Kisah Pesugihan: Mencari Batu Penglaris hingga Masuk Alam Jin

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Kalau sudah kaya, aku mau beli 20 angkot buat usaha. Aku ingin kaya, Kim."
"Kalau aku, sudah pasti ku jadikan modal kawin dengan si Marni. Wanita itu sulit didekati kecuali dengan uang."
Begitulah gurauan dua sejoli, Tarkim dan Musdi, semalam sebelum keduanya berangkat ke Gunung Kawung di daerah Jawa Barat. Mereka berniat melakukan ekspedisi untuk mencari batu mulia yang dipercaya dapat mendatangkan rejeki.
Tarkim dan Musdi merupakan dua pemuda yang sudah lama menganggur. Sebenarnya mereka bukan tak melakukan usaha apapun. Semenjak lulus SMA, keduanya telah berusaha keras melamar ke berbagai pabrik.
Beberapa pabrik menerima mereka, beberapa yang lain tak memberi kabar sama sekali. Sayang, sekalinya diterima di sebuah perusahaan, selalu ada calo pekerja yang menagih duit jutaan rupiah agar diterima masuk. Kalau tidak bisa memberi duit, mereka diancam tak lolos.
Pernah suatu kali Tarkim sengaja tak membayar. Katanya para calo itu hanya mengakal-akali para calon pekerja dengan ancaman tak diterima agar diberi uang. Ternyata benar, meski tinggal satu tahap lagi ia resmi bekerja, akibat tak membayar calo, namanya dicoret dari daftar calon pekerja.
"Calo-calo sialan. Kita ini kerja buat cari duit. Eh, ini malah dimintai duit. Tidak masuk akal," kata Tarkim marah kala namanya dicoret.
Berbagai pekerjaan kecil-kecilan pun telah mereka lakukan. Mulai dari menjadi kuli angkut di pasar, tukang bangunan, hingga menjadi juru parkir ilegal. Sayangnya, duit penghasilan dari pekerjaan kasar begitu tak begitu berdampak besar.
"Aku sudah lelah, Mus. Bagaimana kalau kita lakukan saja nasihat Ki Nawa. Kita cari batu mulia yang kerap ia sebut-sebut itu," kata Tarkim suatu malam saat mereka ngobrol.
Kedua kawan sejoli itu sempat berguru ke seorang dukun. Di hari-hari kosong mereka, tak ada kegiatan, tak ada uang, untuk mengisi kekosongan, keduanya masuk ke padepokan Ki Nawa dan belajar menenangkan diri dengan berbagai ritual.
Suatu kali, Ki Nawa menawarkan sebuah batu mulia yang dapat mendatangkan rejeki. Katanya, siapapun yang mendapatkan batu mulia itu, ia akan diberikan kemudahan dalam mencari kerja dan selalu diberi uang berkali-kali lipat.
"Untuk mendapatkannya, kalian harus mencarinya sendiri di Gunung Kawung. Saat sudah hampir sampai puncak, carilah hutan yang dipenuhi bunga liar, di sana lah kalian akan menemukan batu tersebut," kata Ki Nawa suatu hari bercerita kepada dua sejoli itu.
***
"Kita dirikan tenda dulu di sini, Mus. Aku lelah. Setelah tenda berdiri, kau bantu aku mencari kayu bakar agar tempat tidur kita agak hangat."
"Baiklah, aku juga sudah lelah, Kim. Ayo dirikan tendanya."
Tarkim dan Musdi sudah hampir enam jam berjalan. Gunung itu sebenarnya tak begitu tinggi. Hanya saja, proses pencarian batu mulia yang begitu lama membuat Tarkim dan Musdi kelelahan.
Setelah mereka mendirikan tenda, Tarkim mengajak Musdi pergi mencari kayu bakar. Mereka berkeliling tak jauh dari tenda yang mereka dirikan. Asalkan ada beberapa kayu yang bisa dibuat api unggun agar mereka tak kedinginan saat malam.
Ketika keduanya sudah mulai mengangkuti kayu yang berserakan di tanah, tiba-tiba ada seorang kakek tua berjanggut putih menyapa mereka. Sontak mereka kaget, tetapi tak lama. Kakek tersebut ternyata ramah.
"Nak, sedang apa kalian di sini? Untung saja ada kalian. Kakek sudah tidak kuat lagi berjalan. Kakek boleh meminta bantuan kalian untuk membantu kakek mengangkut kayu bakar yang sudah kakek cari ini?" kata si kakek tersebut sembari menunjukkan kayu hasil buruannya.
T
Karena tak tega, Tarkim dan Musdi pun membantu kakek tersebut. Mereka membantu sang kakek menggotong kayu bakar hingga rumah sang kakek. Anehnya, si kakek mengaku telah tinggal di Gunung Kawung sejak lama.
"Memangnya kenapa harus tinggal di sini, Kek?" kata Musdi memberanikan diri untuk bertanya.
"Kakek tak suka dengan keramaian. Cucu-cucu kakek mengusir kakek dari kota. Sudahlah, lebih baik kakek di sini."
Sampailah Tarkim dan Musdi di rumah sang kakek. Rumah tersebut benar-benar berdiri di tengah hutan. Dindingnya terbuat dari bilik bambu. Di depan rumah tersebut, ada kursi panjang yang mungkin saja enak untuk dijadikan tempat berteduh. Belum lagi sang kakek menawarkan minum, Musdi teringat kalau tenda dan barang-barangnya masih ditinggal di tengah hutan.
"Kek, mohon maaf sekali. Barang-barang kita tertinggal di sana. Kami harus buru-buru kembali agar dapat memastikan barang-barang kami aman," kata Musdi.
Mungkin baru saja 10 menit mereka duduk sebentar di rumah kakek tersebut, kini sudah harus kembali. Sang kakek pun mengatakan tidak apa-apa. Bahkan, ia menawarkan rumah gubuknya sebagai penginapan sementara.
***
Dua sejoli itu telah lelah bercampur kecewa. Sudah hampir satu minggu mereka melakukan ekspedisi, tetapi tak membuahkan hasil. Akhirnya, keduanya memutuskan untuk pulang. Turunlah mereka dari Gunung Kawung.
Betapa terkejutnya mereka ketika sampai di pos penjagaan Gunung Kawung, terdapat pamflet yang berisi foto mereka berdua dan punya keterangan:
"Dicari, Musdi Ahmad dan Tarkiman, hilang di Gunung Kawung sejak enam bulan yang lalu. Bagi yang melihat keduanya, harap melapor ke nomor berikut."
Cerita ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah kebetulan.
