Konten dari Pengguna

Sejujurnya Ku Tak Bisa, Hidup Tanpa Ada Kamu Aku Gila

Waode Nurmuhaemin

Waode Nurmuhaemin

Doktor Manajemen Pendidikan , Penulis Artikel dan Buku Pendidikan

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Waode Nurmuhaemin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi. Foto: Shtterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi. Foto: Shtterstock

Tadi di antara keterburuan-buruan mudik, saya mengambil rute yang lain dari hari biasa sepulang kantor untuk menghindari macet. Besok ASN sudah memasuki masa libur lebaran. Tidak berapa lama di simpang tiga mendekati kampus UHO ada pemandangan tidak biasa.

Di pinggir jalan, di dekat sebuah pohon ada seorang lelaki yang duduk berbicara sendiri sambil menangis. Saya sangat heran, karena cuaca sangat-sangat panas walaupun jam sudah di angka pukul 3 sore hari.

Melihat expresi heranku, sopir grab kemudian bercerita. Bahwa di pohon itu, tunangan si lelaki tadi kecelakaan hingga meninggal di sana. Dan sejak itu pikiran sang lelaki terganggu berat. Dia saban hari ke pohon itu. Duduk berlama-lama sampai malam, bahkan pagi.

Saya bisa merasakan kepedihan yang mendalam dari sorot matanya. Siapa, sih, yang bisa menerima kehilangan? Waktu ayah saya meninggal tiga bulan lalu, saya cuti hampir sebulan ditambahi surat keterangan sakit beberapa minggu dari dokter.

Menoleh ke manapun yang terlihat hanya mereka orang-orang yang pergi dan terbiasa membersamai hidup kita. Saya hampir terpuruk. Saya juga waktu itu mau berhenti saja dari kerja. Sebab apa yang bisa kita lakukan?

Tapi setelah merenung lama dan lama, saya kemudian berpikir waras kembali, hidup harus berlanjut. Membiarkan pikiran kehilangan akan mengalahkan kewarasan kita. Sebab sejatinya apa sih yang benar-benar kita miliki? Diri kita sendiri pun tidak.

Ilustrasi patah hati. Foto: Abil Achmad Akbar/kumparan

Ikhlas, melepaskan. Sebab begitulan dunia, tidak ada yang benar-benar kita genggam. Semua dalam genggaman Allah. Lelaki tadi mengalami keguncangan batin. Ada yang hilang dari hatinya, ada hilang dari rutinitasnya. pikirannya tidak mau melepaskan dan mengikhlaskan mereka yang telah pergi.

Dia masih berharap akan berjumpa di dunia pada suatu hari. Berharap akan bertemu di tempat di mana dia meratap setiap hari.Dia tidak bisa menerima takdir. Di sinilah pentingnya nilai-nilai keimanan, percaya kepada takdir. Terpukul, terguncang wajar.

Akan lama sampai kita pun tidak bisa lagi mengingat apa-apa. Tapi bukan begitu caranya merayakan kehilangan. Kita yang mencintai mereka bisa bersedekah atas nama mereka yang telah pergi, mendoakan dalam setiap sujud kita. Sebab amalan-amalan itu akan mengalir kepada mereka di sana.

Percayalah kita harus memiliki hati yang kuat dalam hidup. Sebab jika tidak kita akan menjadi tidak waras dengan banyak guncangan, sehingga memang sangat penting untuk menambatkan hati hanya kepada yang maha hidup. Sebab makhluk yang bernama manusia terlalu lemah untuk diagungkan.

Manusia yang penuh dengan kelemahan tidak boleh dijadikan pegangan. Sebab hati manusia sangat gampang terbolak-balik, sehingga ada doa yang sangat baik: Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii 'ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).

Jika hati kita hanya bergantung kepada Allah, maka kepergian siapapun dari hidup kita adalah takdir. Dan, tidak mau menerima adalah sungguh siksaan yang berat untuk kita.

Ilustrasi pria menyendiri saat patah hati. Foto: Shutter Stock

Sebab sejatinya kehilangan terbesar adalah kehilangan iman dalam diri kita. Di akhirat, kita akan menjumpai mereka siapapun itu yang sudah meninggalkan kita. Menangislah ketika iman kita hilang, ketika hati kita sudah tidak bisa lagi membedakan yang benar dan yang salah.

Ketika kita bisa berpasrah dan menerima, maka kita sudah mengalahkan setan yang selalu membujuk, mendatangkan kesedihan dan terus-menerus membisikkan rasa putus asa di hati kita. Sangat berduka untuk waktu yang lama. Waktu yang harusnya bisa digunakan untuk kemaslahatan hidup kita dipakai hal-hal yang sia-sia.

Bagi siapa saja yang ditinggalkan keluarga, kerabat, teman, itu adalah takdir, terima, apa dan siapa kita di hadapan Allah? Jikalaupun tidak diterima, apa bisa mengembalikan mereka? Mulailah mencari tujuan hidup hakiki.

Untuk apa kita hidup? Sekadar hidup? Apa tidak akan dimintai pertanggung jawaban? lepaskan semua pesona-pesona makhluk dari dalam dirimu. Gantungkanlah hatimu hanya kepada Allah. Tuhan pemilik alam yang tidak akan pernah mati.

Maka lihatlah, caramu bersedih akan sangat sesuai dengan syariat. Bersedih secukupnya dan berdoa sebanyaknya.

Percayalah selagi kita masih bisa salat untuk orang muslim, maka kita tidak akan kehilangan arah. Walaupun kita sangat berduka, tapi kita akan mendapat hidayah pada suatu hari. Walaupun di hari-hari itu mungkin kita marah, mengumpat, bahkan sudah seperti orang aneh, tapi selagi kita salat dan berdoa agar diberi hati yang baru yang tidak tergantung kepada makhluk, Allah akan mengabulkan.

Ilustrasi putus cinta. Foto: Abil Achmad Akbar/kumparan

So, guys, yang tengah berada di puncak-puncak keterpurukan dan kehilangan, jangan lari ke manusia untuk mendapatkan motivasi dan validasi. Mungkin percuma. Mereka bahkan bisa jadi memiliki banyak masalah yang sama dengan kita.

Chat dan japri-japrimu arahkan ke Allah dalam bentuk doa. Manusia, makhluk lemah, jangankan hatimu ,hatinya sendiri tidak bisa dia kuasai. Kembalikan masalahmu kepada pemilik alam, Allah, tuhan yang maha esa. Allah sempurna, Pengasih dan Penyanyang.

Untuk tetap hidup dengan baik dan waras, ingatlah selalu Allah. Jangan ingat makhluk, yang kena hujan saja sudah flu. Salah bantal saja manyun seharian, tidak bisa jadi andalan. Dalam hidup hanya Allah yang bisa kita andalkan.