Pesona Belitung Saja Tidak Cukup: Apa yang Membuat Wisatawan Ingin Kembali?

Saya adalah Mahasiswa S1Digital Marketing Universitas Pamulang yang mencintai keindahan alam dan juga seorang wirausaha dibidang kuliner
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Arieanto Miswandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa yang tidak jatuh hati pada Belitung? Batu granit raksasa di Tanjung Tinggi, air laut yang jernih di Tanjung Kelayang, sampai Danau Kaolin dengan warna airnya yang khas. Setiap foto dari pulau ini nyaris selalu cantik.
Tapi ada satu pertanyaan yang jarang dibahas: setelah kunjungan pertama, apakah wisatawan mau datang lagi?
Kunjungan yang naik turun
Pariwisata Indonesia memang sedang pulih. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kunjungan wisatawan mancanegara pada Januari sampai Juli 2025 mencapai 8,53 juta, naik sekitar 10 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun di tingkat daerah, arus wisatawan tidak selalu stabil. Data BPS Bangka Belitung yang dikutip ANTARA menunjukkan jumlah tamu hotel berbintang di Belitung pada Februari 2025 turun 24,17 persen dibanding bulan sebelumnya, menjadi 9.420 orang. Angka bulanan memang dipengaruhi musim, tetapi ini menunjukkan bahwa kunjungan ke pulau ini naik turun sepanjang tahun.
Karena itu, destinasi tidak bisa hanya mengandalkan kunjungan pertama. Wisatawan yang mau kembali memberi pemasukan yang lebih stabil bagi warung, penginapan, pemandu, dan pengelola wisata di sekitarnya.
Ekowisata: wisata yang menjaga alamnya
Belitung punya modal besar, yaitu alam. Di sinilah ekowisata berperan. Menurut The International Ecotourism Society (TIES), ekowisata adalah perjalanan bertanggung jawab ke area alami yang menjaga lingkungan, menopang kesejahteraan masyarakat setempat, dan mengandung unsur edukasi.
Artinya, wisatawan tidak hanya datang untuk berfoto. Mereka belajar tentang alam dan budaya setempat, menjaga kebersihan, dan ikut memberi manfaat ekonomi bagi warga. Wisatawan yang mendapat pengalaman bermakna seperti ini cenderung membawa kesan yang lebih dalam.
Pelayanan: hal kecil yang menentukan kesan
Alam yang indah bisa kehilangan daya tariknya karena hal sederhana: toilet yang kurang bersih, petunjuk arah yang membingungkan, atau layanan yang lambat dan kurang ramah.
Dalam ilmu pemasaran jasa, kualitas pelayanan dinilai dari beberapa hal: fasilitas fisik, keandalan layanan, kecepatan tanggap, rasa aman, dan perhatian kepada pengunjung. Kelima hal ini membentuk kesan wisatawan, sering kali lebih kuat daripada pemandangannya sendiri.
Kepuasan: jembatan menuju kunjungan ulang
Lalu apa yang membuat orang ingin kembali? Jawabannya ada pada kepuasan. Wisatawan puas ketika pengalaman yang mereka rasakan sama atau lebih baik dari harapan sebelum berangkat.
Wisatawan yang puas lebih mungkin merekomendasikan destinasi kepada keluarga dan teman, serta merencanakan kunjungan berikutnya. Rekomendasi dari mulut ke mulut sering kali lebih dipercaya daripada iklan.
Alurnya kurang lebih seperti ini: ekowisata yang baik dan pelayanan yang baik membuat wisatawan puas, dan wisatawan yang puas ingin kembali.
Apa yang bisa dilakukan?
Beberapa langkah sederhana yang bisa mulai dikerjakan:
Jaga kebersihan dan kelestarian destinasi. Pengelolaan sampah yang baik adalah syarat dasar ekowisata.
Tambahkan unsur edukasi. Papan informasi atau pemandu yang bercerita tentang batuan granit, mangrove, dan budaya Belitung membuat kunjungan lebih berkesan.
Libatkan masyarakat lokal. Warga yang merasakan manfaat akan ikut menjaga destinasinya.
Perbaiki layanan dasar. Toilet, parkir, penunjuk arah, dan keramahan petugas sering kali menjadi penentu kesan akhir.
Dengarkan wisatawan. Ulasan dan keluhan adalah data gratis untuk memperbaiki layanan.
Penutup
Belitung sudah punya keindahan yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Tantangannya adalah memastikan pengalaman di lapangan sama baiknya dengan foto-foto yang beredar. Kalau alamnya terjaga dan pelayanannya baik, wisatawan tidak hanya datang sekali, tetapi akan kembali dan mengajak orang lain.
Sumber data: BPS (melalui Infobanknews, 2025) dan BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (melalui ANTARA Babel, 2025); definisi ekowisata dari The International Ecotourism Society.
