Kumparan Logo
Konten Media Partner

Satu Dekade Land of Leisures, Temani Brand Lokal Tumbuh di Yogyakarta

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Land of Leisures (LOL) 2026. Foto: Pandangan Jogja/Gracetika
zoom-in-whitePerbesar
Land of Leisures (LOL) 2026. Foto: Pandangan Jogja/Gracetika

Land of Leisures (LOL) 2026 resmi menutup penyelenggaraan edisi kesepuluhnya di Plaza Ambarrukmo, Yogyakarta. Mengusung tema "A Decade of Leisures", festival ini menghadirkan lebih dari 80 tenant dengan dominasi brand lokal Yogyakarta sekaligus menegaskan perannya sebagai ruang bertumbuh bagi ekosistem industri kreatif selama satu dekade terakhir.

Digelar pada 25–28 Juni 2026 di Atrium Plaza Ambarrukmo dan Alun-alun Ambarrukmo, Land of Leisures kembali mengusung konsep Curated Market Event yang memadukan pasar kreatif, pertunjukan musik, ruang diskusi, hingga aktivasi komunitas dalam satu rangkaian festival.

Tema A Decade of Leisures merepresentasikan perjalanan sepuluh tahun Land of Leisures sebagai ruang yang terus berkembang bersama pelaku kreatif, komunitas, brand lokal, musisi, dan pengunjung.

Project Director Land of Leisures 2026, Aprilian Laili. Foto: Pandangan Jogja/Gracetika

Project Director Land of Leisures 2026, Aprilian Laili, mengatakan keberlangsungan acara selama satu dekade tidak terlepas dari upaya penyelenggara untuk terus beradaptasi dengan perkembangan tren.

"Land of Leisures bertahan selama 10 tahun karena memang kami mencoba untuk adaptif ke tren yang ada. Kita mencoba masuk di industri kreatif dan mencoba untuk selalu update tentang tren-tren yang ada di sekitaran,"ujarnya.

Perubahan tersebut tercermin pada komposisi tenant. Jika pada tahun-tahun sebelumnya jumlah brand lokal dan luar daerah masih seimbang, kini brand asal Yogyakarta mendominasi penyelenggaraan.

"Yang awalnya di tahun-tahun sebelumnya itu 50-50 dari brand luar dan brand Jogja, akhirnya kita sudah mulai tumbuh. Jadi brand Jogja itu lebih banyak 70% dan brand luar itu 30%," jelas Aprilian.

Suasana area tenant makanan di Land of Leisures (LOL) 2026 yang dipadati pengunjung sepanjang acara berlangsung. Foto: Pandangan Jogja/Gracetika

Secara keseluruhan, Land of Leisures 2026 menghadirkan lebih dari 80 tenant yang terbagi dalam kategori Fashion & Lifestyle serta Food & Beverage. Sekitar 50 tenant mengisi area fashion and lifestyle, sementara sekitar 30 tenant lainnya hadir di area garden.

Sejumlah brand yang telah menjadi bagian dari Land of Leisures selama bertahun-tahun kembali berpartisipasi, seperti Demi Bakmi 69, Sugabumi, Coffee Chosan, hingga brand dari Paragon seperti Emina dan Tafi. Festival ini juga menghadirkan berbagai brand lain dari Yogyakarta maupun kota-kota lain di Indonesia.

Selain menghadirkan curated market, Land of Leisures turut menyelenggarakan berbagai program interaktif, seperti Undercurrent Convo yang membahas perkembangan industri kreatif dan musik bersama para pelaku industri, serta Live Podcast bersama The Tribes yang mengangkat berbagai perspektif dari ekosistem kreatif.

Musik tetap menjadi bagian penting dari pengalaman festival melalui sesi Music Room yang menghadirkan musisi nasional, seperti Matter Mos, Namoy Budaya, Awan .Feast, dan Man Osman, serta penampilan musisi lokal Yogyakarta, di antaranya Domapine, Notyourwife, Liburan di Rumah, dan Pemuntjak.

instagram embed

Selama satu dekade penyelenggaraannya, Land of Leisures disebut telah menjadi ruang bagi ratusan hingga hampir ribuan brand lokal secara kumulatif. Kehadiran para pelaku usaha kreatif tersebut diharapkan turut mendorong perputaran ekonomi di Yogyakarta.

"Kami optimis Land of Leisures akan bisa terus ada di tahun-tahun mendatang dan membantu roda perekonomian Jogja,"kata Aprilian.

Dalam menentukan konsep setiap penyelenggaraan, Aprilian mengatakan kurasi tidak hanya mengikuti tren yang sedang berkembang, tetapi juga mempertimbangkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

"Untuk tren, enggak cuman berdasarkan apa yang sedang viral saja, tapi kita juga melihat kondisi sosial dan ekonomi yang sangat berpengaruh terhadap spending power dari market yang datang ke LOL," ungkapnya.

Area tenant fashion dan beauty di Land of Leisures (LOL) 2026 dipadati pengunjung. Foto: Pandangan Jogja/Ike Kirana

Dampak penyelenggaraan juga dirasakan oleh para tenant. Perwakilan Demibakmi mengungkapkan bahwa keikutsertaan mereka secara rutin di Land of Leisures membantu memperluas pengenalan merek hingga ke luar Yogyakarta.

Sementara itu, Wina, founder Akar Jus Bar, menyebut Land of Leisures menjadi salah satu titik awal kebangkitan usahanya setelah pandemi, ketika pop-up event kembali digelar di Yogyakarta pada 2022.

Selain menjadi ruang bagi pelaku usaha kreatif, Land of Leisures juga membangun basis pengunjung yang terus mengikuti perjalanannya selama satu dekade. Sejumlah pengunjung mengaku telah datang sejak penyelenggaraan perdana saat masih menjadi mahasiswa dan kini kembali hadir bersama keluarga mereka.

Land of Leisures (LOL) 2026. Foto: Pandangan Jogja/Ike Kirana

Menurut Aprilian, perubahan karakter pengunjung tersebut menunjukkan pergeseran pasar yang berlangsung secara alami.

"Market yang datang dan behavior yang ada itu sangat berubah selama 10 tahun, dari yang awalnya kita menargetkan generasi milenial, sampai hari ini sudah masuk ke generasi Z dan bahkan sudah masuk juga ke generasi Alpha,"tuturnya.

Momentum satu dekade Land of Leisures menjadi penanda perjalanan festival yang tumbuh bersama pelaku industri kreatif di Yogyakarta. Dengan semakin besarnya porsi brand lokal serta bertambahnya ruang kolaborasi bagi komunitas, musisi, dan pelaku usaha kreatif, penyelenggara menyatakan optimisme untuk terus menghadirkan Land of Leisures pada tahun-tahun mendatang.