Konten dari Pengguna

Dunia yang Retak: Indonesia di Persimpangan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pangiutan Lubis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar: Ilustrasi Politik Bebas Aktif Indonesia (Sumber: Koleksi Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar: Ilustrasi Politik Bebas Aktif Indonesia (Sumber: Koleksi Penulis)

Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Ia tidak runtuh sekaligus, tetapi retak perlahan di Gaza, di Eropa Timur, di jalur energi, bahkan di ruang digital yang tak kasat mata. Retakan itu bukan kebetulan, melainkan konsekuensi dari sistem global yang kehilangan jangkar.

Tiga laporan terbaru dari TRT World memperlihatkan satu benang merah: dunia sedang bergerak menuju ketidakpastian yang terstruktur. Konflik bukan lagi anomali, melainkan norma baru.

Ketika Konflik Menjadi Normal Baru

Apa yang terjadi di Gaza bukan sekadar tragedi kemanusiaan. Ia telah menjadi simbol kegagalan tatanan global dalam menegakkan keadilan. Dunia terbelah bukan hanya antara Barat dan Timur, tetapi juga antara kepentingan dan nilai.

Di saat yang sama, dinamika di Eurasia menunjukkan sesuatu yang lebih subtil namun berbahaya: pergeseran aliansi. Negara-negara kecil mulai mencari pelindung baru. Loyalitas menjadi cair. Dan dalam dunia yang cair, kepercayaan adalah komoditas paling langka.

Inilah wajah baru geopolitik: tidak lagi hitam-putih, tetapi abu-abu yang penuh kecurigaan.

Energi, Sanksi, dan Senjata Non-Militer

Jika dulu perang ditentukan oleh tank dan peluru, hari ini ia ditentukan oleh gas, chip semikonduktor, dan akses pasar. Energi menjadi alat tekanan. Sanksi ekonomi menjadi senjata. Rantai pasok menjadi medan tempur.

Yang menarik, perang modern tidak selalu terlihat seperti perang. Ia hadir dalam bentuk inflasi, gangguan logistik, dan krisis energi.

Dan negara yang tidak siap akan kalah tanpa pernah menyadari bahwa mereka sedang berperang.

Indonesia: Bebas Aktif di Dunia yang Tidak Netral

Di tengah pusaran ini, Indonesia berdiri dengan doktrin klasiknya: bebas aktif. Sebuah prinsip yang elegan di atas kertas, tetapi semakin kompleks dalam praktik.

Pertanyaannya sederhana: bisakah Indonesia tetap netral di dunia yang menuntut keberpihakan?

Sebagai kekuatan menengah (middle power), Indonesia memiliki dua pilihan: menjadi penonton yang aman, atau pemain yang relevan. Masalahnya, menjadi penonton di era ini sama dengan menerima dampak tanpa punya kendali.

Kenaikan harga energi, gangguan perdagangan, hingga tekanan geopolitik di Laut Cina Selatan bukan lagi potensi melainkan realitas yang sudah di depan mata.

Saatnya Realisme Strategis

Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan retorika diplomasi. Dunia hari ini menghormati kapasitas, bukan sekadar posisi.

Gambar: Ilustrasi Dunia Terpolarisasi (Sumber: Koleksi Penulis)

Ada tiga langkah yang tidak bisa ditunda:

Pertama, ketahanan nasional harus menjadi prioritas utama.

Energi, pangan, dan teknologi tidak boleh bergantung pada satu sumber. Diversifikasi bukan pilihan, tetapi keharusan.

Kedua, diplomasi harus lebih tajam, bukan sekadar aktif.

Indonesia perlu berani mengambil peran sebagai mediator, terutama dalam isu Palestina bukan hanya karena solidaritas, tetapi karena relevansi geopolitik.

Ketiga, kekuatan pertahanan harus kredibel.

Bukan untuk berperang, tetapi untuk memastikan bahwa Indonesia tidak bisa ditekan.

Menjadi Penyeimbang, Bukan Terombang-ambing

Dalam dunia multipolar yang rapuh, negara seperti Indonesia justru memiliki peluang. Bukan sebagai kekuatan dominan, tetapi sebagai penyeimbang.

Namun menjadi penyeimbang membutuhkan satu hal: kejelasan arah.

Tanpa itu, Indonesia hanya akan terombang-ambing di antara kepentingan besar menjadi pasar, bukan pemain; menjadi objek, bukan subjek.

Penutup: Dunia Tidak Menunggu

Sejarah tidak pernah menunggu negara yang ragu-ragu. Ia bergerak bersama mereka yang siap.

Dunia sedang berubah lebih cepat, lebih keras, dan lebih tidak pasti. Dan dalam dunia seperti ini, netralitas tanpa strategi hanyalah ilusi.

Indonesia masih punya waktu. Tetapi tidak banyak.

Pertanyaannya bukan lagi apakah kita siap, melainkan: seberapa lama kita bisa menunda untuk benar-benar bersiap?