Konten dari Pengguna

Paradoks Peradaban: Represi Insting dan Sublimasi

Riana

Riana

Mahasiswi aktif di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber gambar: gemini
zoom-in-whitePerbesar
sumber gambar: gemini

Dialektika Kebudayaan dan Pengekangan Insting

Dalam karya sosiologis-filsafatnya, Civilization and Its Discontents (Das Unbehagen in der Kultur, 1930), Sigmund Freud mengajukan argumen bahwa peradaban manusia (Kultur/civilization) dibangun di atas fondasi pengekangan dan represi dorongan instingtif. Peradaban (Kultur) dalam perspektif psikoanalisis Sigmund Freud dijelaskan sebagai keseluruhan pencapaian dan regulasi yang membedakan kehidupan manusia dari leluhur hewani, dengan dua tujuan utama yaitu melindungi manusia dari keganasan alam serta mengatur hubungan antarmanusia dalam tatanan sosial. Namun, terdapat antagonisme fundamental antara dorongan instingtif individu dan tuntutan kebudayaan. Kebudayaan menuntut setiap individu untuk mengorbankan pemuasan langsung atas naluri alamiahnya demi kebaikan bersama. Freud mengemukakan istilah samfundsevne untuk menggambarkan kapasitas bermasyarakat ini, yaitu kemampuan individu membatasi kepuasan dorongan pribadinya demi kepentingan kolektif. Pertukaran ini menimbulkan frustrasi dan penderitaan psikis (unbehag) yang tak terelakkan dalam kehidupan modern.

Terdapat penderitaan dan antagonisme struktural yang tidak terelakkan antara individu dan tatanan sosial:

  1. Perlindungan vs Kekstriman: Peradaban memberikan jaminan keamanan, kepastian hukum, dan fasilitas kehidupan, tetapi meminta imbalan berupa pengorbanan kebebasan instingtif individu.

  2. Frustrasi Pulsioner: Peradaban membatasi pemuasan langsung dari dorongan seksual (Eros) dan dorongan agresi (Thanatos), sehingga memicu perasaan tidak bahagia (discontent/ubehag) dan memicu timbulnya neurosis massal.

Manusia menyerahkan sebagian peluang mencapai kebahagiaan mutlak demi memperoleh kepastian hukum dan rasa aman. Freud memetakan tiga sumber penderitaan utama manusia: kekuasaan alam yang tak terkuasai, kerentanan fisik tubuh, serta ketidaksempurnaan regulasi sosial. Di antara ketiganya, pengekangan tatanan sosial menjadi pemicu frustrasi paling mendalam karena tatanan tersebut dirancang oleh manusia sendiri namun justru membatasi kebebasan naluriahnya.

Sublimasi: Konversi Energi Insting Menjadi Produk Kebudayaan

Untuk mencegah kehancuran tatanan masyarakat akibat sifat agresif manusia yang inheren (homo homini lupus), peradaban mengandalkan mekanisme sublimasi (sublimation). Sublimasi merupakan proses metapsikologis di mana energi dorongan naluriah, khususnya dorongan seksual (libido) dan dorongan destruktif, dialihkan dari sasaran aslinya menuju tujuan-tujuan baru yang tidak lagi bersifat seksual atau agresif, melainkan memiliki nilai sosial dan estetika yang tinggi.

Melalui sublimasi, energi psiko-fisik yang terlarang dikonversi menjadi pencapaian budaya tertinggi manusia, seperti seni, ilmu pengetahuan, tatanan hukum, filsafat, serta institusi sosial. Meskipun sublimasi memungkinkan manusia berkembang secara intelektual dan kultural, kapasitas sublimasi setiap individu memiliki batas. Sisa energi instingtif yang gagal disublimasikan dan terus direpresi oleh aturan hukum akan mengendap di alam bawah sadar tetap tertahan di dalam kejiwaan, lalu mewujudkan timbulnya neurosis massal dan rasa bersalah kolektif (collective guilt) . Pencapaian itu semua sebagai hasil dari transformasi energi instingtif yang gagal mendapatkan pemuasan langsung.

Anthropologi Mitos: Primal Horde dan Transisi Menuju Tatanan Sosial

Dalam karya antropologisnya Totem and Taboo (1912–1913), Freud melacak genealogi moralitas dan tatanan hukum masyarakat melalui rekonstruksi mitos Kawanan Primal (Primal Horde):

  1. Dominasi Otokratis Bapak Primal: Pada era purbakala, manusia hidup dalam kelompok yang dikuasai secara otokratis oleh seorang bapak primal yang kuat. Bapak ini memonopoli seluruh wanita dalam kelompok dan mengusir atau mengebiri para anak lelaki yang menjadi saingannya.

  2. Persekongkolan dan Parisida: Para saudara lelaki yang terbuang bersatu, menyerang, membunuh, dan memakan tubuh bapak primal tersebut secara bersama-sama dalam sebuah ritual untuk menyerap kekuatan sang bapak.

  3. Penyesalan dan Posthumous Obedience: Pasca-pembunuhan, timbul rasa penyesalan, kasih sayang, dan rasa bersalah yang mendalam karena para anak lelaki juga mengagumi sosok bapak mereka. Sosok bapak yang telah mati justru menjadi jauh lebih berkuasa secara psikis daripada saat ia masih hidup (posthumous obedience).

  4. Instalasi Kontrak Sosial Pertama: Untuk menebus dosa kolektif dan mencegah pertumpahan darah antar-saudara, kelompok tersebut membentuk perjanjian bersama (primal contract):

  • Menginstalasi binatang Totem sebagai representasi simbolis dari bapak yang terbunuh dan melarang pembunuhannya.

  • Memformulasikan tabu inses dan aturan eksogami (larangan menikahi wanita dari kelompok totem sendiri) sebagai dasar pertama tatanan hukum dan kekerabatan.

Rasa Bersalah Kolektif sebagai Harga Peradaban

Mitos pembunuhan bapak primal dalam Totem and Taboo mencerminkan manifestasi Oedipus Complex pada skala sejarah perkembangan spesies manusia (phylogeny). Komplisitas dalam kejahatan bersama ini menjadi fondasi bagi kemunculan agama, moralitas, dan tatanan hukum modern.

Internalisasi atas figur bapak yang ditakuti sekaligus dicintai ini menjadi cikal bakal terbentuknya Superego Kolektif. Masyarakat mempertahankan ketertibannya bukan hanya melalui hukuman fisik eksternal, melainkan melalui internalisasi larangan bapak ke dalam struktur kejiwaan masing-masing individu sebagai suara hati dan rasa bersalah (guilt). Freud menyimpulkan bahwa rasa bersalah kolektif (sense of guilt) merupakan masalah paling krusial dalam perkembangan peradaban. Rasa bersalah ini merupakan harga inevitabel yang harus dibayar manusia demi keberlanjutan peradaban modern. Semakin maju suatu masyarakat dan semakin ketat aturan moral yang diterapkannya, semakin besar represi insting yang dituntut dari anggotanya, dan semakin berat pula rasa bersalah serta penderitaan batin yang harus ditanggung oleh manusia modern.