Resmi Ditutup, FKY 2025 di Gunungkidul Catat Putaran Ekonomi Rp550 Juta Lebih
·waktu baca 3 menit

Penyelenggaraan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025 yang berpusat di Lapangan Desa Logandeng, Plembon Kidul, Kalurahan Logandeng, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul, DIY pada hari Sabtu (11/10) sampai Sabtu (18/10), tidak hanya menjadi ruang perayaan adat dan seni, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Selama sepekan pelaksanaan, total dampak ekonomi yang dihasilkan mencapai Rp550.769.500.
Dari data panitia, omzet tenant Pasaraya yang terdiri dari 18 kapanewon mencapai Rp114.724.500, sementara tenant kuliner yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Logandeng melalui 70 stan meraup Rp396.366.000. Adapun pendapatan dari kantong parkir resmi yang terdaftar tercatat sebesar Rp27.679.000.
Direktur FKY 2025, B.M. Anggana, menyebut angka tersebut menunjukkan bahwa kegiatan kebudayaan tidak hanya memberi ruang ekspresi bagi seniman, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi nyata di tingkat lokal.
“FKY tumbuh dari kerja sama antara panitia dan warga. Yang memelihara kebudayaan bukan kekuasaan, melainkan kasih sayang dan gotong royong yang hidup di masyarakat,” ujarnya, dikutip dari rilis acara pada Senin (20/10).
Ruang Ekonomi yang Inklusif
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi menegaskan, pelibatan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan penyelenggaraan FKY tahun ini.
“Kerja gotong royong dari masyarakat, pelaku seni, pelaku UMKM, hingga komunitas membuat FKY 2025 menjadi perayaan hidup bersama dalam kebudayaan,” katanya, dikutip dari rilis acara pada Senin (20/10).
Dalam catatan panitia, kegiatan ini melibatkan 2.587 pelaku seni dan budaya, serta dihadiri oleh 98.132 pengunjung dari berbagai wilayah. Kegiatan ekonomi tidak hanya berlangsung di area utama, tetapi juga merembet ke sektor pendukung seperti parkir warga, akomodasi, dan warung lokal di sekitar lokasi acara.
Efek Ganda ke Ruang Digital
Selain dampak ekonomi langsung, FKY 2025 juga menunjukkan potensi ekonomi kreatif melalui ranah digital. Lebih dari 155 konten resmi FKY menjangkau 3,2 juta penonton di Instagram, 243 ribu di TikTok, dan 157 ribu di YouTube.
Pertumbuhan ini turut memperluas eksposur pelaku UMKM dan komunitas yang terlibat, sekaligus menguatkan posisi Gunungkidul sebagai kawasan potensial bagi pariwisata budaya berbasis masyarakat.
Sejak situs resmi fky.id diluncurkan pada awal Oktober, pengunjung aktif meningkat hingga 2.772 pengguna per hari di puncak penyelenggaraan. Akses datang tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari Swedia, Irlandia, Belanda, Amerika Serikat, Thailand, dan Tiongkok, menunjukkan jangkauan promosi yang melampaui batas lokal.
Kebudayaan yang Produktif dan Berkelanjutan
Selain memberi dampak ekonomi, FKY 2025 juga memperlihatkan komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan. Pengelolaan sampah di venue utama dilakukan secara mandiri tanpa pembuangan ke TPA, berkolaborasi dengan Sibhumiasri melalui inisiatif LuWangan, didukung oleh KWT Plembon Kidul.
Program ini mencakup pemilahan, edukasi pengunjung, sweeping puntung rokok, dan pengolahan organik melalui dua sumur biopori.
Dari hasil pencatatan, total sampah yang dikelola mencapai 296,40 kilogram residu, 48,26 kilogram anorganik bernilai rendah, 119,22 kilogram anorganik bernilai tinggi, 537,93 kilogram organik, dan 3,65 kilogram puntung rokok.
Gotong Royong Sebagai Fondasi Ekonomi Budaya
Festival yang mengusung tema “Adoh Ratu, Cedhak Watu” ini menegaskan bagaimana masyarakat Gunungkidul mampu menjadikan kebudayaan sebagai sumber kekuatan ekonomi. Di tengah jarak dari pusat kekuasaan, warga menunjukkan daya lenting dan kemandirian melalui kolaborasi lintas sektor.
Dengan capaian partisipasi dan perputaran ekonomi tersebut, FKY 2025 tidak hanya memperkuat identitas budaya Yogyakarta, tetapi juga menjadi contoh bagaimana event kebudayaan dapat menjadi katalis ekonomi lokal yang berakar pada partisipasi masyarakat.
