Menilik Kopi Segara Brebes, Kopi Robusta dengan Rasa Pahit yang Kuat

BREBES - Daerah pegunungan di Brebes bagian selatan memang dikenal dengan penghasil kopi robusta. Di Desa Sindangwangi, Kecamatan Bantarkawung mulai dikembangkan kopi robusta yang berasal dari hutan Pegunungan Segara.
Kopi robusta di Sindangwangi sudah ada sejak dua tahun lalu. Saat itu, sejumlah kelompok masyarakat di Desa Sindangwangi melihat potensi banyaknya tanaman kopi liar di hutan Pegunungan Segara. Mereka lalu memproses hasil kopi itu menjadi bubuk kopi robusta.
Menurut Abdul Aziz, Ketua Kelompok Tani Kopi Desa Sindangwangi Bantarkawung, kopi robusta Segara memiliki ciri khas rasa pahit yang kuat. Sehingga, tekstur rasa kopi yang dihasilkan dapat memberikan sensasi berbeda bagi para penikmat kopi robusta khususnya.
"Rasa pahit kopi sangat kuat di lidah. Ini benar-benar berbeda. Selain, aroma yang kuat, kadar kafein dua kali lebih banyak dibandingkan arabika. Dan juga bentuk bijinya bulat, lebih kecil namun padat dengan tekstur sedikit kasar," ucap Abdul Azis, Sabtu, (16/11).
Ia menyebut, selain memanfaatkan tanaman kopi liar, para petani juga melakukan penangkaran kopi robusta untuk dikembangkan.
"Setiap pekan kami selalu memanen bijih kopi. Satu tahun bisa sampai 139 ton bijih kopi yang dihasilkan. Ini potensi besar, karena kopi yang kita hasilkan 50 persen alami tanpa ada pupuk atau zat kimia. Untuk penangkaran pun, kita hanya menanam, untuk kemudian dibiarkan tumbuh sendiri secara alami," ungkapnya.
Aziz menyebut, jika tanaman kopi robusta menyebar di hutan-hutan punggungan Segara dan sekitarnya. Untuk menjaga cita rasa biji kopi yang dihasilkan, ia memproses sendiri, dari pemetikan biji kopi hingga rosting.
"Karena kekuatan cita rasa juga berpengaruh bagaimana rosting biji kopi diproses. Ya memang masih ada kendala peralatan, seperti kami belum memiliki mesin penggilingan menjadi bubuk kopi," kata dia.
Buah kopi mulai dipanen pada saat pohon berusia sekitar 2,5 – 3 tahun. Buah yang matang bisa dilihat dari perubahan warna kulit dari hijau tua menjadi kuning lalu menjadi berwarna merah. Kopi yang sudah berwarna merah menandakan kopi sudah masak penuh dan menjadi kehitam-hitaman.
"Bijih kopi setelah dipanen, kemudian sortasi atau pemilihan biji kopi, pengupasan dan fermentasi biji, pencucian lalu pengeringan biji kopi," imbuhnya.
Kopi Segara dijual dalam bentuk bubuk yang sudah dikemas berukuran 1 ons tiap bungkus setelah melewati proses penyangraian dan penumbukan. Harganya cukup terjangkau mulai Rp 12 ribu per ons. Pemasaranya pun masih dilakukan dari mulut ke mulut teman dan kerabat.
"Hasil kopi Segara ini sudah kita kirim ke beberapa daerah di Jawa Tengah, Jakarta hingga Aceh. Selain bisa dinikmati menyeduh kopi panas dengan cara di rebus. Juga bisa ditambahkan sedikit madu murni untuk menambah kenikmatanya," beber dia.
Dijadikan Kampung Kopi
Sementara itu, Tokoh Masyarakat Bantarkawung, Sudono, mengatakan, pihaknya akan mendorong potensi Desa Sindangwangi untuk terus dikembangkan terutama produksi Kopi Segara. Agar lebih terarah, para kelompok tani kopi diupayakan bernaung pada Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) hingga Badan Usaha Milik Desa (BUMdes).
Sedangkan tantangan yang harus diatasi pengembangan kopi adalah meningkatkan mutu kopi. Selain itu menguatkan kelembagaan petani agar bisa memanfaatkan pasar kopi yang luas. Dia pun mengusulkan agar Sindangwangi dijadikan sebagai kampung kopi.
"Agar berkembang, juga perlu dilakukan pendampingan inovasi teknologi. Sehingga kopi yang dihasilkan memiliki nilai jual tinggi dan standar ekspor. Langkah pertama, desa ini dijadikan kampung kopi," ucap pria yang juga Anggota DPRD Brebes itu.
Komoditas perkebunan, kata dia, merupakan investasi jangka panjang sehingga ketersediaan benih unggul sangat dibutuhkan. Sudono mengungkapkan, Peningkatan daya saing kopi harus dilakukan dengan pendekatan sistem dan pola kemitraan.
"Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam peningkatan daya saing mulai dari penyediaan infrastruktur dan alat pengolah, penyediaan modal, pemasaran, networking, dan rekayasa sosial melalui pembinaan dan pengembangan kelompok tani."
