Diplomasi Megawati di Dili: Bahas RI-Timor Leste, Terima Penghargaan Tertinggi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Presiden Timor Leste Ramos Horta dan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao di DIli, Jumat (10/7). Foto: Dok. PDIP
zoom-in-whitePerbesar
Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Presiden Timor Leste Ramos Horta dan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao di DIli, Jumat (10/7). Foto: Dok. PDIP

Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menjalani rangkaian agenda diplomasi di Dili, Timor-Leste, Jumat (10/7). Dalam kunjungan tersebut, Megawati bertemu Perdana Menteri Timor-Leste Kay Rala Xanana Gusmão.

Saat pertemuan, Megawati tak hanya mengenang perjalanan rekonsiliasi kedua negara, tetapi juga mengusulkan sejumlah kerja sama strategis untuk masa depan Indonesia dan Timor-Leste.

Dalam kunjungan itu, Megawati juga menerima penghargaan tertinggi Timor-Leste, Grande Colar da Ordem de Timor-Leste. Momentum tersebut disertai apresiasi dari para pemimpin Timor-Leste yang menilai Megawati dan PDI Perjuangan memiliki kontribusi penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia dan hubungan kedua negara.

Lalu, Megawati dijamu dengan makan siang kerja di Palm Springs, Dili, yang dibuka oleh Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Timor-Leste, Francisco Kalbuadi Lay. Kalbuadi menyatakan, makanan yang disajikan merupakan masakan rumahan.

Kalbuadi Lay terkesan dengan gestur yang ditampilkan Megawati.

"Banyak yang terkesan, Ibu Mega memegang catatan yang ringkas, namun poin-poin yang disampaikan sangat luas dan mendalam saat di podium. Kami berharap anak muda di Timor-Leste dapat belajar banyak dari ketokohan dua pemimpin besar, Ma Xanana dan Ibu Mega," ujar Kalbuadi Lay, lewat keterangan tertulis yang diterima pada Jumat (10/7).

Lalu, saat Xanana memberi sambutan, ia mengenang kehadiran Megawati pada upacara pemulihan kemerdekaan Timor-Leste, 20 Mei 2002. Menurutnya, kehadiran Megawati menjadi simbol rekonsiliasi antara Indonesia dan Timor-Leste di hadapan dunia.

"Di hadapan ribuan rakyat Timor dan para pemimpin dunia seperti Kofi Annan dan Bill Clinton, kehadiran Anda (Megawati) kala itu mengubah momen kemerdekaan menjadi momen rekonsiliasi yang luar biasa," kenang Xanana.

Ia menegaskan, kehadiran Megawati saat itu menunjukkan bahwa Indonesia memilih jalan persahabatan dengan Timor-Leste.

"Anda menunjukkan kepada dunia bahwa mantan pihak yang berseberangan dapat memilih jalan perdamaian dan martabat. Hari ini, Timor-Leste tidak memiliki sahabat yang lebih dekat daripada Indonesia," tambahnya.

Xanana juga memberikan penghormatan kepada Bung Karno yang dinilainya berhasil menggalang solidaritas bangsa-bangsa Asia-Afrika melawan kolonialisme.

Sementara itu, Megawati membuka pidatonya dengan menceritakan kunjungannya ke Taman Makam Pahlawan Seroja. Suasana kemudian mencair ketika ia berseloroh mengenai pengalaman dirinya dan Xanana yang sama-sama pernah dipenjara.

Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri di Dili, Jumat (10/7). Foto: Dok. PDIP

Karena kedekatan personal, keduanya bahkan sepakat saling menyapa dengan panggilan "Maun Xanana" dan "Mega", tanpa menggunakan sapaan formal. Kepada anak-anak muda Timor-Leste yang hadir, Megawati meminta agar dirinya dipanggil "Mama".

"Saya sering menggoda Pak Xanana. Kalau beliau menyebut penjara sebagai 'universitas tertutup', saya bilang bapak masih kalah dengan bapak saya (Bung Karno). Pak Xanana di LP Cipinang selama 7 tahun, bapak saya total menjalani 22 tahun penjara dan dibuang 3 kali," seloroh Megawati yang disambut tawa hadirin.

Di balik candaannya, Megawati menegaskan bahwa seorang pemimpin harus memiliki keyakinan dan keteguhan dalam memperjuangkan cita-cita.

"Tanpa keyakinan, manusia bisa menjadi pengkhianat di tengah jalan hanya demi mencari keuntungan materi. Kita harus berusaha menjadikan jalan hidup kita bermakna," tegas Ketua Umum PDI Perjuangan itu.

Megawati juga mendorong perempuan agar berani mengambil peran di ruang-ruang strategis demokrasi. Selain itu, ia mengusulkan tiga bidang kerja sama antara Indonesia dan Timor-Leste.

Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao di DIli, Jumat (10/7) Foto: Dok. PDIP

Pertama, kerja sama maritim dan perubahan iklim melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Megawati menugaskan pakar kelautan Prof. Dr. Rokhmin Dahuri menyusun langkah bersama menghadapi dampak perubahan iklim.

Kedua, kajian nasionalisme komparatif melalui Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Menurut Megawati, pemikiran Bung Karno dan Xanana memiliki benang merah dalam perjuangan melawan kolonialisme, sekaligus dapat menjadi sarana menumbuhkan kembali minat membaca buku fisik di kalangan generasi muda.

Ketiga, kerja sama antarlembaga kepartaian. Megawati mengatakan PDI Perjuangan siap berbagi pengalaman mengenai pelembagaan partai dan kaderisasi dengan partai-partai di Timor-Leste, khususnya CNRT.

Menutup pidatonya, Megawati mengajak Timor-Leste optimistis menghadapi masa depan, termasuk saat menjadi Ketua ASEAN pada 2029.

"Masa depan itu kita yang menentukan, bukan orang lain," pungkas Megawati, sebelum menutup pidatonya dengan pekik, "Merdeka! Merdeka! Merdeka!" seru Megawati.

Terima Penghargaan Tertinggi Timor Leste

Dalam kesempatan yang sama, Megawati menerima penghargaan Grande Colar da Ordem de Timor-Leste. Penghargaan itu diikuti apresiasi dari sejumlah pemimpin Timor-Leste terhadap perjalanan politik Megawati dan PDI Perjuangan.

Menanggapi penghargaan itu, Megawati menegaskan bahwa penghargaan tersebut menjadi amanat untuk terus menjaga hubungan kedua negara.

Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao di DIli, Jumat (10/7) Foto: Dok. PDIP

"Penghargaan Grand Collar ini bukan sekadar medali. Ini adalah sebuah mata rantai yang saling mengunci. Setiap mata rantai menopang mata rantai berikutnya. Bagi saya, di situlah maknanya: persahabatan Indonesia dan Timor-Leste adalah rantai yang harus terus memanjang—dari satu generasi ke generasi berikutnya, tanpa pernah terputus," tegas Megawati.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta menyinggung lagi peristiwa Kudatuli pada 27 Juli 1996 sebagai titik penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia.

"Peristiwa serangan 27 Juli 1996 (Kudatuli) terhadap markas PDI di Jakarta adalah momen penentu. Kekerasan hari itu mengubah Ibu Megawati menjadi simbol sipil paling menonjol dari perlawanan demokratis, yang darinya gerakan Reformasi kemudian lahir," ungkap Ramos-Horta.

Kalbuadi Lay juga mengenang perjuangan PDI Perjuangan saat Indonesia masih mencakup Timor Timur.

"Untuk PDI Perjuangan, saya sendiri mengalami dan tahu karena ketika itu masih bersama Indonesia. Saya tahu betapa giatnya Ibu dan sabarnya seorang ibu untuk menantikan bahwa suatu saat orang dan rakyat akan sadar bahwa kebenaran adalah segalanya," kenang Chico, sapaan akrab Kalbuadi Lay.

Ia menilai perjuangan tersebut membuahkan hasil.

"Akhirnya Bu Mega membuktikan hari ini bahwa akhirnya PDI Perjuangan bisa menjadi partai yang terbesar sejak waktu itu sampai detik ini."

Penasihat Senior Presiden Timor-Leste Nelson Santos menilai PDI Perjuangan menjadi salah satu contoh penting dalam mengawal transisi demokrasi.

"PDI Perjuangan sebagai sebuah partai memiliki sejarah yang panjang. Sebuah partai yang telah melihat dan mengawal masa transisi demokrasi di Indonesia," jelas Nelson Santos.

Menurut Nelson, pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bagi Timor-Leste.

Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri di Dili, Jumat (10/7). Foto: Dok. PDIP

"Bagi kami di Timor-Leste, tentunya banyak hal yang bisa kami pelajari dari PDI Perjuangan. Dan kami, tentu saja, akan memanfaatkan sejarah atau pengalaman PDI Perjuangan demi kemajuan demokrasi kami juga," pungkas Nelson Santos.

Ia optimistis hubungan Indonesia dan Timor-Leste akan terus berkembang.

"Akan makin terus berjalan di atas satu jalur utama: jalan persahabatan, rekonsiliasi, serta komitmen merawat perdamaian internasional," kata Nelson.

Ziarah ke TMP Seroja, Dili

Megawati juga berziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Seroja di Dili. Didampingi Puti Guntur Soekarno dan Romy Soekarno, Megawati memimpin hening cipta, meletakkan karangan bunga, menaburkan bunga di makam para pahlawan, serta memanjatkan doa.

TMP Seroja merupakan tempat peristirahatan sekitar 600 prajurit ABRI (kini TNI) dan pejuang integrasi Timor Timur yang gugur pada konflik 1975-1999, sekaligus menjadi pemakaman terbesar milik Indonesia di luar negeri.

Secara terpisah, Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto juga memimpin jajaran partainya berziarah ke Taman Makam Pahlawan Metinaro. Kunjungan Megawati ke Dili memiliki makna historis karena 24 tahun lalu, tepatnya pada 20 Mei 2002, ia menghadiri langsung upacara restorasi kemerdekaan Timor-Leste di Padang Tasitolu sebagai Presiden Republik Indonesia.