Konten dari Pengguna

Menyapa Inner Child, Si Kecil yang "Terjebak"

PERS HIMASTA ITS

PERS HIMASTA ITS

Badan Semi Otonom Himpunan Mahasiswa Statistika ITS yang mewadahi minat mahasiswa dalam bergerak pada bidang pers dan jurnalistik. Menerbitkan artikel dan informasi kepada lingkup internal dan eksternal himpunan mahasiswa.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari PERS HIMASTA ITS tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

cr: jcomp - www.freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
cr: jcomp - www.freepik.com

Semua orang pasti bertambah tua. Namun faktanya, tidak semua orang dapat menjadi dewasa. Kedewasaan yang sejati adalah ketika sudah menyadari dan menyembuhkan ‘anak kecil’ dalam diri yang menyimpan rasa sakit, trauma, serta amarah. Sayangnya, tak sedikit orang yang justru menyangkal dan mengabaikan luka inner child dalam diri mereka, sehingga terbawa hingga ke kehidupan dewasa. Pengalaman menyedihkan seperti kehilangan teman semasa kecil, kekerasan psikis dan fisik, serta pengabaian dan perpisahan keluarga dapat mempengaruhi kita sepanjang hidup. Trauma, amarah, masa lalu yang menyakitkan dapat tinggal dalam diri kita untuk waktu yang lama dan ketika ada trigger tertentu, luka tersebut dapat mencuat ke permukaan dan kita kembali merasakan pengalaman tersebut.

Inner child adalah sisi kepribadian seseorang yang terbentuk dari pengalaman masa kecil dan masih bereaksi dan terasa seperti anak kecil atau sisi kekanak-kanakan dalam diri seseorang. Melansir Psychology Today, inner child adalah akumulasi peristiwa-peristiwa baik maupun buruk yang dialami anak dan membentuk pribadi mereka hingga dewasa. Inner child dapat digambarkan sebagai bagian dari seseorang yang tidak ikut tumbuh dewasa dan tetap menjadi anak-anak. Artinya, bagian ini terus menetap dan bersembunyi di alam bawah sadar dalam diri kita. Bagian ini menyimpan dengan baik setiap ingatan atau emosi yang pernah kita alami saat masih kecil, baik yang menyenangkan ataupun sebaliknya. Segala pengalaman tersebut bisa memiliki efek destruktif pada masa kini yang akan mempengaruhi kita dalam mengekspresikan diri, kepribadian, cara bersikap, tumbuh kembang dalam hidup kita. Selain itu, inner child yang terluka juga memengaruhi bagaimana kita sebagai orang dewasa dalam mengambil keputusan dan menjalani hubungan dengan orang lain. Lalu, apa yang bisa dilakukan ketika inner child terluka? Menyembuhkannya. Perlu mengetahui, menyadari, menerima, dan reconnect dengan inner child dalam diri.

Berikut hal-hal yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan inner child:

1. Menyadari dari keberadaan inner child

Menengok kembali masa lalu yang menyakitkan bukanlah hal yang mudah. Tetapi jika tetap mengubur terus menerus akan membuat inner child terus mendominasi diri Anda serta melahirkan perasaan-perasaan negatif.

2. Jalin komunikasi dengan inner child

Sisihkan waktu untuk berdialog dengan sosok anak dalam diri. Bayangkan kita ketika kecil dulu dan ia berada didepan kita. Saat sudah tergambar dan terasa kehadirannya, mulailah menyapanya. Tanyakan apakah ia baik-baik saja. Katakan bahwa kita siap mendengarkan apa yang ia ingin sampaikan dan akan terus berada disampingnya. Beri ucapan terimakasih dan maaf untuk segala yang pernah dan sudah terjadi. Katakan bahwa kau menyayanginya dan akan selalu menerimanya. Silahkan berdialog hingga hati terasa lega.

3. Journaling

Menuliskan pengalaman-pengalaman yang dirasakan merupakan salah satu cara untuk memulihkan inner child kita. Dengan menulis, emosi dapat tersalurkan dan membantu kita untuk kembali mengingat, merasakan, dan berdamai dengan hal tersebut. Sehingga, emosi negatif tidak mengendap dan dapat tercurahkan dengan baik.

4. Reparenting

Reparenting merupakan sebuah proses mempelajari kembali nilai-nilai dalam diri dengan menciptakan pola kepercayaan, kebiasaan dan kehidupan yang baru, serta

membangun kembali kepribadian kita dari sudut pandang kita sendiri sebagai orang yang bijaksana dan penuh cinta kasih. Bagaimana untuk melakukan reparenting?

- Menerapkan self-love/self-care.

- Belajar untuk mengatakan tidak saat kamu tidak ingin melakukannya.

- Sering mengucapkan afirmasi positif kepada diri sendiri.

- Memberikan validasi atas apapun yang dirasa dan kenyataan yang terjadi lalu diamati bukan memberikan penghakiman atas diri kita sendiri.

- Memahami bahwa penyesalan yang muncul merupakan sebuah sinyal dari dalam diri jika selama ini kita telah mengabaikan dan menelantarkan diri sendiri.

- Menghargai, menerima, dan menyayangi inner child yang membutuhkan rasa aman dan penerimaan. Menyembuhkan inner child yang terluka adalah sebuah proses yang panjang dan sebuah perjalanan yang sangat personal. Setiap orang memiliki inner child-nya masing-masing dengan kondisi yang berbeda-beda. Mengabaikan hubungan diri dengan inner child kita justru akan menjadi rantai derita turun temurun yang tidak berujung hingga lahir generasi berikutnya.

Cukupkan rantai derita ini pada diri kita. Putuslah rasa sakit yang turun-temurun ini hanya pada diri kita dan tidak meneruskannya ke generasi selanjutnya. Bagaimana caranya? Sadari, akui, terima, dan cintailah inner child dalam diri kita bagaimanapun keadaannya agar kita memiliki kehidupan yang lebih bahagia. (sna)