Qodari soal Dialog di UGM Dibubarkan Mahasiswa: Anomali
·waktu baca 2 menit

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, menjelaskan kronologi pembubaran kegiatan dialog antara pemerintah dan mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa.
Menurutnya, insiden tersebut merupakan sebuah anomali dalam kehidupan demokrasi kampus. Diskusi sempat berlangsung lancar selama sekitar 45 menit sebelum akhirnya dibubarkan. Dalam forum itu, hadir pula mahasiswa lain yang tidak menolak acara dan ikut berpartisipasi dalam diskusi.
"Sebetulnya sebelum pembubaran itu saya mendapat informasi bahwa kegiatan sudah berjalan dengan baik dan lancar selama kurang lebih 45 menit. Tapi kemudian tiba-tiba muncul sekelompok orang, mahasiswa yang membubarkan acara itu, termasuk juga dengan kata-kata yang mungkin tidak pantas. Nah ini sebetulnya anomali," ungkap Qodari dalam keterangannya, Kamis (18/6).
Ia menjelaskan, kegiatan yang dihadiri oleh Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko bukan agenda baru.
"Acara di UGM sendiri juga sudah disiapkan jauh-jauh hari, sudah mendapatkan izin, dan karena itu bisa diselenggarakan," katanya.
Qodari menegaskan, masyarakat termasuk lingkungan kampus, terdiri dari beragam kelompok dengan aspirasi dan pandangan yang berbeda.
"Kita harus akui bahwa dalam masyarakat itu ada berbagai macam kelompok aspirasi dan kelompok pemikiran. Supaya pemerintahan bisa berjalan dan masyarakat bisa berjalan, harus ada mekanisme untuk mempertemukan berbagai macam perbedaan pendapat," ucapnya.
Menurut Qodari, dalam sistem demokrasi, perbedaan pandangan seharusnya dijawab melalui dialog dan forum diskusi, bukan dengan membubarkan kegiatan pihak lain.
"Nah kalau misalnya tidak setuju dengan satu forum, idealnya bikin forum yang lain. Jadi forum itu dilawan dengan forum, bukan dengan dibubarkan."
--Kepala Bakom RI Muhammad Qodari.
