Putar Otak Pemkot Yogya Tangani Sampah Penduduk 210 Ton Sehari saat TPA Tutup

Produksi sampah harian Kota Yogyakarta saat ini mencapai sekitar 210 ton. Jumlah itu sudah turun sekitar 80 ton setelah diberlakukannya gerakan Zero Sampah Anorganik oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Yogya sejak Januari 2023 silam.
Di sisi lain, Kota Yogya tak memiliki satupun tempat pembuangan akhir (TPA) yang bisa menampung sampah-sampah tersebut.
Kota Yogya memang memiliki tiga tempat pembuangan sementara (TPS) dan 14 depo sampah. Namun, fasilitas tersebut hanya berfungsi untuk menampung sementara sampah-sampah harian sebelum dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA).
“Selama ini sampah-sampah dari Kota Yogyakarta dibuangnya ke TPA Regional Piyungan,” kata Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkot Yogyakarta, Ahmad Haryoko, saat ditemui di kantornya, Kamis (27/7) siang.
Karena itu, saat TPA Regional Piyungan ditutup sejak Minggu (23/7) kemarin, Pemkot Yogya mesti memutar otak untuk mencari tempat pembuangan sampah yang diproduksi Kota Yogyakarta.
Haryoko mengatakan, selama penutupan TPA Regional Piyungan, untuk sementara Kota Yogya menumpang ke TPA Banyuroto di Nanggulan, Kulon Progo, untuk menampung sampah-sampahnya. Itupun, kuota yang diberikan kepada Kota Yogya hanya 15 ton sampah sehari.
“Jauh lebih kecil dari produksi sampah di Kota Yogyakarta,” ujarnya.
Untuk menampung sisa sampah yang belum bisa dibuang, kini Kota Yogya masih menunggu dibukanya kembali TPA Regional Piyungan dan TPA sementara yang rencananya akan dibuka di Kabupaten Sleman.
Sebelum dua TPA tersebut aktif, sisa sampah di Kota Yogya yang belum bisa diangkut ke TPA masih ditampung di beberapa depo dan tempat pembuangan sementara (TPS) yang sudah beroperasi lagi dengan sistem buka tutup.
Total, ada empat depo dan satu TPS di Kota Yogya yang kini sudah dibuka lagi, di antaranya adalah Depo Ngasem, Depo Dukuh, Depo Tompeyan, Depo Pengok, dan TPS Tamansari.
“Kami operasikan dengan sistem buka tutup, jadi dari 14 depo dan tiga TPS yang kami miliki nanti akan dibuka bergiliran,” ujarnya.
Namun karena kapasitas depo dan TPS yang dimiliki sangat terbatas, tidak semua sampah bisa ditampung di depo dan TPS tersebut. Sampah-sampah yang diperioritaskan untuk diangkut adalah sampah-sampah yang ada di jalan-jalan protokol dan di tengah kota.
Sedangkan sampah-sampah di permukiman masih banyak yang belum bisa diangkut.
“Lokasi tumpukan sampah di jalan protokol kami prioritaskan karena itu mukanya Kota Jogja, juga agar tidak terlalu mengganggu pariwisata,” kata Ahmad Haryoko.
Rencananya, TPA Regional Piyungan akan dibuka secara terbatas pada Jumat (28/7) besok. Meski kapasitas sampah yang bisa ditampung di TPA Regional Piyungan masih dibatasi, namun hal itu menurutnya memberi sedikit angin segar bagi Kota Yogya.
“Paling tidak itu bisa mengurangi sampah yang masih menumpuk di Kota Jogja,” ujarnya.
