Wakil Wali Kota Yogya: Saatnya Siapkan Kota Masuk Ekosistem Bisnis Nasional
·waktu baca 4 menit

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menyerukan pentingnya sinergi lintas sektor untuk mempersiapkan kota menyambut tantangan ekonomi baru. Hal ini ia sampaikan dalam sesi morning briefing yang berlangsung Sabtu pagi (14/6) di Ndalem Poenakawan, di hadapan pelaku usaha, pengurus KADIN, akademisi, dan pegiat komunitas.
Wawan baru saja kembali dari Jakarta usai menghadiri pertemuan seluruh Ketua KADIN Provinsi se-Indonesia, yang dihadiri langsung oleh Ketua Umum KADIN dan jajaran Wakil Ketua Umum. Dalam forum tersebut, kata Wawan, dibahas bahwa KADIN harus diperkuat sebagai induk organisasi sesuai amanat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1987.
“KADIN itu payung sah, tapi praktiknya masih terpecah-pecah. Sekarang ditekankan agar KADIN menjadi organisasi inklusif yang benar-benar jadi mitra ekonomi pemerintah,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa kebijakan ekonomi nasional, termasuk perdagangan global dan transisi energi, kini sangat inline dengan arah KADIN. Dalam konteks ini, Indonesia dinilai tampil cukup solid dalam forum-forum internasional, termasuk dalam isu tarif dengan Amerika dan perdagangan karbon.
Untuk diketahui Morning Briefing at Ndalem Poenakawan adalah forum sarapan pagi tiap 2 minggu sekali yang mengundang praktisi bisnis, pejabat pemerintah, asosiasi bisnis, dan pegiat organisasi masyarakat untuk membahas tantangan-tantangan ekonomi terkini.
Pada momen perdana Sabtu (14/6), Wakil Ketua KADIN DIY, Robby Kusumaharta bertindak sebagai pembuka dan moderator acara. Sementara, beberapa anggota Asmindo DIY, Ketua ASKONAS DIY Jugil Adiningrat, Ketua Sekber Keistimewaan DIY, Widihasto Wasana Putra, senior EO Babe Mavindo, Direktur JEC Endro Wardoyo, tokoh Perhotelan dan Olahraga Ekstrim DIY, Arif Effendi, dan beberapa tokoh masyarakat lainnya hadir dalam Mornig Briefing tersebut.
Yogya Bersiap Jadi Percontohan MBG dan SPPG
Wawan juga melaporkan bahwa KADIN telah menjalin kerja sama dengan pemerintah dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan membuka kantor perwakilan bersama di Jakarta. Di Yogyakarta, Satgas MBG akan segera dibentuk dan difokuskan untuk mendorong program SPPG (Sentra Produksi Pangan Generasi). Kota Yogya disebut berpeluang menjadi pilot project, dengan proyeksi pendapatan bersih minimal Rp100–130 juta per bulan.
“SPPG di Jogja itu baru terbentuk 2 dari target 300 di DIY. Ini peluang besar. Mekanisme keuangan juga sudah bagus, pembayaran di depan. Ini bisa jadi income center untuk pengusaha lokal,” kata Wawan.
Ia mendorong agar pelaku usaha di Jogja mengambil posisi aktif, tidak hanya menunggu atau bersikap reaktif. Ia juga menyebut akan mendampingi kunjungan Menteri Koperasi ke Jogja pada Minggu (15/6) sebagai momen strategis memperkuat posisi pelaku ekonomi lokal.
"Koperasi juga musti digalakkan di KADIN, kita sebagai regulator akan membantu KADIN," tandasnya.
Solusi Perumahan Rakyat: Vertikal, Pinggiran, dan Dekat Rel Kereta
Soal perumahan, Wawan menegaskan bahwa Yogyakarta harus berani menjawab tantangan keterbatasan lahan. Ia menyebutkan bahwa pemerintah pusat menargetkan 3 juta unit rumah rakyat, dan Jogja harus mendukung penuh dengan inovasi lokasi dan model hunian.
“Untuk kota seperti Yogya, lahan makin sempit. Solusinya: rumah vertikal di zona tidak produktif, atau di pinggir kota. Bahkan bisa dikembangkan klaster-klaster di sepanjang rel dari kota ke YIA,” ujarnya.
Salah satu investor lokal, disebut Wawan, telah menyatakan minat membangun perumahan rakyat di atas lahan minimal 35 hektar. Ia berharap pemkot dan KADIN bisa bersinergi untuk merealisasikannya.
Tanggapan atas Isu Hotel, Libur Nasional, dan Perubahan Gaya Wisata
Dalam diskusi tersebut, Wawan juga merespons sejumlah keluhan pelaku usaha. Ia menyambut baik pencabutan larangan penggunaan hotel sebagai lokasi gathering, yang sebelumnya sempat menyulitkan pelaku pariwisata di Jogja. Selain itu, ia mencatat bahwa libur nasional yang terlalu panjang turut menurunkan produktivitas sektor usaha non-pariwisata.
Ia juga menyoroti perubahan gaya berwisata setelah dibukanya akses tol: banyak wisatawan datang menggunakan mobil pribadi dan lebih memilih tinggal di rumah atau homestay daripada hotel berbintang.
“Kondisi ini bukan ancaman, tapi realita. Pemilik hotel harus menyikapi perubahan ini dengan strategi yang tepat. Dan Pemkot sedang menyiapkan bagaimana pemilik hotel bisa invest ke warga sepanjang bantaran Kali Code yang diproyeksikan untuk hunian homestay di pusat kota."
"Pembenahan kampung pinggir kali akan inline dengan pengembangan homestay berbasis kampung. Hotel jangan merasa terancam, tapi bisa kolaborasi, bisa invest dan meningkatkan hospitality di homestay," papar Wawan.
Sinergi Lemah antar Pelaku Usaha: Jogja Incorporated Perlu Dihidupkan Lagi
Menutup pernyataannya, Wawan menyoroti lemahnya sinergi antar pelaku usaha lokal. Ia mengusulkan agar konsep lama seperti Jogja Incorporated dihidupkan kembali, di mana pengusaha lokal bisa bergabung mengumpulkan modal dan bermitra dengan pemain nasional.
“Kalau kita bisa kumpulkan modal Rp100 miliar, misalnya, dari 20 orang dengan kontribusi kecil, maka kita bisa jadi mitra serius bagi pengusaha besar. Konsep ini bisa jalan kalau ada kebersamaan dan kepercayaan,” ungkapnya.
Wawan juga mendorong KADIN masuk sebagai offtaker dalam koperasi Merah Putih di kelurahan, untuk memastikan kebutuhan logistik masyarakat terpenuhi dengan kekuatan lokal.
“Kalau ini dikerjakan serius, KADIN bisa bantu pasok gas melon, kebutuhan pokok, bahkan kendaraan operasional seperti becak listrik yang sekarang sedang kita rintis,” tutupnya.
