Rokok Kretek Filter Penyumbang Terbesar Garis Kemiskinan di DIY setelah Beras

Rokok kretek filter menjadi komoditas penyumbang terbesar kedua garis kemiskinan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) setelah beras. Pada Maret 2026, komoditas tersebut tercatat menjadi penyumbang garis kemiskinan terbesar kedua, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan.
Data tersebut disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) DIY dalam rilis kemiskinan yang digelar di Kantor BPS DIY, Rabu (5/8). BPS menjelaskan, garis kemiskinan merupakan nilai pengeluaran minimum untuk memenuhi kebutuhan makanan dan bukan makanan agar seseorang tidak dikategorikan miskin.
Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.
Pada Maret 2026, garis kemiskinan di DIY tercatat sebesar Rp704.034 per kapita per bulan untuk wilayah perkotaan dan Rp580.455 per kapita per bulan untuk wilayah perdesaan.
Berdasarkan data BPS, kontribusi beras sebagai komoditas penyumbang terbesar garis kemiskinan mencapai 17,76 persen di wilayah perkotaan dan 23,93 persen di wilayah perdesaan.
Sementara itu, rokok kretek filter berada di posisi kedua dengan kontribusi sebesar 9,04 persen di perkotaan dan 6,15 persen di perdesaan.
Berdasarkan data statistik kemiskinan BPS selama sekitar dua tahun terakhir, rokok kretek filter konsisten menjadi komoditas penyumbang terbesar kedua garis kemiskinan di wilayah perkotaan.
Sementara di wilayah perdesaan, kontribusinya cenderung berfluktuasi. Terakhir kali rokok kretek filter menempati posisi kedua di kedua wilayah secara bersamaan terjadi pada Maret 2024.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS DIY, Endang Tri Wahyuningsih, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa rokok kretek filter menjadi salah satu komoditas yang dominan dikonsumsi masyarakat, baik di perkotaan maupun perdesaan.
Karena itu, komoditas tersebut turut memengaruhi besaran garis kemiskinan selain beras.
“Jadi, untuk tadi komoditas penyumbang garis kemiskinan, di perkotaannya, di perdesaan. Jadi, orang desa sekarang mengkonsumsi itu, untuk garis kemiskinan penyumbangnya, meskipun masih lebih tinggi di daerah perkotaannya,” kata Endang kepada awak media di Kantor BPS DIY, Rabu (5/8).
Menurut Endang, komoditas penyumbang garis kemiskinan perlu mendapat perhatian agar harga-harganya tetap stabil dan tidak mengalami kenaikan yang drastis.
“Komoditas penyumbang terbesar garis kemiskinan ini harus dijaga untuk harganya ya supaya tidak mengalami perubahan yang drastis,” ujar Endang.
Selain beras dan rokok kretek filter, komoditas makanan penyumbang garis kemiskinan di wilayah perkotaan pada Maret 2026 meliputi telur ayam ras, daging ayam ras, dan kue basah.
Sementara di wilayah perdesaan terdiri atas daging ayam ras, telur ayam ras, dan tempe.
Untuk komponen bukan makanan, penyumbang garis kemiskinan di wilayah perkotaan meliputi perumahan, bensin, pendidikan, listrik, dan kesehatan.
Adapun di wilayah perdesaan terdiri atas perumahan, bensin, listrik, pendidikan, serta perlengkapan mandi.
