Konten dari Pengguna

Pendidikan Sebagai Ruang Pembebasan: Gagasan Tokoh Sosial Melawan Komersialisasi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maulidia Lathifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan saat ini seolah berada di persimpangan jalan yang dilematis. Di satu sisi, ia diagung-agungkan sebagai elevator sosial (social elevator) paling ampuh untuk mengangkat derajat hidup seseorang keluar dari lingkaran kemiskinan. Namun, di sisi lain, wajah pendidikan kian hari kian menjelma menjadi sebuah industri megah berlabel "harga mahal".

Biaya kuliah yang melambung tinggi, fasilitas sekolah yang diskriminatif, hingga komersialisasi kurikulum yang berorientasi semata-mata pada pasar kerja membuat institusi pendidikan kehilangan esensi sucinya. Sekolah dan kampus kini tampak lebih sibuk bertindak sebagai korporasi pencetak profit ketimbang merawat akal budi.

Di tengah kepungan komersialisasi ini, suara-suara kritis para tokoh sosial dan pemikir pendidikan masa lalu kembali menemukan urgensinya. Lantas, bagaimana kita bisa merebut kembali makna pendidikan sebagai ruang pembebasan yang sejati?

Ilustrasi kegiatan pembelajaran didalam kelas. Sumber: shutterstock.com

Dari Ruang Belajar Menjadi "Pasar Bebas"

Gejala komersialisasi pendidikan bukanlah fenomena kemarin sore. Fenomena ini tumbuh subur seiring masuknya paham neoliberalisme ke dalam sendi-sendi kebijakan publik. Pendidikan diperlakukan sebagai komoditas ekonomi yang tunduk sepenuhnya pada hukum pasar: siapa yang punya uang, dialah yang berhak mendapatkan pendidikan berkualitas tinggi.

Akibatnya, anak-anak dari kelompok marjinal dan kelas pekerja semakin tersisih. Mereka terjebak dalam lingkaran setan ketimpangan struktural. Ijazah, yang semestinya menjadi simbol pencapaian intelektual dan emansipasi, berubah fungsi menjadi sekadar lembar sertifikat komersial demi melanggengkan status quo ekonomi kapitalis. Jika kondisi ini dibiarkan, pendidikan bukan lagi alat untuk membebaskan manusia, melainkan instrumen baru untuk melanggengkan penindasan modern.

Paulo Freire dan Kritik atas "Pendidikan Komersial"

Jika kita mencari kompas moral untuk keluar dari labirin komersialisasi ini, pemikiran Paulo Freire tokoh pendidikan kritis asal Brasil adalah rujukan paling tajam. Dalam karya monumentalnya, Pedagogy of the Oppressed, Freire dengan tegas menentang segala bentuk pendidikan yang mereduksi manusia menjadi sekadar objek atau komoditas.

Freire memperkenalkan konsep banking concept of education (sistem gaya bank), di mana murid dipandang sebagai wadah kosong yang harus diisi, diukur, dan pada akhirnya "dijual" keterampilannya ke pasar industri. Freire menolak model ini dan menawarkan pendidikan yang membebaskan (liberating education).

Bagi Freire, pendidikan yang sejati harus berbasis pada penyadaran kritis (conscientization). Artinya, ruang-ruang belajar di sekolah maupun kampus harus menjadi tempat di mana peserta didik diajak untuk membaca realitas sosial, membongkar ketidakadilan, dan berani bersuara terhadap sistem yang menindas termasuk sistem komersialisasi yang merampas hak dasar rakyat atas akses ilmu pengetahuan.

Menghidupkan Kembali Etika Publik dan Keadilan Sosial

Selain Freire, para sosiolog pendidikan kritis juga mengingatkan bahwa pengetahuan bukanlah barang dagangan yang bisa diperjualbelikan secara bebas tanpa memedulikan dimensi moral kemanusiaan. Pendidikan adalah public good (barang publik) yang mutlak harus diakses oleh siapa saja tanpa pandang bulu.

Ketika pendidikan dikomersialisasikan secara ugal-ugalan, yang terjadi adalah erosi solidaritas sosial. Manusia dididik untuk menjadi makhluk ekonomi yang individualistik, kompetitif secara tidak sehat, dan kehilangan empati terhadap penderitaan sesama. Untuk melawan arus komersialisasi ini, ada beberapa langkah resistensi intelektual yang perlu diambil

1. Mengembalikan Peran Negara: Mendorong kebijakan publik agar anggaran pendidikan benar-benar berpihak pada subsidi yang masif, bukan malah meliberalisasi biaya institusi pendidikan negeri maupun swasta.

2. ⁠Membangun Kurikulum yang Kritis: Mengintegrasikan isu-isu ketimpangan sosial, hak atas pendidikan, dan kritik terhadap kapitalisme global ke dalam ruang-ruang kelas agar siswa tidak menjadi "robot industri" yang naif.

3. ⁠Gerakan Solidaritas Kolektif: Memperkuat aliansi antara akademisi, mahasiswa, guru, dan masyarakat sipil dalam mengadvokasi kebijakan pendidikan yang inklusif, murah, dan berkeadilan.

Menolak Menyerah pada Keadaan

Komersialisasi pendidikan memang menggurita dan tampak sulit dihentikan. Namun, menyerah pada keadaan berarti membiarkan masa depan peradaban dirusak oleh kalkulasi untung-rugi kapitalis.

Mengutip semangat para tokoh pembebasan, tugas pendidikan bukanlah menyesuaikan manusia dengan tuntutan pasar yang kejam, melainkan memanusiakan manusia agar mampu mengubah dunianya menjadi lebih adil dan manusiawi. Sudah saatnya kita bersuara pendidikan bukan barang jualan, melainkan hak asasi dan ruang pembebasan mutlak bagi setiap anak bangsa.

Bagaimana pandangan Anda melihat biaya pendidikan yang kian melangit hari ini? Apakah institusi pendidikan kita masih berpihak kepada rakyat kecil, atau sudah sepenuhnya tunduk pada hukum pasar?