Pengertian Historiografi Tradisional, Ciri-ciri, dan Contohnya

Artikel yang menjelaskan pengertian dari sebuah istilah.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pengertian dan Istilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengertian historiografi tradisional adalah penulisan sejarah yang telah ada sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha hingga kerajaan Islam di Nusantara.
Dalam KBBI, historiografi dianggap bagian dari karya linguistik. Yuk, simak penjelasan selengkapnya mengenai historiografi di bawah ini.
Apa Itu Historiografi Tradisional?
Dikutip dari buku Historiografi Islam (2018) oleh Fajriudin, pengertian historiografi tradisional adalah karya tulis sejarah yang dibuat oleh para pujangga dari suatu kerajaan, baik itu kerajaan bercorak Hindu atau Buddha, hingga kerajaan kesultanan bercorak Islam tempo dulu yang pernah berdiri di Indonesia.
Zaman dahulu kala, sebelum Indonesia merdeka, di negara ini banyak berdiri kerajaan-kerajaan, seperti kerajaan Padjajaran, Singosari, Sriwijaya, Majapahit, Kutai, Mataram, dan banyak lagi.
Di setiap kerajaan tersebut selalu ada orang-orang yang ditugaskan oleh raja untuk menuliskan sejarah kerajaan. Mereka itu disebut sebagai pujangga atau sejarawan keraton.
Nah, hasil karya tulis para pujangga atau sejarawan keraton itu disebut sebagai historiografi tradisional.
Di Indonesia sendiri, historiografi diawali sejak masa aksara dengan karya pertamanya yakni prasasti oleh Mpu Prapanca yang menulis kitab Negarakertagama.
Baca Juga: Pengertian Teks Biografi Lengkap dengan Struktur Teksnya
Ciri-ciri Historiografi Tradisional
Mengutip buku Historiografi di Indonesia : Dari Magis Religius hingga Strukturis (2009) karya Agus Mulyana dan Darmiati, ciri-ciri historiografi tradisional adalah sebagai berikut:
Religio-magis, artinya unsur magis atau supranatural sangat kental dalam narasi historiografi tradisional.
Istana-sentris, artinya subyek, obyek, dan ruang lingkup historiografi tradisional hanya seputar kehidupan istana kerajaan.
Historiografi tradisional digunakan sebagai alat legitimasi (pengesahan) kekuasaan raja.
Bersifat feodalistik-aristokratis, artinya historiografi tradisional hanya membahas tentang sejarah dari kaum bangsawan dan keturunan raja.
Region-sentris atau kedaerahan, artinya historiografi tradisional banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat di daerah setempat.
Contoh Historiografi Tradisional
Karya historiografi tradisional pada umumnya dapat berupa prasasti dan naskah-naskah kuno. Berikut beberapa contoh historiografi tradisional yang cukup terkenal pada perkembangan sejarah di Indonesia.
1. Kitab Negarakertagama
Kitab ini adalah karangan Mpu Prapanca pada tahun 1365. Isi kitab Negarakertagama adalah kisah tentang kerajaan Majapahit.
2. Hikayat Banjar
Hikayat Banjar adalah teks Melayu Banjar yang paling populer di Kalimantan sebab teks ini dipakai sebagai historiografi penulisan sejarah Banjar dan Kotawaringin.
Popularitas teks tersebut dibuktikan dengan banyaknya eksemplar naskah Hikayat Banjar yang tersebar baik di Indonesia maupun di luar negeri.
3. Hikayat Aceh
Hikayat Aceh itu menceritakan kehidupan Sultan Iskandar Muda sejak dia usia kanak-kanak hingga menjadi sultan di Kerajaan Aceh Darussalam.
Bukan hanya tentang sultan, Hikayat Aceh juga menceritakan kondisi sosial, budaya, politik, agama, dan tentang Kerajaan Aceh Darussalam.
Naskah Hikayat Aceh ditetapkan sebagai Memory of The World atau Warisan Dunia oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO)
4. Kitab Pararaton
Kitab ini berisi tentang sejarah kerajaan Singasari dan Majapahit yang ditulis dalam bahasa Jawa Kawi. Kitab ini juga disebut sebagai kitab pustaka raja atau artinya kitab raja-raja.
5. Prasasti Yupa
Prasasti ini berisikan kisah peninggalan raja Mulawarman dari Kerajaan Kutai. Isinya mengisahkan tentang raja yang memberikan banyak sapi kepada para Brahmana.
(DEL)
