Pekerja Seks di Sarkem Turun Selama Pandemi, dari 250 Jadi 150 Orang
·waktu baca 2 menit

Pasar kembang atau sarkem menjadi tempat lokalisasi paling terkenal di Kota Yogyakarta. Sarkem bahkan disebut-sebut sebagai tempat lokalisasi paling tua di Indonesia. Diperkirakan, kawasan yang berada di seberang Stasiun Tugu Yogyakarta itu sudah mulai menjadi tempat lokalisasi sejak tahun 1800-an.
Sampai saat ini, masih ada ratusan pekerja seks yang ‘mangkal’ di kawasan Sarkem setiap malam. Namun, selama pandemi jumlah pekerja seks yang ada di Sarkem mengalami penurunan yang cukup pesat.
Hal itu disampaikan oleh Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Budhi Hermanto. PKBI merupakan salah satu organisasi non pemerintah yang aktif memberikan pendampingan kepada pekerja seks di DIY, termasuk di Sarkem.
Budhi menyampaikan bahwa berdasarkan catatan mereka, sebelum pandemi jumlah pekerja seks yang ada di Sarkem masih di angka 250-an.
“Terus setelah pandemi ini berkurang jadi 150-an pekerja seks,” kata Budhi Hermanto, Rabu (6/9).
Dia mengatakan bahwa selama pandemi banyak pekerja seks yang memilih untuk pulang ke kampung halamannya masing-masing. Pasalnya, tidak semua pekerja seks yang ada di Sarkem adalah penduduk setempat.
“Setelah pulang kampung mereka kemudian beralih profesi,” ujarnya.
Sampai saat ini, PKBI menurutnya masih terus melakukan pendampingan terhadap para pekerja seksual di Sarkem. Pendampingan ini misalnya berupa pemeriksaan kesehatan secara rutin, mengingat sebagai pekerja seks mereka termasuk kelompok yang sangat rentang tertular dan menularkan penyakit seksual.
Dengan begitu, jika ada pekerja seks yang terinfeksi penyakit seksual harapannya bisa langsung dideteksi.
“Kesadaran mereka sekarang semakin baik, bahkan sudah ada yang berani mewajibkan pelanggannya pakai kondom. Kalau tidak mau pakai, dia tidak akan melayani,” kata Budhi Hermanto.
