Pohon Beringin, Preh, sampai Asem Jawa Jadi Komoditas Bonsai Terbaik dari Jogja

Konten Media Partner
16 Januari 2022 17:44
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Bonsai asem jawa salah satu bonsai yang dikembangbiakkan di Bantul. Foto: Widi Erha Pradana
zoom-in-whitePerbesar
Bonsai asem jawa salah satu bonsai yang dikembangbiakkan di Bantul. Foto: Widi Erha Pradana
ADVERTISEMENT
Dengan iklim yang sangat bersahabat, Indonesia jadi salah satu negara dengan jenis pohon terbanyak di dunia yang bisa dijadikan bonsai. Total, ada sekitar 800 jenis tanaman bonsai yang bisa tumbuh dengan baik di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Di Yogyakarta, sebenarnya hampir semua jenis tanaman bonsai juga bisa tumbuh dengan baik. Namun, ada beberapa jenis tanaman komoditas bonsai yang paling populer dan cocok ditanam di daerah Yogyakarta.
Koordinator Wilayah (Korwil) Piyungan Perhimpunan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Cabang Bantul, Gunardi, mengatakan beberapa jenis tanaman bonsai yang paling populer di Yogyakarta di antaranya asem jawa, serut (Streblus asper) dan beberapa jenis ficus seperti beringin (Ficus benjamina), preh (Ficus ribes Reinw.), hingga kimeng (Ficus microcarpa). Meski beberapa jenis Ficus, seperti beringin dan kimeng awalnya berasal dari China, namun keduanya sangat cocok ditanam di Yogyakarta, bahkan di Indonesia secara umum.
“Ficus-ficus itu harganya sangat stabil, bahkan ada yang fantastis seperti di Banjar ada Rp 2 miliar, di Bali Rp 6 miliar,” kata Gunardi ketika ditemui di kediamannya, Sabtu (8/1).
Bonsai pohon beringin kimeng senilai Rp 2 miliar yang dipamerkan di Jogja awal Maret 2021. Foto: Widi Erha Pradana.
zoom-in-whitePerbesar
Bonsai pohon beringin kimeng senilai Rp 2 miliar yang dipamerkan di Jogja awal Maret 2021. Foto: Widi Erha Pradana.
Secara kualitas, bonsai dari tanaman jenis ficus asli Indonesia juga tidak kalah dengan bonsai-bonsai luar negeri seperti lohansung, bucida, atau juniperus. Bonsai dari beringin atau preh, juga jadi salah satu jenis yang paling disukai baik di pasar domestik maupun mancanegara.
ADVERTISEMENT
Selain jenis-jenis ficus, asem jawa (Tamarindus indica) juga jadi salah satu andalan para pebonsai di Jogja. Seperti bonsai dari jenis ficus, bonsai dari pohon asem jawa juga memiliki harga yang relatif stabil dibandingkan dengan jenis lainnya.
“Dan yang paling penting, ketika sudah jadi bonsai usianya itu bisa sangat lama, seperti ficus,” ujarnya.
Apalagi di Jogja banyak sekali pohon-pohon asem besar yang sudah berbuah. Hal ini semakin memudahkan para pebonsai untuk mendapatkan biji asem untuk dijadikan benih dan bibit.
Sebenarnya, walaupun namanya asem jawa, tanaman ini bukan benar-benar berasal dari Jawa. Mengutip laman kehati.jogjaprov.go.id, tanaman ini justru berasal dari Afrika yang kemudian dikembangkan oleh orang-orang India karena dianggap memiliki banyak manfaat. Baru setelah itu menyebar ke berbagai negara lain termasuk Indonesia.
Salah seorang petani bonsai Bantul juga mengembangkan bonsai cemara udang. Foto: Widi Erha Pradana
zoom-in-whitePerbesar
Salah seorang petani bonsai Bantul juga mengembangkan bonsai cemara udang. Foto: Widi Erha Pradana
Nama asem jawa sendiri digunakan karena buah asem jawa kerap dijadikan sebagai bumbu masakan Jawa. Namun, di Yogyakarta, pohon asem jawa memiliki keistimewaan tersendiri, tak sekadar jadi bumbu masakan. Pohon asem jawa termasuk jenis pohon yang ditanam di sepanjang sumbu filosofi dari Panggung Krapyak - Alun-Alun Selatan – Keraton – Alun-Alun Utara – Tugu, selain juga ada pohon tanjung, mangga, dan beringin.
ADVERTISEMENT
“Daun asem kan namanya sinom. Sinom atau enom itu artinya muda. Jadi, bagi masyarakat Jawa pohon asem itu melambangkan masa muda yang menyenangkan, semoga dengan menanam pohon ini para pebonsai jadi awet muda dan selalu bahagia,” ujarnya.
Selain Ficus dan asem jawa, sebenarnya masih ada beberapa jenis pohon di Jogja yang sangat bagus dijadikan bonsai. Misalnya ada serut, waru, atau cemara yang alam Yogya memang tersedia cukup banyak.
“Tapi kami minimalkan ambil di alam, sebisa mungkin budidaya sendiri. Kalau terpaksa ambil, boleh, satu atau dua tapi setelah itu diperbanyak,” kata Gunardi. (Widi Erha Pradana / YK-1)
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·