relatif murah, menurut Oktiawan desa wisata masih kesulitan menarik pengunjung, terutama untuk paket tinggal atau live in di desa. Sebagian besar hanya mengunjungi wisata-wisata yang jadi andalan untuk berfoto seperti wisata Gua Ngingrong.

“Memang agak sulit memasarkan paket-paket wisata desa yang basisnya edukasi. Itu juga masih jadi PR kami dalam melakukan promosi,” kata Oktiawan Setia Budi.