Konten Media Partner

Classic Review: Perfect Blue, Film Satoshi Kon Paling Underrated

Play Stop Rewatchverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mima terjebak antara ilusi dan kenyataan (Foto: IMDb)
zoom-in-whitePerbesar
Mima terjebak antara ilusi dan kenyataan (Foto: IMDb)

Play Stop Rewatch, Jakarta - Jika mendengar nama Satoshi Kon, karyanya yang terlintas paling pertama adalah Paprika, anime yang menginspirasi Inception. Setelah film masterpiece-nya itu, ia langsung membuat film selanjutnya yang cukup tidak seterkenal karya lainnya, yaitu Perfect Blue.

Sama seperti Paprika, Satoshi Kon masih suka memainkan batas antara realita dengan fantasi ke dalam film ini. Kurang lebih, plot yang disampaikan hampir mirip dengan Black Swan (setelah menonton ini, Black Swan menjadi terlihat biasa saja), fokus kepada karakter utamanya yang mundur dari idol grup untuk mengejar karirnya di dunia akting.

Harus diingat bahwa latar waktu film ini masih berada di era 90an, di mana internet masih merupakan barang yang mewah pada saat itu. Dari awal hingga pertengahan, kita hanya disuguhkan konflik batin dari Mima mengenai apakah keputusan yang ia jalani sekarang ini benar atau tidak?

Mima syuting adegan pemerkosaan (Foto: IMDb)

Begitu memasuki pertengahan hingga akhir, cut-to-cut antara realita dan imajinasi yang dialami Mima semakin blur. Penonton dibuat bingung apakah kesuksesannya sekarang ini merupakan kenyataan atau hanya delusi semata. Walaupun secara plot sebenarnya sederhana, tapi bagaimana Satoshi Kon membawa kita untuk melihat halusinasi yang dialami Mima ini benar-benar menegangkan.

Judul Perfect Blue itu sendiri mengartikan bahwa warna biru menggambarkan perasaan melankolis, kesedihan, dan depresi yang mendalam. Selain itu, warna biru sendiri dalam dunia film merupakan istilah untuk mendeskripsikan fitur pornografis atau erotisme. Perfect Blue bukan film yang bertemakan demikian, tapi memang memiliki konten yang dewasa, apalagi ketika menyinggung bagaimana sulitnya syuting adegan pemerkosaan dari perspektif aktris wanita.

Warna merah yang mendominasi (Foto: IMDb)

Menariknya, dengan judul yang artinya warna biru itu tersebut lebih definitif digambarkan dengan warna merah. Jika kalian perhatikan secara detil, warna merah mendominasi dalam setiap adegan. Warna ini merupakan simbol untuk mengonstruksikan kesan darah, emosi cinta, passion, api, kekerasan, dan seksualitas.

Pada akhirnya, film ini menyinggung isu krisis identitas yang terjadi pada seorang manusia yang terobsesi dengan idolanya dan menjadi seperti idolanya. Tidak lupa memprediksi bahwa dampak internet dapat semembahayakan itu bagi public figure, yang mana memang sudah mulai terjadi di era informasi sekarang.

Jika kalian mencari sebuah film animasi yang menawarkan misteri dengan campuran psychological-thriller, mungkin Perfect Blue dan beberapa karya Satoshi Kon lainnya adalah jawabannya. Kita dibuat kagum akan karyanya melihat beberapa film animasinya ini dibuat pada era 90an hingga 2000an awal, namun sudah dapat berpikir jauh ke depan.

Penulis: Andri