Kumparan Logo
Konten Media Partner

Suluh Sumurup Art Fest: Perlawanan Puitik Seniman Difabel Indonesia

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rekki Zakkia bersama karyanya dalam Suluh Sumurup Art Fest 2025. Foto: Dok. Rekki Zakkia
zoom-in-whitePerbesar
Rekki Zakkia bersama karyanya dalam Suluh Sumurup Art Fest 2025. Foto: Dok. Rekki Zakkia

Tulisan ini merupakan opini Rekki Zakkia, salah satu seniman peserta Suluh Sumurup Art Fest 2025 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY).

Di dunia yang sering kali bicara terlalu keras dan mendengar terlalu pelit, aku tumbuh dengan suara-suara yang hanya terdengar olehku sendiri. Suara-suara itu bukan sekadar bisikan—mereka adalah badai yang diam, gemuruh yang tak punya gema. Dalam sunyi itulah aku belajar membaca buku, menulis puisi, menggambar, mencintai bahasa, berkarya dengan membenci stigma. Dan dalam kesunyian yang panjang itu pula aku menemukan jalan: bukan untuk disembuhkan, tapi untuk berdamai.

Suluh Sumurup Art Fest menjadi momen ketika aku, seorang penyintas mental illness selama belasan tahun lebih, akhirnya berdiri di hadapan publik bukan sebagai “penderita” atau “yang perlu dipulihkan,” tetapi sebagai seniman. Bukan untuk dikasihani, tapi untuk didengar. Untuk dikenali sebagai manusia yang lengkap dengan kerumitannya—bukan kekurangannya.

Aku—yang hidup dengan gelombang naik turun kesehatan mental—menghadirkan karyaku bukan sekadar untuk dipandang, tapi untuk dirasakan. Sebab seni rupa bagiku bukan hanya media visual, melainkan jembatan antara bahasa jiwa yang remuk dan harapan yang tak kunjung padam. Karyaku memadukan kata dan warna, garis dan getir, disiplin ketat ilmu pengetahuan dan kegilaan yang jujur. Di sana, aku menyulam sajak ke dalam bentuk, dan menuangkan bentuk ke dalam ruang waktu.

Rekki Zakkia dalam Suluh Sumurup Art Fest 2025. Foto: Dok. Rekki Zakkia

Karya yang kubawa ke pameran ini selama dua tahun terakhir Festival berlangsung, lahir dari tubuh yang remuk oleh diagnosis, kehancuran jiwa bertahun-tahun karena stigma, tetapi dikuatkan oleh keinginan untuk tetap menyala. Seperti suluh. Ia bukan sekadar seni rupa atau puisi; ia adalah gabungan keduanya, bahkan lebih dari itu: sebuah lintasan antara pemikiran filsafat, kenangan, jejak sejarah robekan diri dan kebisingan batin yang perlahan diterjemahkan menjadi bahasa visual. Di dalamnya ada kata-kata yang gagal diucapkan, warna-warna yang lahir dari gangguan tidur, gangguan riuh suara-suara di kepala dan residu obat-obatan anti depresan, serta garis-garis yang dilukis di antara sesi terapi dengan psikiater dan kesunyian doa munajat di malam hari.

Karya-karyaku ini bukan hanya ekspresi. Ia adalah sikap perlawanan. Sebuah perlawanan puitik terhadap sistem yang kerap lupa bahwa manusia lebih luas dari satu dimensi saja. Bahwa estetika bukanlah milik nalar sehat semata, tetapi juga milik jiwa yang mencari keseimbangan dalam gelap. Dan melalui media baru serta pendekatan yang melampaui kategori lama, kami—seniman difabel—membawa gagasan yang mungkin luput dari dunia yang terlalu terburu-buru menilai dan rajin men-kategorisasi segala sesuatu.

Karya Rekki Zakkia dalam Suluh Sumurup Art Fest 2025. Foto: Dok. Rekki Zakkia

Dalam masyarakat yang masih gamang memahami kesehatan mental, keberadaan seniman sepertiku sering dianggap “tak selesai.” Kami terlalu sensitif, terlalu personal, terlalu rapuh untuk dikategorikan sebagai profesional. Tapi justru dari ruang yang dianggap lemah itulah kami (semoga) bisa mencipta sesuatu yang tak bisa dibayangkan oleh logika lurus: perspektif yang melompat dari satu dimensi ke dimensi lain, melihat celah realitas dari sudut yang tak dijangkau oleh dunia yang terlalu terbiasa dengan nalar ke"umum"an dan "normalitas".

Nietzsche pernah berkata, "One must have chaos in oneself to give birth to a dancing star."

Aku percaya, kekacauan yang kurawat dalam diam ini telah melahirkan bintang kecil dalam bentuk karya—bintang yang tidak bersinar terang, tapi cukup untuk menerangi jalanku sendiri. Dan mungkin, juga jalan orang lain yang merasa sendirian dalam dera siksaan gelap yang sama.

Suluh Sumurup bukan sekadar nama sebuah festival Seni Rupa. Ia adalah metafora dari nyala api hidup yang muncul dari dasar sumur kesadaran kami yang selama ini direndahkan. Ia adalah ruang tempat kami, para seniman difabel, diberi panggung bukan karena “spesial”, tetapi karena setara!

Rekki Zakkia dalam Suluh Sumurup Art Fest 2025. Foto: Dok. Rekki Zakkia

Di Suluh Sumurup Art Fest aku tak hanya berkarya. Aku diberi hak untuk berdiri sejajar. Dihargai bukan karena “dilabeli istimewa”, tapi karena dipandang setara sebagai manusia yang bernyanyi dengan bahasa masing-masing. Di tengah stigma dan peminggiran yang masih menjadi arus bawah sistem sosial kita, ruang ini menjadi oasis—tempat kami boleh jujur, dan jujur itu akhirnya dihargai.

Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara Suluh Sumurup Art Fest—bukan sekadar karena mereka memberi ruang, tapi karena mereka memberi makna. Terlebih, karena telah memberi makna kepada kehidupan kami. Memberi makna pada hidup dan kemanusiaan itu sendiri.

Festival Seni ini bukan hanya selebrasi, tapi juga revolusi diam: Sebuah perlawanan puitik melawan stigma dan ketidakadilan, sebuah langkah menuju kesadaran kolektif bahwa disabilitas, termasuk yang tak kasat mata sepertiku, bukan alasan untuk menyingkirkan, melainkan peluang untuk mendengar sesuatu yang belum pernah kita mengerti. Untuk panitia dan penyelenggara yang tidak hanya memberi ruang, tapi juga mendengar dengan hati, terima kasih! Karena dari sinilah, narasi baru tentang seniman difabel bisa lahir—bukan sebagai tambahan atribusi, tetapi sebagai bagian utuh dari ekosistem seni itu sendiri.

Pengunjung melihat karya Rekki Zakkia dalam Suluh Sumurup Art Fest 2025. Foto: Dok. Rekki Zakkia

Jika karya ini tampak seperti jeritan yang berubah menjadi warna, maka biarkan ia tetap bergaung. Bukan untuk mengganggu, tetapi untuk mengingatkan: bahwa di balik diam ada dunia yang sedang bekerja dengan keras untuk tetap bertahan hidup dan layak untuk terus melanjutkan hidup dengan gagah, tabah dan terhormat, untuk tetap bernyanyi, untuk tetap memberi arti. Jika jeritan corat-coret graffiti isi hati ini memantik kalian, maka biarlah ia menjadi suluh. Menyala di tempat yang selama ini gelap. Menyala, bukan untuk membakar, tapi untuk mengundang siapa pun datang mendekat—dengan rasa, bukan prasangka.

Karena kami juga manusia.

Dan kami pun ingin dikenang—bukan hanya karena pernah "sakit", tapi karena pernah mencipta dengan seluruh cinta yang tersisa.

Karya-karya yang dibuat tidak bertujuan untuk memohon iba, tapi untuk mengingatkan bahwa keberadaan kami juga berhak menyumbang keindahan kepada estetika dunia. Dengan seluruh cinta yang masih tersisa.

******

(Rekki Zakkia, Taman Budaya Yogyakarta, 23 Mei 2025. Penutupan Suluh Sumurup Art Fest 2025).