kumparan
18 Mar 2019 20:53 WIB

Menelisik Lanun: Sisi Lain dari Belitung

Pantai Tanjung Kelayang di Belitung. Foto: Flickr/Rachmad Kurniadi
Mendengar nama Pulau Belitung, pikiran saya kembali berkelana pada film Laskar Pelangi yang saya tonton pada tahun 2008. Sudah lebih dari 10 tahun yang lalu, tetapi masih teringat jelas oleh saya keindahan Pulau Belitung dengan pantai dan padang rumputnya.
ADVERTISEMENT
Pulau Belitung, sebagaimana daerah lainnya di Indonesia, dikenal kaya dengan sumber daya alam. Belitung kaya akan hasil tambang seperti timah dan kaolin. Selain hasil pertambangan, Belitung juga kaya akan sumber daya alam seperti karet, lada dan kelapa sawit.
Pada pertengahan Maret 2019 lalu, saya berkesempatan untuk melakukan kunjungan ke pulau Belitung. Banyak pengetahuan-pengetahuan baru yang saya dapatkan pada kunjungan tersebut. Salah satu tempat wisata yang saya kunjungi saat itu antara lain areal pemakaman Raja Balok pertama, Ki Agus Gedeh Ja’kub (Depati Cakraningrat), dan Syekh Abdul Jabar Sjamsudin. Disini saya baru mengetahui bahwa terdapat kerajaan Islam di Belitung.
Pada saat menuju makam tersebut, saya melihat sesuatu yang menarik, yakni petunjuk arah yang menunjuk ke Tana Tegalik. Namun karena grup tidak mengarah ke sana, saya juga hanya melewati petunjuk arah tersebut.
ADVERTISEMENT
Sekembalinya ke hotel, saya masih memiliki rasa penasaran terhadap apa itu Tana Tegalik dan menemukan bahwa Tana Tegalik merupakan jebakan menyerupai sungai buatan yang dibuat masyarakat saat itu untuk menjebak kapal lanun.
Petunjuk arah menuju Tanah Tegalik (Sumber: Dok. Pribadi)
Saya kembali penasaran dengan sebutan Lanun. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, Lanun berarti bajak laut atau perompak. Wow, ada bajak laut di Belitung? Ternyata cukup banyak cerita-cerita rakyat dari Belitung yang bercerita mengenai Lanun, dan rata-rata menceritakan bahwa Lanun merupakan kelompok bajak laut yang sangat ditakuti oleh masyarakat Belitung.
Kelompok ini digambarkan sebagai kelompok yang keji dan sering merampok rumah-rumah warga. Tidak hanya mereka yang berada di pesisir pantai, namun juga masyarakat yang tinggal di pedalaman Belitung dengan memanfaatkan sungai-sungai yang banyak terdapat di Belitung. Itulah sebabnya kemudian dibuat Tana Tegalik untuk menjebak para Lanun sehingga tidak dapat mencapai perkampungan warga pedalaman.
ADVERTISEMENT
Menurut sejarah, para Lanun berasal dari sebuah daerah bernama Lanoa di kepulauan Mindanao, Filipina. Setelah menguasai pantai barat Kalimantan, mereka memperluas daerah operasi mereka hingga ke Bangka dan Selat Sunda.
Terdapat banyak versi yang menceritakan sepak terjang para Lanun. Selain sebagai bajak laut, beberapa versi menyebutkan bahwa para Lanun tersebut merupakan prajurit laut Kerajaan Sriwijaya yang ditugaskan untuk menavigasi kapal-kapal yang membayar pajak ke Sriwijaya. Kapal yang tidak membayar pajak akan diserang dan karam di perairan Belitung.
Buku Kulek Terakhir, salah satu buku yang menceritakan mengenai Lanun di Belitung (sumber: Petabelitung.com)
Versi lainnya, suku Lanun pada awalnya adalah suku nelayan yang hidup damai dengan para pedagang dari India dan China. Namun pada saat kedatangan pedagang Eropa, yakni Portugis dan Belanda, suku Lanun tidak dapat menerima pola-pola yang dilakukan oleh para pedagang Eropa tersebut untuk mengeruk keuntungan dengan cara monopoli dan memaksa para penguasa Malaya untuk menerima harga yang mereka tentukan sendiri.
ADVERTISEMENT
Menurut Sutedjo Sujitno dalam buku Sejarah Timah terbitan tahun 1996, terdapat serangkaian serangan suku Lanun tehadap pedangan Eropa. Hal itu disebabkan oleh perasaan sakit hati suku Lanun terhadap pedagang Eropa, yang menyebabkan suku Lanun mencoba untuk keluar dari tekanan dan kesewenangan pedagang Eropa dengan menyerang kapal-kapal dagang Eropa. Serangan tersebut dilancarkan melalui Selat Malaka, perairan antara Palembang dan Lampung, pantai timur Bangka dan Pulau Belitung, Sambas hingga ke Pantai Barat Kalimantan,
Apapun versinya, sampai dengan saat ini, sekitar 2.000 keturunan Lanun tersebar di Belitung dan memegang peran penting dalam pemerintahan Belitung. Bahkan, Bupati Belitung periode 2014 – 2018, Sahani Saleh pun bergelar Tuk Lanun (pimpinan para tetua yang menguasai laut, berasal dari negeri Lanun atau Iranun). Sejarah Lanun juga tidak dapat dilepaskan dari sejarah Indonesia dengan “orang laut”nya. Tanpa “orang laut”, Indonesia tidak akan pernah mencapai kejayaannya. Untuk itu, sejarah tersebut harus terus diingat untuk terus memupuk semangat ke-Indonesia-an dan memajukan Indonesia.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan