YIA Jadi Embarkasi Haji Pertama dengan Asrama Hotel, PHRI: Terobosan Luar Biasa
·waktu baca 3 menit

Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia melalui Keputusan Menteri Nomor 11 Tahun 2025 secara resmi menetapkan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) sebagai bandara embarkasi dan debarkasi haji. Berbeda dari embarkasi haji lain, YIA menjadi embarkasi haji pertama di Indonesia yang menggunakan konsep asrama berbasis hotel.
Ketua DPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, menyambut baik kebijakan ini dan menyebutnya sebagai terobosan yang luar biasa.
”Ini terobosan yang sangat luar biasa, dan kita menyambut baik,” ujar Deddy saat dihubungi Pandangan Jogja, Kamis (20/11).
Sejak 2023, PHRI menurutnya telah menyiapkan 60 hotel bintang maupun nonbintang untuk menjadi asrama jemaah haji sebelum pemberangkatan. Dari 60 hotel itu mengerucut menjadi empat hotel bintang yang berada di sekitar YIA.
”Lalu mengerucut lagi jadi satu hotel bintang, yaitu Ibis. Karena mereka berani tidak menerima tamu lain selain jemaah haji, informasi terakhir seperti itu,” ujarnya.
Dijadikannya YIA sebagai embarkasi dan debarkasi haji tahun 2026 mendatang menurutnya akan berdampak pada meningkatnya okupansi hotel-hotel yang ada di sekitar YIA. Pasalnya, selama ini okupansi hotel-hotel di Kulon Progo masih menjadi yang paling rendah di antara kabupaten/kota lain di DIY, yakni hanya di kisaran 20-30 persen saja.
”Kita berharap bukan hanya jemaahnya yang stay di sana, tapi bisa juga keluarga yang mengantar bisa stay di hotel-hotel yang lain di Kulon Progo,” ujarnya.
Untuk itu, ia juga berharap Pemkab Kulon Progo bisa lebih meningkatkan destinasi-destinasi wisata yang ada di wilayahnya sehingga bisa menjadi daya tarik keluarga jemaah haji untuk tinggal lebih lama di Kulon Progo.
Dikutip dari laman resmi Kemenag Kanwil DIY, selain jemaah haji dari kabupaten/kota di DIY, nantinya YIA juga akan menjadi embarkasi haji untuk jemaah dari enam kabupaten/kota eks Karesidenan Kedu, Jawa Tengah, di antaranya Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Purworejo, Kebumen, Temanggung, dan Wonosobo.
Adapun kuota embarkasi dan debarkasi haji di YIA pada 2026 direncanakan sebanyak 9.216 jemaah yang dibagi menjadi 26 kloter.
“Sekali lagi, kami berharap ini menjadi momentum untuk meningkatkan okupansi anggota-anggota kami di Kulon Progo,” ujar Deddy Pranowo.
Hemat Anggaran Ratusan Miliaran
Pranata Hubungan Masyarakat Ahli Madya Pemda DIY, Ditya Nanaryo Aji, mengatakan bahwa asrama berbasis hotel ini telah menghemat anggaran secara signifikan. Pasalnya, pemerintah tak perlu lagi membangun asrama haji yang bisa menelan anggaran hingga ratusan miliar.
Tak sekadar biaya pembangunan, dengan asrama berbasis hotel ini juga tidak perlu ada alokasi anggaran untuk membiayai pemeliharaan gedung asrama. Dalam catatan Kemenag RI, biaya yang dikeluarkan untuk revitalisasi asrama haji di Indonesia sejak 2014 sampai 2025 mencapai Rp3,66 triliun.
Dengan begitu, anggaran yang mestinya dipakai untuk membangun dan melakukan pemeliharaan asrama haji dapat digunakan untuk kebutuhan prioritas lain.
”Jadi tidak hanya industri perhotelan yang diuntungkan, masyarakat atau jemaah juga diuntungkan. Kita bisa menghemat anggaran yang besar dan bisa digunakan untuk kebutuhan lain yang lebih bermanfaat,” ujar Ditya Nanaryo Aji.
