Kumparan Logo
Konten Media Partner

Ratusan Orang Tonton Video Mapping Sumbu Filosofi Yogya di Panggung Krapyak

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Video Mapping di Panggung Krapyak Senin (5/9) malam. Foto: Widi Erha Pradana
zoom-in-whitePerbesar
Video Mapping di Panggung Krapyak Senin (5/9) malam. Foto: Widi Erha Pradana

Kawasan sekitar Panggung Krapyak atau Kandang Menjangan di Desa Panggungharjo, Bantul, lebih ramai dari biasanya, Senin (5/9) malam. Tua, muda, lelaki, perempuan, berkumpul di sekitar bangunan tua nan bersejarah itu, menghadap fasad Panggung Krapyak yang disorot oleh sinar proyektor.

Senin malam, Panggung Krapyak menjadi lokasi penutupan event Jogja World Heritage Week, sebuah event yang digelar Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk menunjang pengajuan Sumbu Filosofis Yogya sebagai warisan budaya dunia.

Ratusan warga yang berkumpul di sekitar Panggung Krapyak semakin khidmat ketika sebuah video ditayangkan di fasad bangunan bersejarah itu. Ada yang sekadar menyaksikan dengan tatapan takjub, tak sedikit juga yang mengabadikan momen itu dengan merekam menggunakan gawainya. Video yang ditampilkan tak lama, durasinya hanya sekitar lima menit yang intinya menceritakan tentang perjalanan Sumbu Filosofi Yogya dari waktu ke waktu dan bagaimana maknanya.

“Senang ya, melihat masyarakat sangat antusias menyaksikan video mapping yang kami buat, dalam lima menit Panggung Krapyak sudah seperti bioskop rakyat,” kata Ari Wulu, salah seorang seniman yang membuat video mapping tersebut, Senin (5/9).

Ari Wulu. Foto: Widi Erha Pradana

Ari menceritakan, video mapping yang dia buat bertujuan untuk mengenalkan Sumbu Filosofis Yogya dan sejarah berdirinya Kerajaan Mataram kepada masyarakat luas, khususnya anak-anak muda. Sebab menurutnya perlu cara-cara yang lebih kreatif dan kekinian sesuai zaman mereka untuk mengenalkan budaya dan sejarah. Tidak cukup sekadar melalui buku dan dongeng-dongeng belaka.

“Ibaratnya seperti kasih obat sama anak-anak, tapi obatnya dimasukin ke es krim,” lanjutnya.

kumparan post embed

Video mapping yang ditampilkan di Panggung Krapyak itu dibuat dalam waktu sekitar tujuh hari, waktu yang sebenarnya terlalu singkat untuk membuat sebuah video mapping dengan durasi 5 menit. Biasanya, mereka butuh waktu sekitar satu bulan untuk membuat video mapping dengan durasi sekitar 5 menit.

Foto: Widi Erha Pradana

Sebab, membuat video mapping tentang Sumbu Filosofis Yogya bukan sekadar membuat visual yang bagus dan memanjakan mata. Karena berkaitan dengan sejarah, maka Ari dan timnya juga mesti melakukan riset tentang sejarah dan makna Sumbu Filosofis Yogya.

Tak hanya itu, mereka juga harus menyesuaikan video yang mereka buat dengan fasad Panggung Krapyak yang akan menjadi tempat untuk menampilkan video tersebut. Tidak lupa, salah satu bagian yang paling sulit adalah merumuskan bagaimana membuat presentasi yang cocok, baik dari segi visual maupun dari cara bercerita.

“Untungnya materi atau bahan videonya cukup banyak dan mudah didapat, dan fasad Panggung Krapyak ini relatif flat sehingga cukup mempermudah proses pengerjaan,” ujarnya.

Ari sengaja hanya menampilkan informasi-informasi yang bersifat umum tentang Kerajaan Mataram dan Sumbu Filosofis dalam video tersebut. Selain karena durasi yang singkat, dia khawatir jika informasi yang ditampilkan terlalu kompleks justru akan membuat mereka yang menonton bingung dan bosan.

“Jadi informasinya yang ringan-ringan saja, yang penting bisa mengenalkan Sumbu Filosofis ke mereka dan bikin mereka penasaran, sehingga mereka akan cari informasi yang lebih lengkap dari sumber lain,” kata Ari Wulu.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Laksmi Pratiwi. Foto: Widi Erha Pradana

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Laksmi Pratiwi, mengapresiasi video mapping tentang Sumbu Filosofis Yogya yang dihasilkan Ari Wulu dan timnya. Dia juga mengungkapkan terima kasihnya kepada para seniman pegiat video mapping yang sudah bersedia bekerja sama dengan pemerintah untuk ikut mempromosikan Sumbu Filosofi Yogya.

Menurut Dian, video mapping memang menjadi salah satu medium yang cocok untuk mengenalkan Sumbu Filosofis kepada masyarakat luas.

“Karena ini cukup menyenangkan dan sangat mudah dipahami oleh semua kalangan, sehingga dalam waktu hanya beberapa menit saja masyarakat sudah bisa mengenal apa itu Sumbu Filosofis,” kata Dian Laksmi Pratiwi.

Melihat antusiasme masyarakat di sekitar Panggung Krapyak yang cukup tinggi untuk menyaksikan pertunjukan video mapping tersebut, pemerintah menurutnya akan menggelar agenda serupa secara rutin di obyek-obyek yang termasuk ke dalam bagian Sumbu Filosofi, termasuk Panggung Krapyak. Paling tidak, ke depan pemerintah akan menjadikan Jogja World Heritage sebagai event tahunan.

“Jogja World Heritage ini akan selalu ada setiap tahun, tetapi kreasi dan konsep tentu akan selalu berbeda, kita inovasikan. Tetapi akan selalu ada tiga ikon, Panggung Krapyak, Kraton, dan Tugu, ini yang menjadi tiga atribut utama dalam Sumbu Filosofi,” ujarnya.

Pertunjukan video mapping menjadi ujung sekaligus puncak dari gelaran Jogja World Heritage 2022 yang telah digelar sejak 1 September kemarin. Selain menyaksikan video mapping, masyarakat yang hadir dalam penutupan Jogja World Heritage Week 2022 juga dihibur dengan pertunjukan konser musik mini.