70 Jokes Bapak-Bapak Receh yang Bikin Ngakak Sekaligus Geleng Kepala

Menyediakan berbagai informasi seputar Generasi Z.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Pengetahuan Umum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jokes bapak-bapak receh punya daya tarik tersendiri. Karena meski garing, jokes tersebut tetap bisa bikin ngakak. Humornya pun sering kali terdengar sepele, namun bisa menjadi hiburan tersendiri bagi banyak orang.
Fenomena jokes bapak-bapak ini seakan tak lekang oleh waktu. Di setiap tongkrongan, warung kopi, sampai obrolan di WhatsApp keluarga sekali pun, selalu muncul jokes yang membuat suasana jadi lebih santai.
Lucunya lagi, semakin tidak lucu jokes tersebut, justru semakin menghibur. Artikel berikut telah merangkum sejumlah jokes bapak-bapak receh yang bisa dibagikan sebagai bahan candaan ke teman-teman dan kerabat.
Jokes Bapak-Bapak Receh
Berikut beberapa humor ala bapak-bapak yang bisa kamu baca atau bagikan sebagai bahan hiburan.
Kenapa motor nggak bisa jadi presiden? Karena dia cuma bisa ngegas, nggak bisa mikir.
Tahu nggak, kenapa dompet aku kurus? Karena dia diet, ngikutin isi hati.
Kipas angin kalau ditinggal, setia nggak? Setia, dia tetap muter di tempat.
Kok kamu suka es batu? Soalnya dia dingin tapi tetap solid.
Kenapa kalender nggak pernah stres? Karena dia selalu punya tanggal pasti.
Kamu tahu gak, kenapa buku matematika sedih? Karena dia penuh masalah.
Kenapa ban motor selalu berputar? Karena kalau diem, dia bukan ban, tapi kursi.
Kenapa spion selalu jujur? Karena dia selalu nunjukin apa yang ada di belakang.
Aku tuh kayak WiFi gratis, semua orang suka, tapi nggak semua bisa konek.
Kalau kamu lihat aku senyum sendiri, itu bukan gila, itu inget utang.
Tahu nggak, kenapa bantal selalu jadi teman setia? Karena dia nggak pernah ninggalin kepala.
Apa bedanya kamu sama jam weker? Kalau kamu bikin deg-degan, jam weker bikin jantung copot!
Apa bedanya kamu sama pulpen? Pulpen bisa habis tintanya, kalau kamu nggak habis-habisnya di pikiran.
Kenapa nasi goreng lebih romantis dari pacar? Karena dia datang pas lapar, bukan pas butuh doang.
Kamu tuh kayak charger rusak, bikin emosi, tapi tetap dicariin.
Kalau hidupmu kosong, coba isi pulsa.
Kenapa lampu merah selalu bikin macet? Karena dia tahu cara berhentiin semua orang.
Aku tuh kayak sinyal HP, kadang muncul, kadang ngilang, tapi selalu dibutuhin.
Kamu tahu nggak kenapa aku suka ngepel? Biar hati aku juga bersih kayak lantai.
Kopi hitam itu pahit, tapi setia. Kayak aku ke kamu.
Kalau kamu lelah, rehatlah, jangan cari aku, aku juga capek.
Kalau hidupmu kayak sinetron, semoga iklannya nggak sebanyak masalahmu.
Aku tuh kayak tisu, selalu ada saat kamu nangis.
Kamu tahu bedanya aku dan kamu? Aku mikirin kamu, kamu mikirin siapa?
Kamu tuh kayak nasi padang, makin pedes makin bikin nagih.
Kalau hidup ini game, kamu cheat code-nya.
Cintaku ke kamu tuh kayak sinyal 4G—kuat, cepat, tapi kadang nggak ada.
Kalau kamu ngilang, aku bakal jadi detektif.
Kalau kamu senyum, bumi bergetar, atau itu cuma gempa?
Kamu itu kayak charger 2 ampere, cepat ngisi hati aku.
Hidupku sepi kayak stasiun jam 3 pagi.
Aku tuh kayak keyboard, selalu ditekan tapi tetap setia.
Kamu tuh kayak data seluler, hilang saat dibutuhkan.
Kalau kamu jadi peta, aku nggak bakal tersesat.
Kamu kayak AC, bikin adem walau tagihan naik.
Kamu kayak gigi, sakitnya baru terasa saat hilang.
Hati-hati kalau jatuh cinta, karena bangunnya susah.
Kamu tahu kenapa aku nggak bisa diet? Karena cinta kamu manis banget.
Kalau kamu hujan, aku payungnya. Walau basah, tetap jagain.
Kamu tuh kayak snack di minimarket, nggak penting tapi bikin pengen.
Cinta itu kayak motor tua, butuh sabar biar nyala.
Kamu tuh kayak kucing, kadang nyebelin, tapi bikin kangen.
Kalau kamu bunga, aku lebahnya. Tapi jangan disengat ya.
Aku tuh kayak playlist galau, setia nemenin kamu.
Kamu tuh kayak emoji, bikin obrolan hidup.
Kalau kamu jadi kuota, aku rela boros.
Kamu tuh kayak wifi tetangga, susah dijangkau tapi tetap dicoba terus.
Kalau kamu jadi hujan, aku jadi jemuran... pasrah.
Kalau kamu nasi, aku lauknya. Nggak lengkap kalau nggak bareng.
Kalau kamu tisu, aku ingusnya. Nempel terus walau nggak enak.
Kalau kamu jadi angin, aku relain diterpa asal tetap dekat.
Kamu tuh kayak penghapus, hilangin jejak, tapi ninggalin bekas.
Kalau kamu jadi es krim, aku rela meleleh bareng.
Kamu kayak lagu jadul, bikin nostalgia dan susah move on.
Kamu tuh kayak pulsa darurat, datang pas krisis, hilang pas ditagih.
Kalau kamu jadi chat, aku centang dua tanpa dibaca.
Aku tuh kayak status galau, nggak penting, tapi pengen dilihat.
Kamu tuh kayak notifikasi mantan... muncul pas udah bahagia.
Kalau kamu mie instan, aku telur rebusnya. Pelengkap setia.
Kalau kamu jadi lagu, aku repeat terus.
Kalau aku jadi sandal, kamu kaki kiriku. Kalau hilang, pincang.
Kalau kamu jadi pensil warna, aku kertas putihnya. Biar hidupku lebih berwarna.
Kalau kamu jadi jam dinding, aku jarumnya. Nempel terus walau muter-muter.
Kamu tuh kayak tupperware emak, dicari terus kalau hilang.
Kalau kamu jadi TV rusak, aku remote-nya. Nggak nyambung, tapi tetap bareng.
Kamu tuh kayak nasi hangat, bikin nyaman dan nagih.
Kalau kamu jadi wifi lemot, aku sabarnya.
Aku tuh kayak nota warung, nggak penting, tapi dicari pas butuh.
Kamu tuh kayak jam weker rusak, bikin kaget tapi nggak tepat waktu.
Kalau kamu jadi hujan deras, aku jadi bocoran atapnya, ikut-ikutan rembes.
Baca Juga: Studi: Jokes Bapak-bapak Bisa Bikin Hubungan Ayah dan Anak Makin Akrab
(DEL)
