Ulang Tahun ke-80, Sultan HB X: Apa Makna Tahta Tanpa Manfaat bagi Masyarakat?

Konten Media Partner
27 November 2023 17:23 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, saat menghadiri ibadah misa di Gereja Ganjuran, Bantul, Minggu (26/11). Foto: Gereja Ganjuran
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, saat menghadiri ibadah misa di Gereja Ganjuran, Bantul, Minggu (26/11). Foto: Gereja Ganjuran
ADVERTISEMENT
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menghadiri ibadah misa yang diselenggarakan jemaat Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, Bantul, Minggu (26/11) sore.
ADVERTISEMENT
Ibadah misa tersebut diselenggarakan untuk mendoakan Sultan HB X dalam momen ulang tahunnya yang ke-80 berdasarkan penanggalan Jawa.
Dalam kesempatan tersebut, Sultan mengatakan bahwa setiap detik yang mengalir dalam perjalanan hidup adalah bab yang tercipta untuk diisi dengan kebijaksanaan dan kebajikan.
Setiap detik, manusia mesti berbuat kebaikan yang bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk seluruh jagat raya.
“Di momentum 80 tahun usia ini pula saya pun senantiasa mengingat-ingatkan kepada diri sendiri dengan selalu menanyakan pada nurani, apa makna sebuah tahta dan menjadi seorang Sultan apabila tidak memberi manfaat bagi masyarakatnya?” kata Sri Sultan HB X, Minggu (26/11) malam.
“Pertanyaan itu, pada akhirnya mengkristal dalam prinsip moral Hamengku Buwono Tekadku,” lanjutnya.
ADVERTISEMENT
Hamengku Buwono menurutnya mengandung tiga substansi yang bersumber dari makna hamangku, hamengku, dan hamengkoni. Makna hamangku sendiri merupakan memberikan hati dengan lebih banyak memberi daripada menerima.
Sedangkan hamengku bermakna ngemong atau melindungi dan mengayomi tanpa membeda-bedakan golongan, keyakinan, dan agama secara adil. Sementara hamengkoni bermakna bahwa seorang pemimpin berkewajiban memberikan teladan bagi seluruh rakyatnya dan berdiri di depan untuk memikul tanggung jawab dengan segala risikonya.
“Memang, manusia fana tak lepas dari aral melintang. Pun saya, dalam liku kehidupan, tak jarang dipertemukan dengan berbagai tantangan dan coba. Tetapi saya percaya, dalam setiap embusan angin, terdapat petunjuk bagi mereka yang mau mendengarkan," ujarnya.
Sultan HB X menerima kado ulang tahun dari Romo Mgr. Robertus Rubiyanto. Foto: Gereja Ganjuran
Perwakilan umat Katolik Keuskupan Agung Semarang, Romo Mgr. Robertus Rubiyatmoko mengucapkan selamat dan turut bersuka-cita atas Wiyosan Sri Sultan yang ke-80 tahun. Selain itu, pihaknya sangat mengapresiasi visi kepemimpinan Sri Sultan berupa tahta bagi kesejahteraan kehidupan sosial budaya rakyat.
ADVERTISEMENT
Ia menyatakan umat Katolik Kevikepan Yogyakarta Barat dan Timur maupun Keuskupan Agung Semarang juga turut berbahagia dapat ikut mangayubagyo 80 tahun Sri Sultan. Kesempatan ini dinilai sangat istimewa karena dapat merayakan hari jadi pimpinan yang mampu merangkul, melindungi, mengayomi dan menjaga warga DIY, termasuk umat Katolik.
“Kami merasakan betul perhatian dari Ngarsa Dalem sebagai pemimpin kepada rakyatnya yang tulus dan penuh cinta. Termasuk beliau sebagai Raja Keraton Yogyakarta yang selalu ada bersama rakyat dan untuk rakyat. Singkatnya Ngarsa Dalem selalu ada di hati umat Katolik,” ujarnya.
Ia juga menyerahkan kado ulang tahun kepada Sultan berupa replika tongkat Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko. Replika tongkat itu berbentuk relief burung pelikan yang sedang melukai dirinya sendiri untuk memberikan makan dan minum kepada anak-anaknya.
ADVERTISEMENT
“Itu menggambarkan pimpinan yang bersedia mengorbankan diri untuk menyelamatkan rakyatnya,” ujar Romo Mgr. Robertus Rubiyatmoko dengan bahasa Jawa.