Kumparan Logo
Konten Media Partner

Toko Tjokrosuharto Bercerita: Hampir 100 Tahun Menjadi Langganan Para Pesohor

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ragam kerajinan tangan yang dipajang di Toko Tjokrosuharto. Foto: Nawalre Bujanadi/Pandangan Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Ragam kerajinan tangan yang dipajang di Toko Tjokrosuharto. Foto: Nawalre Bujanadi/Pandangan Jogja

Toko Souvenir Tjokrosuharto yang terletak di area sentra gudeg Wijilan, dekat Alun-alun Utara Yogyakarta dan Titik Nol Malioboro, sudah berusia hampir 100 tahun sejak dibuka pada 1930 lalu, dan menjadi langganan banyak pesohor atau tokoh publik di Indonesia.

Hal itu diakui oleh Pengelola Toko Tjokrosuharto, Rifki Kusumo Harimawan, generasi ketiga pemilik toko saat ditemui Pandangan Jogja dalam program Toko Bercerita, Kamis (8/8).

“Kemarin itu barusan datang Mantan Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono, kemudian Agus Harimurti Yudhoyono, ada juga Menteri PUPR Basuki Hadimuljono. Lalu, ada tokoh publik seperti Ivan Gunawan, dan Dian Sastrowardoyo, mereka yang concern dengan kebudayaan dan seni,” kata Rifky, Kamis (8/8).

Pengelola Toko Tjokrosuharto, Rifki Kusumo Harimawan. Foto: Nawalre Bujanadi/Pandangan Jogja

Di toko ini, ada puluhan ribu produk kerajinan tangan seperti tembaga, kulit, ukiran kayu, tanduk, topeng, patung, keris, baju adat Jawa, gamelan, aksesoris, keris, dan batik tulis. Menurut Rifki, banyaknya produk itu membuat Toko Tjokrosuharto menjadi yang toko souvenir terlengkap di Jogja.

“Insyaallah, kita berusaha untuk semuanya tercukupi. Intinya tidak perlu kemana-mana, cukup dengan satu usaha yang hubungannya dengan seni budaya, tari-tarian, pertunjukan wayang kulit, peralatan adat Jawa, insyaallah bisa tercukupi,” ucap Rifki.

Sektor aksesoris dan kerajinan tangan di Toko Tjokrosuharto. Foto: Nawalre Bujanadi/Pandangan Jogja

Harga jual souvenir di toko ini sangat variatif. Ada yang Rp 30 ribuan, dan ada yang belasan bahkan ratusan juta seperti keris sepuh yang mereka akui sudah ada sejak zaman Majapahit.

“Harga keris sepuh yang dijual itu di kisaran 10-15 juta, yang lebih dari itu ada, tapi tidak kami jual karena harus dirawat. Jadi, kami bukan sekadar mencari keuntungan, tapi melestarikan,” jelas Rifki.

Sektor keris yang dijual di Toko Tjokrosuharto. Foto: Nawalre Bujanadi/Pandangan Jogja

Toko Tjokrosuharto juga tidak membatasi pembelinya untuk datang langsung ke toko. Mereka menyediakan penjualan online yang membuat semua produk bisa dikirimkan ke seluruh Indonesia.

Untuk mengantar produk mereka sampai ke rumah pelanggan, mereka bekerja sama dengan JNE sejak 2009 yang lalu. Bahkan, melalui pengiriman JNE, produk mereka telah sampai ke luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, dan Belanda.

Toko Tjokrosuharto yang terletak di area sentra gudeg Wijilan, dekat dengan Kantor Cabang JNE. Foto: Nawalre Bujanadi/Pandangan Jogja

Rifki mengungkapkan jika sistem pengemasan dari JNE memiliki treatment tersendiri untuk menangani barang-barang antik di Tjokrosuharto. Jadi, walaupun barang yang dikirim merupakan pecah belah, barang tersebut tetap akan selamat sampai tujuan tanpa rusak sedikitpun.

“Misalkan ada barang yang mau dipakai untuk acara pernikahan, kami konsultasikan dulu dengan JNE bagaimana packagingnya supaya tetap aman dan sampai di tujuan dengan baik. JNE selalu menyanggupi hal itu, barang selamat sampai di tempat,” ucap Rifki.