Kumparan Logo
Konten Media Partner

Padi Lokal Jogja Bangkit dari Kubur

Pandangan Jogjaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi petani menanam padi di sawah. Foto: Foto oleh Rattasat dari Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi petani menanam padi di sawah. Foto: Foto oleh Rattasat dari Pexels

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki lebih dari 150 varietas padi lokal yang tersebar di tiap kabupaten, sedangkan yang telah dikarakterisasi ada sekitar 80an varietas. Sayangnya, sebagian besar varietas padi lokal tersebut kini sudah tidak lagi ditanam oleh petani, bahkan tidak sedikit yang berada dalam ancaman kepunahan.

Salah satu padi lokal DIY yang sudah tidak ditanam lagi adalah cempo ireng, varietas lokal dari Sleman yang punya kandungan antosianin (senyawa yang bermanfaat bagi tubuh) tinggi. Namun, produktivitas varietas ini rendah serta umurnya sangat panjang, sehingga membuat waktu panen semakin lama. Selain cempo ireng, ada juga gading merapi, gading melati, si kuning rajun, dan masih banyak lagi.

Tapi saat ini beberapa padi lokal DIY kembali bergeliat lagi dan banyak dicari orang. Misalnya sembada merah dan sembada hitam yang telah dilepas oleh Menteri Pertanian dan kini menjadi dua varietas lokal unggulan dari Kabupaten Sleman.Di Gunungkidul, ada juga dua varietas padi lokal unggulan, yaitu segreng handayani dan mendel handayani.

Peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta, Kristamtini, mengatakan padi-padi lokal DIY yang kini mulai bergeliat lagi memang mayoritas padi merah atau hitam. Hal ini dikarenakan meningkatnya tren pola hidup sehat, dimana beras merah dinilai bisa memberikan manfaat kesehatan yang lebih besar.

“Sekarang konsumen beras hitam dan merah itu kan menengah ke atas, artis-artis kan begitu, karena untuk kesehatan,” kata Kristamtini, Kamis (4/3).

Menurut dia, warna pada beras menjadi indikator adanya kandungan antosianin yang tinggi sehingga baik untuk kesehatan. Misalnya beras hitam yang mengandung antioksidan, antikanker, memiliki kadar gula rendah, jika dimakan rasa kenyangnya pun bisa bertahan lebih awet.

Beras sembada merah dan sembada hitam. Foto: Widi Erha Pradana.

Meskipun produktivitasnya sedikit lebih rendah, tapi padi-padi tersebut memiliki nilai jual yang tinggi. Misalnya beras sembada hitam yang satu kilogramnya saja harganya bisa mencapai Rp 20 ribu dari petani.

Hal ini karena padi-padi tersebut punya nilai fungsional yang didaftarkan sebagai varietas lokal, sehingga tidak harus mengikuti standar Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Padi-padi lokal yang khusus berwarna itu, meskipun produktivitasnya sedikit lebih rendah tapi harganya tinggi. Kami sudah hitung analisis usaha tanamnya juga menguntungkan,” ujarnya.

Sedangkan beras putih lokal yang sekarang paling banyak ditanam oleh petani di DIY menurut Kristamtini adalah varietas mentik susu dan mentik wangi, tapi varietas ini tidak asli berasal dari DIY, melainkan dari Jawa Tengah.

Menurutnya, DIY juga punya varietas padi putih lokal yang punya potensi untuk dikembangkan, yakni padi menor atau melati menoreh dari Kulon Progo. BPTP Yogyakarta menurut dia telah bekerja sama dengan pemerintah Kulon Progo dan Pemda DIY untuk melepas varietas ini secara nasional.

Beras yang memiliki karakter putih, pulen, dan wangi ini menurut dia telah terdaftar di Pendaftaran Varietas Tanaman (PVT) sebagai sumber daya genetik (SDG) Kulon Progo.

“Tahun ini insyaa Allah kita akan usulkan pelepasan varietas seperti sembada hitam,” kata Kristamtini.

Revolusi Hijau Sisihkan Padi Lokal

Ksitamtini menunjukkan varietas padi lokal Jogja. Foto: Widi Erha Pradana.

Revolusi hijau pada akhir 1960 merupakan awal bagi padi-padi lokal di Indonesia mulai tersisih, tidak terkecuali di DIY. Saat itu, pemerintah melarang petani untuk menanam padi-padi lokal dan ‘dipaksa’ untuk menanam padi varietas unggul seperti IR 64 yang memiliki produktivitas lebih tinggi.

“Semua menanamnya padi yang produktivitasnya tinggi, IR 64 itu, sehingga padi-padi lokal semakin sedikit,” kata Kristamtini.

Dalam penelitiannya yang berjudul ‘Keragaman Sepuluh Kultivar Padi Lokal (Oryza sativa L.) Daerah Istimewa Yogyakarta, Whisnu Agung Suryanugraha dan Supriyanta dari UGM yang juga bekerja sama dengan Kristamtini menyebutkan bahwa penanaman padi varietas unggul mengakibatkan keanekaragaman padi lokal menurun secara drastis, bahkan punah.

Keberadaan beberapa plasma nutfah menjadi rawan dan langka, bahkan ada yang telah punah akibat perubahan besar dalam penggunaan sumber daya hayati dan penggunaan lahan sebagai habitatnya.

“Salah satu sebab kepunahan sumber keanekaragaman hayati adalah terjadinya pergeseran habitat oleh varietas unggul baru yang dikembangkan secara besar-besaran sehingga menggantikan kedudukan varietas lokal,” tulis mereka dalam penelitian tersebut.

Padahal, varietas padi lokal yang ditanam petani merupakan varietas yang telah puluhan bahkan ratusan tahun ditanam dan diseleksi oleh alam. Penanaman padi lokal disenangi petani karena sebagian memiliki daya adaptasi yang baik terhadap lingkungan sub optimal antara lain ekologi lahan gambut, rasa beras yang enak, aroma harum, teruji ketahanannya terhadap hama dan kualitas nasi yang baik, walaupun produksinya tidak setinggi varietas padi baru.

“Varietas baru sebagian kurang disukai petani karena memerlukan pemeliharaan yang intensif dan lingkungan yang optimal,” lanjutnya.

Memulihkan Varietas Padi Lokal

Koleksi benih padi lokal di BPTP. DIY. Foto: Widi Erha Pradana.

Kristamtini dan timnya di BPTP sampai saat ini terus melakukan eksplorasi untuk mengumpulkan padi-padi varietas lokal DIY. Ketika revolusi hijau, menurutnya masih ada sejumlah petani yang tetap menanam varietas padi lokal. Beberapa di antara mereka juga ada yang masih menyimpan padi-padi tersebut, meski tidak bisa semuanya diselamatkan.

“Karena disimpan di tempat yang tidak benar dalam waktu yang sangat lama, sehingga banyak yang tidak bisa lagi ditanam,” kata Kristamtini.

Di BPTP juga terdapat ratusan sampel benih padi lokal yang disimpan, sehingga jika di lapangan padi tersebut punah, masih tersedia di BPTP Yogyakarta. Benih-benih itu dalam periode tertentu akan ditanam untuk mendapatkan benih yang lebih baru, sehingga benih padi lokal tidak rusak karena terlalu lama disimpan.

Kendati demikian, tidak serta merta juga petani diminta untuk menanam varietas padi lokal semua secara penuh. Dengan produktivitas yang rendah, swasembada pangan akan sulit dicapai jika semua petani hanya menanam padi lokal saja setiap musim.

“Harus berjalan beriringan, boleh menanam varietas unggul, tapi diselingi menanam padi lokal, paling tidak setahun sekali. Sehingga swasembada pangan bisa tercapai, kelestarian sumber daya genetik juga tercapai,” ujarnya. (Widi Erha Pradana / YK-1)